Cari Artikel

Seorang Penyapu Masjid



Seorang lelaki atau perempuan berkulit hitam bertugas sebagai penyapu masjid. Suatu ketika Nabi SAW menanyakan keberadaannya karena dalam beberapa hari ia tidak kelihatan menyapu lagi. Salah satu dari sahabat menjawab, "Ya Rasulullah, ia telah meninggal."

Mungkin bagi para sahabat itu tidak penting untuk memberitahukan kepada Nabi SAW, karena ia hanyalah seorang berkulit hitam. Tetapi ternyata beliau berpendapat lain, beliau berkata,
"Mengapa kalian tidak memberitahu aku, tunjukkan padaku kuburnya!"

Mereka mengantar Nabi SAW ke kuburnya dan beliau shalat ghaib untuknya.

Kelebihan Berpuasa Pada Hari Asyura Dan Peristiwa Peristiwa Yang Terjadi Pada Hari Asyura



Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah SAW bersabda:
"Siapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah SWT akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan siapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah SWT akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan siapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah SAW yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka."

Lalu para sahabat bertanya Rasulullah SAW;
" Ya Rasulullah SAW, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?".
Maka berkata Rasulullah SAW;
" Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah SWT menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah SWT menenggelamkan Fir'aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub as pada hari Aasyura, Allah SWT menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah SWT mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah SWT mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura!".

Kekuatan Visi



Seorang mandor sedang memeriksa tiga orang tukang bangunan yang sedang bekerja. Tukang yang pertama ditanya oleh sang mandor,
”Pak, Apa yang sedang bapak kerjakan?”
Tukang tersebut menjawab singkat,
“Saya sedang menyusun batu bata, Den.” Demikian penjelasan tukang pertama, persis seperti apa yang memang sedang ia kerjakan yaitu menyusun batu bata.

Sang mandor kemudian beralih ke tukang yang kedua dan ia pun mengajukan pertanyaan yang sama,
“Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?”
Kali ini jawaban sang tukang sedikit berbeda,
“Saya sedang membangun sebuah tembok, Den.”
Bahkan tukang yang kedua inipun bisa menjelaskan panjang dan tinggi tembok tersebut serta di mana ia mulai dan kapan ia selesai membangunnya.

Terakhir, sang mandor menghampiri tukang yang ketiga dan kembali bertanya,
“Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?”
Maka tukang yang ketiga pun menjawab,
“Saya sedang membangun sebuah rumah yang sangat indah, Den.”
Selain itu, tukang yang ketiga ini pun bisa menjelaskan bentuk, ukuran dan warna rumah tersebut beserta bahan-bahan yang digunakan dalam membangun rumah tersebut. Lebih dari itu, tukang ketiga ini pun mampu mengilustrasikan aktivitas-aktivitas yang bakal terjadi di rumah tersebut.
“Pokoknya, rumah ini nantinya sangat bagus dan istimewa kalau sudah jadi, Den.”

Dari ketiga tukang tersebut, mana yang menurut Anda akan bekerja dengan lebih baik?

Jawabannya tentu saja tukang yang ketiga. Mengapa?

Apa yang membedakan tukang pertama, kedua, dan ketiga? Jawabannya adalah VISI.

Tukang yang pertama tidak memiliki visi. Baginya yang penting adalah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya yaitu menyusun batu-bata.

Tukang yang kedua sudah memiliki visi namun visi yang dimilikinya masih sebatas membangun tembok.

Sebaliknya, Tukang yang ketiga memiliki visi yang sangat jelas mengenai seperti apa rumah yang sedang dibangunnya itu. Bukan hanya itu, tukang yang ketiga ini pun menyadari sepenuhnya bahwa dirinya merupakan bagian dari visi tersebut.

Sepintas  perbedaan visi ini nampaknya tidak memberikan perbedaan. Toh, ketiga tukang tersebut tetap bekerja dengan baik.

Namun bila diperhatikan dengan teliti, semangat, ketekunan, ketelitian, dan gairah dari ketiga tukang di atas benar-benar berbeda.

Tukang yang pertama memulai pekerjaan dengan mengeluh. Pada saat bekerja, ia mengerjakan tugasnya tidak dengan sungguh-sungguh. Ketika batu-bata yang disusunnya kurang rapi, ia pun tidak berusaha membetulkannya kecuali bila ia ditegur oleh sang mandor. Beberapa saat sebelum waktunya pulang, tukang yang satu ini pun sudah membersihkan dirinya saat sang mandor memberitahu bahwa jam kerja sudah selesai, maka tukang ini pun segera bergegas meninggalkan tempat kerjanya.

Perilaku yang benar-benar berbeda diperlihatkan oleh tukang yang ketiga. Ia memulai pekerjaannya dengan riang gembira dan penuh semangat karena ia sudah memiliki gambaran mengenai keindahan rumah tersebut. Ia berusaha memasang batu bata yang disusunya serapi mungkin. Seandainya terdapat batu bata yang kurang rapi susunannya maka ia pun segera membetulkannya.

Selain itu, sebelum pulang, ia pun selalu menyempatkan diri memeriksa hasil pekerjaannya.  Karena itu, tidaklah mengherankan apabila tukang yang ketiga memberikan hasil kerja yang lebih memuaskan dibandingkan tukang yang pertama.

Filosofi Semut



Marilah kita belajar kebijakan dari semut.

Semut bekerja keras di masa sulit, agar hidup tercukupi di masa yang lebih sulit.

Semut tidak mengeluh, tidak ada yang bersantai ria saat semut yang lain bekerja.

Semut mengutamakan kerjasama daripada sok bossy dan merasa lebih keren sendiri.

Semut tidak mengharapkan pemberian mudah, dan tidak marah kalau tidak ada yang memberinya gratisan.

Semut tidak malas, tidak suka menunda, tidak menyalahkan orang lain atas kesulitan hidup, dan patuh kepada fitrahnya yang baik.

    Marilah kita menjadi manusia yang hidup penuh penghormatan kepada diri sendiri. Marilah kita hidup dengan sepenuhnya.

Kentang, Telur Dan Biji Kopi



Pada suatu hari, ada seorang anak perempuan yang mengeluh kepada ayahnya bahwa hidupnya sengsara dan bahwa dia tidak tahu bagaimana dia akan berhasil. Dia lelah berjuang dan berjuang sepanjang waktu. Tampaknya hanya salah satu dari masalahnya yang dapat ia selesaikan, kemudian masalah yang lainnya segera menyusul untuk dapat diselesaikan.

Ayahnya yang juga seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air dan menaruhnya di atas api yang besar. Setelah tiga panci tersebut mulai mendidih, ia memasukkan beberapa kentang ke dalam sebuah panci, beberapa telur di panci kedua, dan beberapa biji kopi di panci ketiga.

Kemudian ia duduk dan membiarkan ketiga panci tersebut di atas kompor agar mendidih, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kepada putrinya. Putrinya mengeluh dan tidak sabar menunggu, bertanya-tanya apa yang telah ayahnya lakukan.

Setelah dua puluh menit, ia mematikan kompor tersebut. Ia mengambil kentang dari panci dan menempatkannya ke dalam mangkuk. Ia mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk.

Kemudian ia menyendok kopi dan meletakkannya ke dalam cangkir. Lalu ia beralih menatap putrinya dan bertanya,
“Nak, apa yang kamu lihat?”
“Kentang, telur, dan kopi,” putrinya buru-buru menjawabnya.
“Lihatlah lebih dekat, dan sentuh kentang ini”, kata sang ayah. Putrinya melakukan apa yang diminta oleh ayahnya dan mencatat di dalam otaknya bahwa kentang itu lembut.
Kemudian sang ayah memintanya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapatkan sebuah telur rebus. Akhirnya, sang ayah memintanya untuk mencicipi kopi. Aroma kopi yang kaya membuatnya tersenyum.
“Ayah, apa artinya semua ini?” Tanyanya.

Kemudian sang ayah menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi masing-masing telah menghadapi kesulitan yang sama, yaitu air mendidih.
Namun, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Kentang itu kuat dan keras. Namun ketika dimasukkan ke dalam air mendidih, kentang tersebut menjadi lunak dan lemah.
Telur yang rapuh, dengan kulit luar tipis melindungi bagian dalam telur yang cair sampai dimasukkan ke dalam air mendidih. Sampai akhirnya bagian dalam telur menjadi keras.
Namun, biji kopi tanah yang paling unik. Setelah biji kopi terkena air mendidih, biji kopi mengubah air dan menciptakan sesuatu yang baru."
“Kamu termasuk yang mana, nak?” tanya sang ayah kepada putrinya.

“Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana caramu dalam menghadapinya? Apakah kamu adalah sebuah kentang, telur, atau biji kopi?”

    Dalam hidup ini, Banyak sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Banyak hal-hal yang terjadi pada kita. Tetapi satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah apa yang terjadi di dalam diri kita. Jadi, manakah diri anda? Apakah anda adalah sebuah kentang, telur, atau biji kopi?