Cari Artikel

Bidadari Untuk Umar RA



Umar ra adalah salah satu dari sahabat Rasulullah SAW. Semenjak ia memeluk islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani shalat dan thawaf di ka'bah secara terang-terangan.
Umar ra adalah seorang yang wara', ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar ra mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah SAW,
"wahai Rasulullah SAW apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya"
Rasulullah SAW menjawab, "sudah..."!

Umar ra mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah SWT. Karena kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Qur'an yang diturunkan Allah SWT berdasarkan kehendak yang ada pada hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa ayat Al-Qur'an lainnya.
Rasulullah SAW seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi'raj menghadap Allah SWT. Beliau SAW sering pula menceritakan bagaimana keadaan surga yang dijanjikan Allah SWT kepada sahabat-sahabatnya.

Suatu hari ketika Rasulullah SAW dimi'rajkan menghadap Allah SWT malaikat Jibril AS memperlihatkan kepada Beliau SAW taman-taman surga. Rasulullah SAW melihat ada sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu.
Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril AS,
"wahai Jibril AS bidadari siapakah itu"?
Malaikat Jibril AS menjawab,
"Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu Umar ra.
Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya.
Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu.
Karena sahabat-mu itu selalu memenuhi kehendak Allah SWT maka saat itu juga Allah SWT menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya".

Al-Qur’an Sebagai Pembela Di Hari Akhirat



Abu Umamah RA berkata: "Rasulullah SAW telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al Quran, setelah itu Rasulullah SAW memberitahu tentang kelebihan Al Quran".

Telah bersabda Rasulullah SAW:
"Belajarlah kamu akan Al Quran, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya. Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnyanya dan ia bertanya, "Kenalkah kamu kepadaku?" Dan orang yang pernah membaca akan menjawab: "Siapakah kamu?"
Maka berkatalah Al Quran: "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari". Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al Quran itu: "Adakah kamu Al Quran?" Lalu Al-Quran mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah SWT.
Lalu orang itu di beri kerajaan di tangan kanan dan akan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim di beri perhiasan yang tidak dapat di tukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya: "Dari manakah kami memperoleh ini semua, padahal amal kami tidak sampai segini?" Lalu di jawab: "Kamu di beri ini semua karena anak kamu telah membaca dan mempelajari Al Quran (amal jariyah)".

Ammar Bin Yasir RA



Ammar bin Yasir merupakan sahabat as sabiqunal awwalin, kelompok sahabat yang terdahulu memeluk Islam. Tidak tanggung-tanggung, setelah memeluk Islam, ia berhasil mengajak ibu dan ayahnya memproleh hidayah yang sama. Ayahnya, Yasir bin Amir adalah perantau dari Yaman yang bersahabat dengan Abu Hudzaifah bin Mughirah, dan dinikahkan dengan sahayanya, Sumayyah bin Khayyath.

Karena mereka ini, Ammar dan kedua orang tuanya, termasuk keluarga miskin, kaum Quraisy menjadikan mereka sebagai sasaran penyiksaan karena pilihan mereka memeluk Islam. Bani Makhzum, tempat mereka berlindung selama ini sangat marah ketika mengetahui mereka telah murtad dari agama nenek moyangnya. Penyiksaan demi penyiksaan dilakukan tanpa kasihan kepada keluarga ini, tetapi semua itu tidak menambahkan kecuali keimanan dan keyakinan kepada agama barunya, Islam. Dibiarkan di terik matahari padang pasir, didera, disulut dengan api menyala, dan berbagai tindakan mengerikan di luar peri kemanusiaan diberlakukan kepada mereka untuk mengembalikan kepada agama jahiliahnya, tetapi sia-sia saja.

Suatu ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka bertiga yang sedang disiksa, beliau mengagumi ketabahan dan kerelaan mereka menerima penderitaan ini demi untuk mempertahankan keislamannya.
Ketika Ammar berkata kepada beliau,
"Wahai Rasulullah, adzab yang kami derita telah sampai pada puncaknya…"
Nabi SAW bersabda untuk menentramkan jiwanya,
"Sabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga…!"

Ketika Abu Jahal ikut melakukan penyiksaan, ia begitu jengkel dan putus asa terhadap Sumayyah. Seorang budak wanita yang hina (dalam pandangan Abu Jahal dan masyarakat Quraisy saat itu) seperti dirinya, berdiri tegar seakan menantang kesombongan tokoh besar Quraisy tersebut. Karena tidak tertahankan lagi kejengkelannya, Abu Jahal mengambil tombak dan menusuk Sumayyah dari selangkangan hingga tembus ke punggungnya, jadilah ia syahid pertama dalam Islam. Tidak berapa lama, ayahnya, Yasir bin Amir juga meninggal dalam penyiksaan orang-orang kafir Quraisy.

Kematian orang tuanya akibat siksaan tersebut tidak menyebabkan ia berubah pikiran, bahkan makin meneguhkan pendiriannya. Siksaan pun makin ditingkatkan, dibakar dengan besi panas, disalib, ditenggelamkan dalam air hingga ia sesak nafas, dan lain-lainnya. Suatu ketika Ammar dibakar dengan api yang membara, kebetulan saat itu Nabi SAW datang mengunjunginya. Beliau memegang kepala Ammar dan berkata,
"Hai api, jadilah kamu sejuk dan selamatkanlah Ammar, sebagaimana dulu kamu menjadi sejuk dan menyelamatkan bagi Ibrahim…!!"

Seketika itu Ammar tidak lagi merasakan panasnya api yang menerpa tubuhnya, maka makin kokoh dan tegar saja jiwanya dalam keimanan dan keislaman, walau adzab dan siksaan kaum Quraisy makin ditingkatkan.

Suatu ketika Ammar disiksa sedemikian rupa sehingga hampir tak sadarkan diri, dalam keadaan seperti itu ada yang menuntun ucapannya untuk memuja-muja berhala kaum Quraisy, dan tanpa disadarinya ia mengikuti ucapan-ucapan tersebut. Saat ia menyadari semuanya itu, ia menangis sejadi-jadinya, seolah-olah dunia kiamat baginya, dan siksaan demi siksaan pun tak lagi terasa berat baginya. Jauh lebih berat kedukaan dan ketakutannya karena telah mengucapkan kata-kata yang bisa mencabut imannya, menyengsarakan kehidupannya di akhirat kelak.

Dalam puncak kesedihan yang serasa tidak tertahankan, datanglah Rasulullah SAW. Beliau memang telah mendengar berita tentang apa yang diucapkan oleh Ammar, dan atas peristiwa tersebut, turunlah surah An Nahl ayat 106. Beliau datang sendiri menemui Ammar, dengan penuh santun dan kasih beliau menghibur dan menenangkannya sambil menyampaikan firman Allah SWT tersebut. Beliau berkata kepada Ammar,
"Orang-orang kafir menyiksa dan menenggelamkanmu sehingga engkau mengatakan begini dan begini…"
"Benar, ya Rasulullah," Kata Ammar sambil meratap penuh kesedihan.
"Tidak mengapa, jika mereka memaksamu, katakanlah seperti itu… sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan ayat: … kecuali orang-orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan..."

Hati Ammar menjadi tentram dengan penjelasan Nabi SAW tersebut. Pada akhirnya, sebagaimana kebanyakan budak-budak lain yang disiksa tuannya karena pilihannya memeluk Islam, Abu Bakar membeli Ammar dari kabilah Bani Makhzum dan memerdekakannya.

Begitu tegar dan kokohnya Ammar mempertahankan imannya, walau cobaan dan siksaan terus dialaminya, sehingga Nabi SAW sangat sayang kepadanya. Beliau bersabda tentang dirinya,
"Diri Ammar dipenuhi oleh keimanan sampai ke tulang sum-sumnya…"

Pernah terjadi selisih faham antara Ammar dan Khalid bin Walid, pahlawan Islam yang digelari Nabi SAW Pedang Allah, maka beliau bersabda,
"Siapa yang memusuhi Ammar, dia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci Ammar, maka dia akan dibenci Allah…"
Untunglah Khalid bin Walid seorang yang cerdas dan berjiwa besar, mendengar sabda Nabi SAW ini segera ia menemui Ammar dan meminta maaf atas kekhilafannya. Kedudukannya di masa lalu sebagai salah satu pemuka kabilahnya dan Ammar hanya sebagai budak, tidak menghalanginya untuk merendahkan diri dan meminta maaf. Semua itu ringan dilakukannya karena Khalid lebih menghendaki keridhaan Allah SWT, daripada sekedar mempertahankan gengsi dan prestisenya di masa lalu. Dan Ammar-pun dengan senang hati memaafkannya.

Pernah juga terjadi salah seorang sahabat menghujat Ammar, karena ia bekerja (atau kerja bakti ketika membangun Masjid Nabi) sambil mendendangkan syair, sehingga terjadi perselisihan. Mendengar berita tersebut, Nabi SAW bersabda,
"Apa maksud mereka terhadap Ammar? Diserunya mereka ke dalam surga, sedang mereka mengajaknya ke dalam neraka… Sungguh, Ammar adalah biji mataku sendiri..!!"
Tentulah bukan maksud dan keinginan Ammar untuk memperoleh pujian-pujian tersebut. Bahkan sesungguhnya ia adalah seorang yang pendiam, tidak banyak bicara. Kontras sekali dengan penampilan fisiknya yang tinggi besar, berdada bidang dan bermata biru, ia justru lebih sering menyembunyikan diri dan tidak ingin menonjolkan dirinya sendiri. Ia telah merasakan bagaimana beratnya mempertahankan iman, karena itu ia ingin mengisi waktu-waktunya dengan ibadah demi ibadah. Istilah populernya sekarang ia membenci NATO (No Action Talk Only).

Karena itu pula, Nabi SAW pernah pula bersabda tentang dirinya,
"Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti, Abu Bakar dan Umar.., dan ambillah pula hidayah yang dipakai Ammar untuk jadi bimbingan…"

Ammar tidak pernah absen menerjuni perjuangan dan jihad bersama Rasulullah SAW, begitu juga perjuangan dengan beberapa khalifah sesudah beliau wafat. Dalam perang Yamamah, pertempuran melawan pasukan nabi palsu, Musailamah al Kadzdzab, ketika kaum muslimin porak-poranda dan ada yang melarikan diri. Ammar berdiri di atas sebuah batu dan berseru keras,
"Wahai kaum muslimin, apakah kalian ingin lari dari jannah? Aku adalah Ammar bin Yasir, apakah kalian melarikan diri dari jannah? Marilah bersamaku…"

Saat itu kondisi Ammar sendiri juga terluka, bahkan telinganya hampir putus dan tergantung terkena sabetan pedang musuh. Mendengar seruan Ammar tersebut, mereka berkumpul kembali untuk menyusun kekuatan dan bersama Ammar mereka kembali menahan gempuran pasukan musuh.

Pada masa khalifah Umar, Ammar diangkat sebagai amir (wali negeri) di Kufah dan wazirnya adalah Abdullah bin Mas'ud. Jabatan tersebut tidaklah menambah kecuali zuhud, kesalehan dan juga kerendahan hatinya. Ia tak segan membeli sayur di pasar kemudian memanggulnya sendiri. Dan sebagaimana yang dilakukan Salman al Farisi, setelah menerima gaji (tunjangan)nya sebagai amir, ia membagi-bagikan semuanya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Untuk menunjang kebutuhan hidupnya, ia menjalin (membuat) bakul dan keranjang dari daun kurma dan menjualnya ke pasar.

Sepeninggal khalifah Umar bin Khaththab, yang mana Nabi SAW pernah menyebut Umar sebagai "kunci (gembok) Fitnah", mulai terjadi fitnah dan perselisihan di antara umat Islam. Dalam keadaan seperti ini, para sahabat selalu mengamati Ammar bin Yasir. Hal ini berawal dari sebuah peristiwa di masa awal hijrah ke Madinah, ketika sedang membangun Masjid Nabawi. Saat itu, sisi dinding di mana Ammar dan beberapa sahabat lainnya sedang bekerja tiba-tiba runtuh dan menimpa Ammar. Pada saat yang sama, Nabi SAW sedang mengamati Ammar, kemudian beliau bersabda, "Aduhai ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka…"

Para sahabat yang mendengar sabda beliau itu menyangka beliau sedang meratapi kematian Ammar karena tertimbun dinding yang runtuh. Karena itu mereka menjadi ribut dan panik atas musibah yang dialami Ammar. Nabi SAW yang tanggap reaksi para sahabat tersebut, sekali lagi bersabda untuk menenangkan mereka,
"Tidak apa-apa, Ammar tidak apa-apa… hanya saja, nantinya ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaka!!"

Jelas dan lugas, Nabi SAW tidak menyebut, "Ammar dibunuh kaum kafirin, musyrikin atau musuh Allah." Tetapi beliau menyebutnya, "Kaum/golongan pendurhaka (fi-atul baaghiyah)," masih kaum muslimin, tetapi mereka yang durhaka dan menyalahi ajaran Islam. Seperti halnya anak yang durhaka kepada orang tuanya, ia tidak menjadi kafir, tetapi berdosa besar dan terancam laknat Allah, kecuali jika Allah mengampuninya.

Fitnah makin memuncak ketika khalifah Utsman terbunuh. Para sahabat utama Nabi SAW yang masih hidup dan mayoritas umat Islam lainnya memba'iat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan. Tetapi Muawiyah dan masyarakat Syam pada umumnya menolak untuk memba'iat Ali, bahkan ia yang sebelumnya hanya gubernur yang membawahi wilayah Syam, mengangkat dirinya sendiri sebagai khalifah menggantikan khalifah Utsman, yang memang masih kerabat dekatnya.
Dengan dalih menuntut balas kematian Utsman bin Affan, Muawiyah menggalang dukungan untuk mengukuhkan jabatannya tersebut. Dalam situasi konflik seperti ini, beberapa sahabat sempat mendukung Muawiyah, sebagian besar lainnya mendukung Ali bin Abi Thalib, dan ada juga sekelompok kecil sahabat yang abstain, tidak memihak keduanya, dan tidak ingin terjatuh pada perselisihan tersebut.

Ketika berbagai upaya damai yang dilakukan Ali bin Thalib gagal, tidak terelakkan lagi terjadinya bentrok senjata, yang terkenal dengan nama perang Shiffin. Dan Ammar bin Yasir, dengan segala ijtihad dan pengenalannya akan kebenaran, memilih untuk berdiri di pihak Ali bin Abi Thalib. Dengan pilihannya tersebut, para sahabat yang mendukung Ali bin Abi Thalib merasa tenang tentram, karena mereka meyakini sabda Nabi SAW, bahwa bersama Ammar bin Yasir, mereka berada pada pilihan yang benar. Sementara sahabat yang berdiri di fihak Muawiyah merasa was-was dan penuh keraguan.

Setelah berperang beberapa lama dalam perang Shiffin, ia menemui Ali bin Abi Thalib dan berkata,
"Wahai Amirul Mukminin, pada hari ini, dan itukah?"
Yang dimaksud oleh Ammar adalah tentang sabda Nabi SAW: 
"Aduhai Ibnu Sumayyah, ia akan dibunuh olehgolongan pendurhaka".
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ali dengan bijak berkata,
"Tinggalkanlah urusan tersebut…"

Tetapi Ammar mengulang pernyataannya, dan Ali memberi jawaban yang sama pula sampai tiga kali. Kemudian Ali memberi minuman susu kepada Ammar, susu kental yang dicampur sedikit air. Setelah minum susu tersebut ia berkata,
"Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku bahwa seperti inilah minuman terakhir yang aku minum di dunia."
Ali jadi terkejut, ia tidak tahu menahu sabda Nabi SAW tentang minuman terakhir Ammar, dan tidak juga menjadi Rahasia Umum seperti tentang siapa pembunuh Ammar. Mungkin itu menjadi rahasia pribadi Ammar dan Rasulullah SAW semata. Dan jalannya takdir Allah memang tidak bisa dihalangi lagi jika telah tiba waktunya.

Setelahitu Ammar terjun kembali dalam pertempuran. Di tengah pertempuran tersebut, Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf sempat mendengar seruan Ammar,
"Sesungguhnya aku telah bertemu dengan Al Jabbar (yakni, Allah SWT), dan aku telah dinikahkan dengan bidadari. Pada hari ini aku akan bertemu dengan kekasihku, Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Beliau telah berjanji kepadaku, bahwa akhir bekalku di dunia ini adalah susu kental yang dicampur dengan sedikit air…."

Memang, setelah itu Ammar tidak minum atau makan apapun lagi dan ia terjun ke medan pertempuran. Saat itu Ammar berjuang bersebelahan dengan Hasyim bin Utbah yang membawa bendera, dan akhirnya mereka menemui syahidnya bersama.

Rasulullah SAW Mendatangi Kafilah Dagang



Dari kejauhan gumpalan debu padang pasir membumbung ke langit. Debu-debu yang berterbangan itu dapat terlihat dari kejauhan bertanda ada satu rombongan kafilah akan datang mendekati kota Mekkah.

Rasulullah SAW melihat gumpalan debu dari kejauhan itu segera pulang ke rumah. Beliau SAW langsung menyiapkan perbekalan dan membungkusnya.

Setelah itu Rasulullah SAW menunggu di pintu gerbang kota Mekkah. Kafilah itu rupanya tidak memasuki kota Mekkah mereka hendak menuju tempat lain.

Rasulullah SAW mendekati kafilah itu dan mencari pimpinan rombongan kafilah tersebut.
Setelah berjumpa dengan pemimpin kafilah itu Rasulullah SAW meminta izin untuk dapat ikut serta di dalam rombongan tersebut.

Beliau SAW telah diizinkan. Rasulullah SAW mulailah berda'wah kepada mereka, kepada setiap orang dalam rombongan itu Rasulullah SAW telah sampaikan kebesaran Allah SWT dan
mengajak mereka untuk menerima Islam.

Setelah semua orang mendapat penjelasan dari Rasulullah SAW, Beliau SAW pun meminta izin kepada pimpinan rombongan untuk pulang kembali ke Mekkah.

Rasulullah SAW kembali ke kota Mekkah dengan berjalan kaki sedangkan kafilah tersebut telah melalui kota Mekkah sejauh satu hari satu malam perjalanan. Rasulullah SAW hanya inginkan setiap orang memiliki kalimah Laalilaahaillallaah dan selamat dari adzab yang pedih kelak di akhirat.

Karena Kesabaran Menghadapi Istrinya



Seorang yang shaleh mempunyai saudara yang tempat tinggalnya sangat jauh, karena itu jarang sekali ia bisa mengunjunginya. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, ia datang mengunjunginya. Tetapi tampak rumahnya tertutup, maka ia mengetuk pintunya dan mengucap salam. Terdengar suara ketus seorang wanita dari dalam rumah, yang mungkin istrinya,
“Siapa??”
Ia berkata,
“Aku saudara suamimu, datang dari jauh untuk menjenguknya!!”
Tanpa membukakan pintu, terdengar suaranya yang ketus lagi,
“Ia masih pergi mencari kayu, semoga saja Allah tidak mengembalikannya lagi ke sini….”
Kemudian masih diteruskan dengan berbagai macam caci-maki kepada saudaranya itu. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Ia tahu betul bahwa saudaranya itu juga shaleh seperti dirinya, karena memang begitulah kedua orang tuanya dahulu mendidiknya. Segala macam umpatan dan cacian itu mungkin salah sasaran kalau ditujukan kepada saudaranya itu.

Ia memutuskan untuk menunggu dan tidak berapa lama saudaranya itu datang. Saudaranya itu memang mencari kayu, tetapi ia tidak membawanya sendiri, seekor harimau yang cukup besar berjalan di belakangnya sambil menggendong kayu tersebut. Setelah kayu diturunkan dari punggung sang harimau, saudaranya itu berkata,
“Pergilah, semoga Allah memberkahi dirimu!!”

Harimau itu berlalu pergi dengan patuhnya, dan pemandangan itu membuatnya terkagum-kagum. Tampaknya saudaranya itu telah mencapai maqam yang cukup tinggi di sisi Allah, hingga mempunyai karamah bisa memerintah binatang buas.

Saudaranya itu mengajaknya masuk, dan meminta dengan lemah lembut kepada istrinya untuk menyiapkan makanan bagi mereka. Sang istri memenuhi perintahnya dengan sikap yang kasar, dan mulutnya tidak henti-hentinya mengomel. Sebaliknya, ia melihat saudaranya itu hanya diam dan terlihat sangat lapang, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sama sekali tidak ada sikap marah dan tersinggung dengan perkataan istrinya yang sangat menusuk perasaan, bahkan tampak sekali saudaranya itu nyaman dan bahagia dengan keadaaannya. Karena itu ia urung untuk menanyakan keadaan rumah tangganya, seperti keinginannya semula.
Dengan keadaan seperti itu, ia tidak ingin berlama-lama untuk tinggal. Ia pamit pulang, tetapi sepanjang perjalanan tidak habis-habisnya ia memikirkan keadaan saudaranya itu. Di satu sisi ia mempunyai karamah yang begitu mengagumkan, tetapi di sisi lainnya, ia menghadapi sikap istrinya yang begitu buruk.

Beberapa tahun berlalu dan tidak bertemu, ia datang lagi mengunjungi saudaranya itu. Sampai di rumahnya yang tampak tertutup, ia mengetuk pintunya dan mengucap salam. Maka terdengar suara seorang wanita, yang mungkin adalah istri saudaranya itu,
“Siapa??”
Kali ini suara itu begitu lembut dan santun, sangat berlawanan suara wanita bertahun sebelumnya. Ia berkata,
“Aku adalah saudara suamimu, datang dari jauh untuk menjenguk keadaannya!!”
Suara santun wanita itu terdengar lagi,
“Selamat datang, suamiku sedang mencari kayu di hutan. Silahkan untuk menunggu, tetapi mohon maaf aku tidak bisa membukakan pintu hingga suamiku pulang!!”
Ia berkata,
“Tidak mengapa, biar saja aku menunggu di luar!!”

Kemudian ia terlibat pembicaraan singkat lewat pintu yang tertutup, dan istri saudaranya itu memuji-muji kebaikan dan keshalehan suaminya itu setinggi langit, dan menyatakan rasa syukurnya karena bisa menjadi istrinya.

Tidak lama kemudian saudaranya itu datang, tetapi yang mengherankannya tidak ada harimau yang membawakan kayunya seperti dahulu. Ia memikul sendiri tumpukan kayu tersebut, tampak kelelahan dan keringat mengalir di wajahnya, tetapi masih dengan kelapangan dan rasa bahagia yang sama seperti bertahun sebelumnya. Mendengar suaranya itu, sang istri langsung membuka pintu dan menyambut kedatangannya dengan santun dan hormatnya.

Saudaranya itu mengajaknya masuk, dan ternyata makanan telah terhidang, maka mereka langsung menyantap makanan yang disediakan istrinya tersebut. Sambil makan ia berkata,
“Wahai saudaraku, apakah yang terjadi? Apakah engkau telah kehilangan karamahmu yang dahulu?”
Masih dengan kelapangan hati dan pancaran rasa bahagia yang sama seperti bertahun sebelumnya, saudaranya itu berkata,
“Wahai saudaraku, dahulu itu Allah SWT memberikan istri yang cerewet dan rendah akhlaknya kepadaku, dan aku ikhlas menerimanya. Karena kesabaranku menghadapinya, maka Allah mendatangkan harimau untuk membantuku. Beberapa bulan yang lalu istriku yang cerewet itu meninggal, dan sejak itu pula harimau itu tidak membantuku lagi, dan aku harus memikul sendiri kayu-kayu itu. Namun demikian, Allah tetap memberikan karamah lainnya kepadaku, yakni istri yang cantik dan masih muda, serta sangat baik akhlaknya dan tekun ibadahnya!!” 

Dalam riwayat lain disebutkan, saudaranya yang saleh itu adalah seorang pandai besi. Ia mencari kayu untuk membakar besi-besi yang diolahnya. Ketika ia masih beristri yang cerewet dan ia bersabar atasnya, bukan hanya harimau yang membawakan kayunya, tetapi ia memegang besi yang dibakarnya langsung dengan tangannya. Tetapi ketika Allah telah menggantinya dengan istri yang salehah, cantik, masih muda dan berakhlaqul karimah, ia harus memegang besi yang dibakarnya dengan penjepit, kalau tidak tangannya akan melepuh.