Cari Artikel

Anak Perempuan Hitam Bekas Budak



Anak perempuan hitam ini adalah budak dari seorang Arab yang telah dimerdekakan oleh tuannya, tetapi tetap tinggal bersama dan bekerja kepada mereka.

Suatu ketika anak tuannya keluar dengan memakai selendang kulit warna merah, tetapi selendang merah tersebut hilang entah kemana. Mereka pun mencari-cari, ketika tidak ditemukan mereka menuduh anak perempuan hitam itu yang mencurinya. Anak perempuan hitam ini diperiksa dengan teliti, bahkan sampai kemaluannya diperiksa, tetapi tidak diketemukan karena ia memang tidak mencurinya.

Ketika sedang sibuk memeriksa tersebut, tiba-tiba lewatlah seekor burung elang dan menjatuhkan selendang merah tersebut di hadapan mereka. Mungkin anak tuannya itu menjatuhkan selendang tersebut tanpa sengaja, dan burung elang mengambilnya karena disangka sebagai daging yang segar. Seketika anak perempuan hitam itu berkata, "Inilah yang anda semua tuduhkan kepadaku sedangkan aku tidak bersalah apa-apa, inilah dia, inilah dia…"

Ia merasa ada keajaiban dalam peristiwa ini, elang tersebut datang tentunya atas perintah Allah SWT, dan ini tidak terlepas dari hadirnya seorang nabi yang tidak membeda-bedakan kedudukan, derajad dan warna kulit. Ia berpamitan keluar atau pindah dari rumah bekas tuannya tersebut dan menemui Nabi SAW untuk memeluk Islam. Ia mendapat tempat tinggal (berdiam) di salah satu serambi masjid dan sering berbincang-bincang dengan istri tercinta Nabi SAW, Aisyah RA. Dan ia selalu mengenang peristiwa tersebut dengan berkata,
"Dan hari selendang itu adalah keajaiban dari Allah, dan peristiwa itu telah melepaskan aku dari belenggu kekafiran…"

Tiga Pelajaran Berharga



Seorang pemburu memasuki hutan untuk mencari binatang yang bisa dipakai untuk makan keluarganya hari itu. Tetapi tidak seperti biasanya, ia tidak menemukan binatang yang cukup besar, yang bisa mengobati rasa lapar keluarganya. Dalam kebingungannya itu, ia melihat seekor burung dan berhasil menangkapnya. Lumayan untuk pengganjal perut sambil mencari buruan yang lebih besar, begitu mungkin pemikirannya.

Tetapi tanpa disangkanya, tiba-tiba burung itu berbicara layaknya manusia,
“Apa yang engkau inginkan dengan menangkapku ini??”
Pemburu itu berkata,
“Aku akan menyembelih dan memakanmu!!”
Burung itu berkata,
”Itu tidak akan menyelesaikan masalah, aku tidak akan bisa mengobati rasa laparmu!! Tetapi aku akan memberikan tiga pelajaran berharga kepadamu, pertama saat aku ada di tanganmu (masih di tangkap), kedua saat aku berada di atas pohon, dan ketiga saat aku telah ada di atas bukit.”

Sang pemburu yang memang cukup penasaran dengan adanya burung yang bisa berbicara itu, langsung saja berkata,
“Jelaskanlah pelajaran yang pertama!!”
Sang burung berkata,
“Janganlah engkau merasa sedih dan menyesal dengan sesuatu yang telah lepas darimu….!!”

Sejenak sang pemburu merenungi ucapannya itu, kemudian berkata,
“Apakah pelajaran yang kedua??”
Sang burung berkata,
“Lepaskan dulu aku!!”
Si pemburu segera melepaskannya, dan burung itu hinggap di atas dahan, lalu berkata,
“Wahai manusia, janganlah engkau meyakini bahwa sesuatu itu ada, padahal hakekatnya tidak ada!!”

Kemudian burung itu terbang lebih jauh dan hinggap di bukit. Tanpa diminta burung itu berkata lagi,
“Wahai manusia, andaikata engkau jadi menyembelih diriku, engkau akan menemukan dua intan di paruhku, yang masing-masing beratnya 77,88 gram…!!”

Pemburu itu terkejut mendengar perkataan sang burung, ia sangat sedih dan menyesal, tetapi tidak mungkin ia menangkapnya lagi karena burung itu telah cukup jauh di atas bukit. Tetapi, seperti teringat sesuatu, ia berkata,
“Wahai burung, apakah pelajaran ketiga yang engkau janjikan??”
Burung itu tertawa dan berkata,
“Wahai manusia, baru saja engkau memperoleh dua pengajaran, dan dalam sesaat ini engkau telah melanggar (melupakan)nya. Mengapa pula engkau bersedih telah melepaskanku? Dan bagaimana mungkin engkau begitu saja mempercayai ada dua butir intan di paruhku? Berat tubuhku tidak sampai 77,88 gram, bagaimana bisa ada dua intan masing-masing beratnya 77,88 gram?”

Sang pemburu tampak termangu-mangu mendengarnya, kemudian sang burung berkata lagi,
“Itulah gambaran kehidupan dunia, suka atau tidak, sengaja atau tidak, pada akhirnya engkau harus melepaskannya juga. Begitu juga dengan segala janji keindahan dan kenikmatannya, pada hakekatnya hanya tipuan semata. Karena itu, berupayalah dengan sungguh-sungguh untuk meraih sesuatu yang engkau tidak akan pernah terlepas darinya, dan sesuatu yang kenikmatannya akan selalu engkau rasakan tanpa akhir!!”

Kata Mutiara Persahabatan Dan Cinta




1951. Sesuatu yang sulit ketika kamu harus berpura-pura tersenyum, hanya karena tak ingin dia tahu, dia adalah alasan kamu bersedih.

1952. Kamu tak perlu menemukan sahabat yang paling menyenangkan, kamu hanya perlu menemukan sahabat yang setia.

1953. Mungkin itu sederhananya cinta. Ketika orang lain melakukan kesalahan padamu, ingatkan dia, maafkan kemudian mohonkan ampunan tuhan untuknya.

1954. Mereka yang membencimu hanya buktikan bahwa hidupmu lebih baik dari mereka.

1955. Percaya pada tuhan saat semua terasa mudah, itu biasa. Percaya pada tuhan saat semua terasa susah, itu luar biasa.

1956. Jika tak cinta, katakan saja. Jangan memberi harapan hampa, karena seseorang akan terluka.

1957. Geografis menjadikan kita tetangga. Sejarah telah menjadikan kita sahabat. Ekonomi telah menjadikan kita partner, dan kebutuhan telah menjadikan kita sekutu.

1958. Sejarah adalah maha yang tak berbelas kasihan. Ia tak memiliki hadiah apapun, hanya menyibukkan masa lalu terhadap masa depan.

1959. Mereka yang berani gagal total dapat mencapai keberhasilan besar.

1960. Ketidak tahuan seorang pemilih dalam demokrasi merusakkan semua jenis keamanan.

1961. Siapapun pasti bisa, hanya niat dan kemauan yang jadi penentunya.

1962. Hidup memang penuh tantangan, terkadang kita berada di atas dan tak jarang juga kita berada di bawah. Akan tetapi, yang terpenting adalah kita harus kerja keras dan memiiki cinta agar kehidupan menjadi lebih berwarna.

1963. Banyak orang mengatakan bahwa waktu adalah uang. Benar, waktu adalah uang. Namun sebaiknya sisihkan waktu teman-teman di akhir pekan untuk keluarga. Inilah waktu emas teman sekalian untuk menjalin kebersamaan dengan orang-orang yang di cintai.

1964. Kedewasaan adalah pengendalian diri. Sementara menunggu dia menyukai Anda, jangan buat diri Anda tidak menarik bagi pribadi baik yang lain.

1965. Kerinduanku sedikit terdamaikan karena ku sadari bahwa malam ini, kita tidur di bawah langit yang sama.

1966. Lebih baik kau temukan ketidak-setiaannya sekarang, daripada nanti.

1967. Luka karena cinta tidak mencacatkan, tapi menuntunmu untuk mengenali keindahan asli dari jiwamu.

1968. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan sebaliknya. Keindahan jiwamu, menentukan keindahan belahan jiwamu.

1969. Ditolak adalah kesempatan untuk mencintai lagi. Masih banyak kebahagiaan di luar sana, mengapa memilih bersedih?

1970. Terkadang kamu harus mnutup pintu hati sementara untuk sekedar meyakinkan dirimu bahwa hanya dai yang tepat boleh membukanya.

1971. Sesungguhnya, tidak ada Ketidak-Pastian Cinta, yang ada adalah orang-orang yang tidak pasti dalam mencintai.

1972. Aku akan menjadi laki-laki termulia dan terbahagia di alam ini, jika engkau bersedia menerima permintaanku, agar engkau menjadi pendamping kehidupanku, sebagai wanita kemuliaan hidupku, sebagai istriku, sebagai ibu dari anak-anakku, dan sebagai pemelihara dari kebesaran nama keluarga kita.

1973. Kekasih yang tidak setia akan meletihkanmu, seperti menangkap asap dan menegakkan benang basah.

1974. Saat engkau mencintai seorang wanita, hargailah kesediaannya untuk memilihmu sebagai sahabat yang diharapkannya penuh cinta, mesra, dan setia di dalam masa-masa yang mudah dan sulit. Demi cintanya kepadamu dan cintamu kepadanya, setialah hanya kepadanya.

1975. Tidak dibutuhkan biaya apa pun untuk jatuh cinta, tapi follow-up-nya dalam pernikahan bisa tidak murah.

1976. Kalimat terbaik setelah "Aku mencintaimu." adalah "Hidupku akan sangat indah jika engkau bersedia menjadi istriku." Yang selain itu hanyalah hiburan untuk memperpanjang waktu penantian yang tak pasti.

1977. Orang yang mencuri kekasih, sesungguhnya mencuri seorang pengkhianat. Ikhlaskanlah.

1978. Saat muda, saya tidak pernah ditolak wanita. Saya hanya diabaikan. Tapi mereka semua sekarang menyesal.

1979. Jika kau gantung aku tanpa kejelasan, akan menikah atau tidak, akan kulepas diriku di pasar bebas!

1980. Ia telah letih menuruti kemauanmu yang terbukti belum mendamaikan dan menyejahterakannya.

1981. Jika engkau pantas bagi yang lebih baik, orang yang kau kira kau cintai sekarang tapi yang tidak cukup baik, akan diganti.

1982. Jodoh adalah bagian dari nasib, dan nasib ditentukan oleh kebaikan upaya kita.

1983. Bukan pupur dan bedak yang meruntuhkan benteng keangkuhan pria, tapi tutur lembut wanita yang meyakini kebesaran masa depan sang pria.

1984. Jika tidak untuk saling membahagiakan, mengapakah engkau harus bersama?

1985. Cinta itu sederhana. Aku dan kamu, dan tidak ada yang lain. Aku untukmu, dan kamu untukku. Yang lain cuma nonton.

1986. Tidak ada yang lebih tergesa daripada anak muda yang sedang jatuh cinta.

1987. Wanita paling mencintai pria yang meminta maaf walau pun dia tidak salah.

1988. Ketertarikan gila saat pertama cinta ditemukan, memang mudah menyatukan dua pribadi yang sangat berbeda untuk berjanji setia sepanjang hidup. Hanya saja, panjangnya hidup yang dilihat oleh mata yang mabuk cinta, bisa jadi sangat pendek. Itu sebabnya cinta saja tidak cukup.

1989. Persahabatan dan Logika yang jernih antara dua jiwa itulah yang memanjangkan cinta mereka menjadi kebersamaan yang membahagiakan. Love is respect.

1990. Bagaimana mungkin engkau bisa mencintaiku tanpa menghormatiku?

1991. Jangan pernah memandang rendah dirimu sendiri. Bagi dunia kamu mungkin hanya seseorang, tapi bagi seseorang kamu mungkin dunianya.

1992. Teman mungkin datang dan pergi, dan keluarga mungkin tak selalu ada untukmu, tapi tak peduli apapun itu, Tuhan selalu bersamamu.

1993. Kamu akan selalu dapatkan cinta di tengah keluarga, cinta tanpa syarat, cinta yang menerima kamu apa adanya.

1994. Jangan manfaatkan cinta! Jangan menyerah jika masih ingin mencoba. Jangan berpisah jika masih ada cinta. Jangan biarkan ego kuasai jiwa, karena hati pasti menderita.

1995. Hanya karena mereka tak memperlakukanmu seperti yang kamu inginkan, bukan berarti mereka tak mencintaimu setulus hati.

1996. Terkadang satu-satunya orang yang mampu buatmu merasa lebih baik adalah orang yang sama yang telah membuat kamu terluka.

1997. Keluarga adalah salah hal terpenting yang kita miliki, yang tak akan pernah berubah dan selalu ada ketika dibutuhkan.

1998. Jangan hiraukan mereka, teruslah melangkah. Jangan membenci mereka yang membencimu, karena itu sama saja membuat dirimu tak berbeda dengan mereka.

1999. Tak ada aturan disini. Kita tengah mencobanya untuk mencapai sesuatu.

2000. Aku tidak gagal. Aku hanya menemukan 10.000 cara yang tidak bekerja.

Nabi Khidir Dengan Umar Bin Khaththab RA



Pada waktu Umar akan menshalati jenazah, tiba-tiba terdengar suara berbisik dari belakang,
”tunggu saya, wahai Umar...”.
Maka Umar menunggu dia hingga dia masuk ke dalam shaf dan Umar pun mulai bertakbir.

Setelah shalat, Umar mendo’akan jenazah tersebut,
”Ya Allah, Jika Engkau mengadzabnya berarti dia durhaka kepada-Mu, tapi jika Engkau mengampuni dia, maka sesungguhnya dia sangat membutuhkan rahmat-Mu, Ya Allah”.

Setelah jenazah dimakamkan, seorang laki-laki memperbaiki tanah kuburannya sambil berkata,
”Beruntunglah kamu, wahai penghuni kubur jika kamu tidak menjadi orang yang mengaku, menyimpan atau menentukan”.

Umar kemudian menyuruh untuk memanggilkan orang tersebut,
”bawalah orang itu kemari, akan kutanyakan tentang shalatnya dan pembicaraannya itu”.

Maka seorang lelaki pergi mencarinya, tetapi orang itu sudah tidak ada, kecuali hanya bekas telapak kakinya di tanah yang besarnya kira-kira satu hasta.
Lalu Umar berkata lagi,
”Demi Allah, dia itu Khidir yang pernah diceritakan oleh Rasulullah kepadaku”.
(Riwayat Muhammad bin Munkadir)

Tiga Tahun Berturut-Turut



Pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, salah seorang khalifah Bani Umayyah, rakyat tertimpa kelaparan dan paceklik. Dirwas bin Habib al-Ajali datang kepadanya bersama beberapa orang dari kaumnya.
Dirwas berkata,
“Ya Amirul Mukminin. Tiga tahun berturut-turut, kami para rakyat memikul beban berat dan sulit. Tahun pertama memakan daging kami. Tahun kedua mencairkan lemak kami. Dan tahun ketiga menghisap tulang kami. Padahal di tangan kalian terdapat harta yang melimpah. Jika harta itu milik Allah maka sayangilah hamba-hambaNya dengannya. Jika harta itu milik rakyat mengapa engkau menahannya dari mereka sementara kalian membelanjakannya secara cepat dan berlebih-lebihan, padahal Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Dan jika harta itu milik kalian maka bersedekahlah kepada mereka. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.”
Hisyam berkata,
“Benar-benar mengagumkan. Kamu tidak menyisakan satu pun dari tiga perkara itu bagi kami.”

Lalu dia memerintahkan seratus ribu dirham agar dibagi-bagikan kepada rakyat. Dirwas sendiri diberi seratus ribu dirham.
Dirwas bertanya,
“Ya Amirul Mukminin, apakah setiap muslim diberi yang sama?”
Hisyam menjawab,
“Tidak, Baitul Mal tidak mampu membayarnya.”
Dirwas berkata,
“Kalau begitu aku tidak memerlukan sesuatu yang bisa membuatmu dicela.” Tetapi Hisyam memaksanya hinga dia terpaksa menerima.
Ketika Dirwas sampai di rumah, dia membagi sembilan puluh ribu kepada kabilah-kabilah Arab. Dan sisanya untuk dirinya dan kaumnya. Hal itu didengar oleh Hisyam. Maka dia berkata,
“Berbuat baik kepada orang sepertinya membangkitkan akhlak-akhlak yang mulia.”

Ucapan Dirwas,
“Tiga tahun berturut-turut kami para rakyat memikul beban berat. Tahun pertama memakan daging kami. Tahun kedua mencairkan lemak kami. Dan tahun ketiga menghisap tulang kami.”
Ini adalah ucapan dengan nilai balaghah yang tinggi. Dirwas mampu menjelaskan dampak buruk paceklik yang berlangsung tiga tahun berturut-turut dengan bahasa kiasan yang tinggi. Katanya, tahun pertama memakan daging, yakni membuat kami kurus, meskipun demikian kami masih mampu bertahan hidup. Katanya, tahun kedua mencairkan lemak, yakni ini lebih berat, membuat kami lebih kurus lagi meskipun kami masih mampu bertahan, akan tetapi pada tahun ketiga kami tidak mampu lagi tegak karena tulang yang menjadi penyangga hidup kami telah dihisap oleh paceklik.

Beberapa Pelajaran
1. Ucapan Dirwas tentang harta yang dipegang oleh kepala negara. Bahwa harta tersebut tidak keluar dari tiga kemungkinan sekaligus tuntutan dari masing-masing kemungkinan. Ketiga kemungkinan tersebut adalah harta tersebut milik Allah atau harta tersebut milik rakyat atau harta tersebut milik penguasa.
Jika yang pertama maka Dirwas meminta kepala negara membagi harta kepada hamba-hamba Allah. Jika yang kedua maka Dirwas meminta kepala negara memberikannya kepada rakyat karena ia milik rakyat. Jika yang ketiga maka Dirwas mendorong kepala negara bersedekah kepada rakyatnya.
Pembagian Dirwas ini tidak menyisakan ruang berkelit bagi kepala negara, walaupun begitu kepala negara tidak merasa disudutkan, justru dia mengagumi ucapan Dirwas.
2. Kemampuan berdiplomasi di hadapan kepala negara dengan bahasa luhur yang tidak merendahkan.
3. Nasihat rakyat kepada pemimpin dengan cara yang baik.
4. Hendaknya kepala negara berempati kepada rakyat.
5. Zuhud Dirwas dalam perkara harta, meskipun khalifah memberinya hadiah secara khusus akan tetapi dia membagi-bagikannya kepada sesamanya, dia melihat dirinya tidak lebih berhak dari yang lain.

Wallahu a’lam.

Makarimul Akhlak Ali Shalih al-Hazza`.