Cari Artikel

Shalat‬‬ Tepat Waktu Bisa Menjadi Ukuran Disiplin Bagi Seorang Muslim



‪‪Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“…Seandainya orang-orang mengetahui pahala azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR. Bukhari).

‪‪Keutamaan shalat tepat waktu juga bisa menjadikan seseorang lembut hati dan dikaruniai kesehatan. Untuk Shalat Isya’ Nabi biasa mengerjakannya pada sebagian besar waktu malam.
‪‪Telah bersabda Rasulullah saw.
”Sekiranya tidak memberatkan umatku, tentu aku suruh mereka mengundurkan isya hingga sepertiga atau seperdua malam.” (HR.Ahmad, Ibnu Majah,Tirmizi).

‪‪Pesan Khalifah Utsman bin Affan ra:
“Orang-orang yang memelihara shalat lima waktu dan mengerjakannya tepat pada waktunya, maka Insya Allah, Allah akan memuliakan orang itu dengan sembilan macam kemuliaan:
‪‪1.Dicintai Allah
‪‪2.Badannya senantiasa sehat
‪‪3.Dijaga oleh Malaikat
‪‪4.Diturunkan berkah untuk rumahnya
‪‪5.Mukanya akan kelihatan tanda orang yang shaleh
‪‪6.Allah akan melembutkan hatinya
‪‪7.Dapat melalui jembatan Shiratal Mustaqim layaknya seperti kilat
‪‪8.Akan diselamatkan dari api neraka
‪‪9.Allah akan menempatkannya ke dalam golongan yang tidak takut dan bersedih.

‪‪Wallahu a'lam bissawab...

Koin Penyok



Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa...
Sambil berpikir tentang kondisi keuangan nya yang morat marit

Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.
Ia membungkuk dan menggerutu kecewa.

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok".
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank.
Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno",
kata teller itu memberi saran.
Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 500 ribu.
Lelaki itu begitu senang.

Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 500 ribu untuk membuat rak buat istrinya.
Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati tempat pengerajin mebel.
Mata pemilik bengkel mebel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu.
Dia menawarkan lemari 2 juta untuk menukar kayu itu.
Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.

Dalam perjalanan lelaki tersebut melewati perumahan.
Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya 10 juta, dia ragu-ragu.
Si wanita pun menaikkan tawarannya menjadi 12 juta, lelaki itupun setuju.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. 
Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 12 juta.

Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya,

"Apa yang terjadi?"
"Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil perampok tadi?"
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, 
"Oh bukan apa-apa. 
Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

Bila kita sadar, kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.
Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.

Karena demikian lah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?

Tidak ada, karena bahkan napas saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.

Saat kehilangan sesuatu, kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa. 

Jadi "kehilangan" itu tidak lah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan. 

Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke-"aku"-an. 
Ke "aku" an itu lah yang membuat kita menderita.

Rumahku, hartaku, istriku, suamiku, anakku, jabatan, semuanya bukan milikku.
Kita lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak bawa apa-apa dan tidak ngajak siapa-siapa.

Ubadah Bin Shamit RA



Ubadah bin Shamit merupakan kelompok awal shahabat Anshar yang memeluk Islam, yakni ketika terjadi Ba'iatul Aqabah pertama, salah satu dari dua belas orang Madinah yang pertama berba’iat kepada Nabi SAW. Dan pada Ba'iatul Aqabah ke dua, sekali lagi ia menyertai tujuh puluh orang Madinah yang ingin berba'iat kepada Nabi SAW. Usai ba'iat, Nabi SAW menunjuk dua belas orang pemuka sebagai pemimpin dari kaumnya masing-masing, salah satunya adalah Ubadah bin Shamit untuk beberapa kabilah dari Suku Aus.

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Madinah banyak yang menjalin persekutuan dengan kaum Yahudi, begitu juga dengan kaumnya Ubadah bin Shamit. Setelah Islam datang, Nabi SAW mengukuhkan lagi persekutuan itu dalam bentuk Piagam Madinah. Tetapi ketika terjadi perang Badar dan perang Uhud, kaum Yahudi hanya berpangku tangan, bahkan cenderung menyebar fitnah dan menimbulkan kekacauan di kalangan pasukan Muslim. Mereka juga menyombongkan diri bahwa pasukan muslimin takkan bisa mengalahkan mereka kalau mereka bersatu memerangi Nabi SAW.

Ubadah bin Shamit langsung bereaksi melihat sikap kaum Yahudi tersebut, ia memutuskan hubungan persekutuan kabilahnya dengan kaum Yahudi Bani Qainuqa yang telah berlangsung lama, jauh sebelum ia memeluk Islam. Ia datang kepada Nabi SAW dan berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya jiwa teman-teman karibku dari kalangan Yahudi sangat keras. Mereka memiliki senjata dan peralatan peperangan yang sangat kuat. Namun demikian, aku hanya berwali kepada Allah dan RasulNya serta berlepas diri dari berwali kepada orang-orang Yahudi. Tiada wali bagiku selain Allah dan RasulNya."

Rasulullah SAW menyambut baik keputusan Ubadah bin Shamit. Dan kemudian turun surah Al Maidah ayat 56 sebagai bentuk dukungan dan pembenaran atas sikap yang diambilnya terhadap kaum Yahudi. Dalam riwayat lain disebutkan, bukan hanya ayat 56, tetapi sikapnya dalam peristiwa tersebut menjadi asbabun nuzul dari Surat Al Maidah ayat 51 s.d. 67.

Suatu ketika ia mendengar penjelasan Nabi SAW tentang tanggung jawab seorang amir, dan konsekwensinya jika ia melalaikan tugasnya, bahkan hanya memperkaya diri sendiri. Seketika tubuhnya gemetar dan hatinya terguncang. Iapun bersumpah tidak akan pernah memegang jabatan apapun, walaupun hanya membawahi dua orang.

Ketika Umar menjabat khalifah, ia tak mampu memaksa Ibnu Shamit untuk memegang suatu posisi pimpinan atau jabatan apapun, kecuali mengajar umat memperdalam pengetahuan keislaman mereka. Kalaupun terjun ke medan pertempuran, ia memilih untuk menjadi prajurit biasa saja walaupun sebenarnya ia seorang sahabat senior dan berpengalaman. Karena itu Umar mengirimkan dia ke Syam (Syiria) bersama Mu'adz bin Jabal dan Abu Darda untuk mengajar umat Islam di sana. Saat itu yang menjadi Amir (gubernur) di sana adalah Muawiyah bin Abu Sufyan.

Ubadah bin Shamit tidak cukup kerasan di sana. Gaya hidupnya adalah didikan Nabi SAW, zuhud terhadap dunia, sederhana, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk ibadah dan belajar (menuntut ilmu). Ketika ia melihat bagaimana cara hidup Amirnya, Muawiyah yang selalu bermegah-megahan dengan duniawiah, ia tak segan melakukan protes sekaligus perlawanan. Setelah tinggal beberapa lama di Syiria dalam suasana jiwa yang tidak nyaman, ia pulang kembali ke Madinah.

Umar menemui Ubadah bin Shamit di Masjid Nabawi, dan bertanya,
"Apa yang menyebabkan engkau kembali ke sini, ya Ubadah?"

Ubadah menceritakan semua yang terjadi, termasuk pertentangannya dengan Muawiyah, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Madinah. Umar berkata,
"Kembalilah segera ke sana!! Sungguh amat buruk suatu negeri jika tidak mempunyai orang seperti anda!!"

Tidak ada pilihan lain bagi Ubadah kecuali kembali ke Syam (Syiria) melanjutkan misi pengajarannya. Tetapi ternyata diam-diam Umar mengirim surat kepada Muawiyah, isinya antara lain,
“…Tidak ada wewenangmu sedikitpun sebagai Amir terhadap Ubadah bin Shamit…."

Pada masa khalifah Utsman, tepatnya pada tahun 27 hijriah, Muawiyah yang masih menjadi gubernur Syam, meminta ijin untuk menyerang dan menyebarkan Islam di Pulau Cyprus, di suatu kepulauan di Laut Tengah termasuk wilayah Eropa saat ini, dan Utsman menyetujuinya. Sebenarnya pada masa Khalifah Umar, Muawiyah telah pernah mengajukan usulan itu tetapi ditolak. Umar berpendapat, setelah bermusyawarah dengan para sahabat senior, bahwa kaum Arab, khususnya kaum muslimin, tidak mempunyai pengalaman yang memadai untuk bertempur menyeberangi lautan luas. Ia khawatir akan banyak korban sia-sia dari kaum muslimin, yang ia akan diminta pertanggung-jawabannya oleh Allah di akhirat kelak.

Muawiyah segera membuat dan mempersiapkan kapal-kapal (perahu) besar untuk membawa pasukan kaum muslimin menjelajahi Laut Tengah. Inilah armada angkatan laut pertama dalam Islam, dan Ubadah bin Shamit bersama istrinya, Ummu Haram binti Milhan ikut serta dalam pasukan tersebut.

Cyprus dapat ditaklukkan dan penduduknya bersedia membayar Jizyah (pajak), dan Islam mulai didakwahkan di wilayah tersebut. Tetapi Ubadah bin Shamit kehilangan istrinya yang mati syahid dalam perjalanan mengarungi samudra ini, dan jenazahnya dimakamkan di Cyprus.

Peristiwa ini telah pernah diperlihatkan Allah kepada Nabi SAW belasan tahun sebelumnya, ketika beliau sedang tertidur di rumah Ummu Haram binti Milhan. Saat itu Nabi SAW sangat bangga melihat umat beliau berperang menjelajah lautan. Walau telah kehilangan istrinya, semangat Ibnu Shamit tidak surut untuk terus berjihad, sampai akhirnya Islam tersebar luas di wilayah Eropa.

Nabi Khidir Dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA



Pada waktu wafatnya Rasulullah SAW, ketika di tengah-tengah kesedihan para sahabat yang menangis mengelilingi jenazah beliau, tiba-tiba ada seorang laki-laki berjenggot lebat dan bertubuh tegap masuk ke dalam majelis takziah, lalu ia menundukkan kepalanya sambil mencucurkan air mata.
Kemudian segera ia menemui para sahabat Nabi dan berkata,
“Sesungguhnya Allah telah menyediakan balasan pada setiap musibah, pengganti pada setiap yang hilang dan khalifah pada setiap yang tiada. Maka kembalikanlah segalanya kepada Allah dan berharaplah kepada-Nya. Allah telah mempersiapkan segalanya untuk kalian dan ketahuilah bahwasanya yang ditimpa musibah adalah orang yang tidak terpaksa”.
Lalu orang itu pergi.
Para sahabat saling bertanya siapakah gerangan orang tersebut, tetapi Abu Bakar segera menjawab,
“Dia adalah Khidir, saudara Rasulullah saw”.

(Riwayat Baihaqi dari Anas bin Malik)

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah SAW



Dari Ibnu Mas'ud RA bahwa ia berkata:
Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aisyah RA. Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda:
"Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah." Allah berfirman: "Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa."

Kemudian kami bertanya:
"Bilakah ajal baginda ya Rasulullah?"
Baginda menjawab:
"Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyi la' la."
Kami bertanya lagi:
"Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab:
"Salah seorang ahli bait."
Kami bertanya:
"Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?"
Baginda menjawab:
"Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah."
Kami bertanya:
"Siapakah yang menshalatkan baginda di antara kami?"
Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.

Kemudian baginda bersabda: "Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama menshalatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang pertama shalat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua."

Semenjak hari itulah Rasulullah SAW bertambah sakitnya, yang ditanggungnya selama 18 hari, setiap hari ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Senin, di saat baginda menghembus nafas yang terakhir.

Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah ra. selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW, kemudian memberi salam:
"Assalamualaikum ya Rasulullah?"
Kemudian ia berkata lagi "Assolah yarhamukallah." Fatimah menjawab:
"Rasulullah dalam keadaan sakit?"
Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid, ketika bumi terang disinari matahari siang, Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu ia berkata seperti perkataan yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh ia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah SAW bersabda:
"Saya sekarang dalam keadaan sakit, Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam shalat."
Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata:
"Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?"
Kemudian ia memasuki masjid dan berkata kepada Abu Bakar ra agar beliau menjadi imam dalam shalat tersebut. Ketika Abu Bakar ra melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pingsan.
Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi ribut sehingga terdengar oleh Rasulullah SAW. Baginda bertanya:
"Wahai Fatimah, suara apakah yang ribut itu?" Fatimah rha menjawab:
 "Orang-orang menjadi ribut dan bingung kerana Rasulullah SAW tidak ada bersama mereka."
Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan ibnu Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda shalat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda:
"Ya ma'aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini."

Malaikat Maut Datang Bertamu Pada hari esoknya, yaitu pada hari Senin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja.

Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa.
Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata:
"Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!"
Fatimah rha berkata kepada tamunya itu:
"Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit." Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi:
"Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?"
Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah:
"Siapakah yang ada di muka pintu itu? Fatimah menjawab:
"Seorang lelaki memanggil ayah, saya katakan kepadanya bahwa ayahanda dalam keadaan sakit. Kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma." Rasulullah SAW bersabda:
"Tahukah kamu siapakah dia?"
Fatimah menjawab:
"Tidak wahai baginda."
Lalu Rasulullah SAW menjelaskan:
"Wahai Fatimah, ia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur."
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
"Masuklah, Wahai Malaikat Maut."
Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan;
Assalamualaika ya Rasulullah."
Rasulullah SAW pun menjawab:
"Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?"
Malaikat Maut menjawab:
"Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang."
Rasulullah SAW bertanya:
"Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril?"
"Saya tinggal ia di langit dunia?" Jawab Malaikat Maut.
Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW.
Maka bersabdalah Rasulullah SAW:
"Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat? Jibril menjawab:
"Ya, Wahai kekasih Allah."
Seterusnya Rasulullah SAW bersabda:
"Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya?"
Jibril pun menjawab:
"bahwa pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu."
Baginda SAW bersabda:
"Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku?"
Jibril menjawab lagi:
"bahwa pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu."
Baginda SAW bersabda lagi:
"Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku?"
Jibril menjawab:
"Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti."
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
"Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku.
Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku?"
Jibril as bertanya:
"Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan? Rasulullah SAW menjawab:
"Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?"
Jibril menjawab:
"Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu."
Maka berkatalah Rasulullah SAW:
"Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku.
Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku!"
Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW. Ali ra bertanya:
"Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya? Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga. Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah.
Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: "Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut."
Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: "Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku?"
Jibril menjawab:
"Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?" Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah SAW.
Kesedihan Sahabat Berkata Anas ra:
"Ketika aku melalui depan pintu rumah Aisyah ra aku dengar ia sedang menangis, sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar dari singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam kerana takut Neraka Sa'ir."