Cari Artikel

Gunung Menangis Karena Takut Api Neraka



Pada suatu hari Uqa'il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad SAW pada waktu itu Uqa'il telah melihat berita ajaib yang menjadikan tetapi hatinya tetap bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut. Peristiwa pertama adalah, bahawa Rasulullah SAW akan mendatangi hajat yakni mebuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa batang pohon. Maka baginda SAW berkata kepada Uqa'il,
"Hai Uqa'il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katalah kepadanya, bahawa sesungguhnya Rasulullah berkata; Agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, kerana sesungguhnya baginda akan mengambil air wudhu dan buang air besar."

Uqa'il pun keluar dan pergi menghampiri pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar baginda SAW, selesai dari hajatnya. Maka Uqa'il kembali ke tempat pohon-pohon itu.

Peristiwa kedua adalah, bahwa Uqa'il merasa haus dan setelah mencari air ke mana-mana namun tidak ditemui. Maka baginda SAW berkata kepada Uqa'il bin Abi Thalib,
"Hai Uqa'il, dakilah gunung itu, dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan, "Jika padamu ada air, berilah aku minum!"

Uqa'il lalu pergilah mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan baginda itu.
Maka sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya,
"Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allah SWT menurunkan ayat yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (seksa) api neraka yang umpannya dari manusia dan batu. Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku."

Peristiwa yang ketiga ialah, bahawa ketika Uqa'il sedang berjalan dengan Nabi, tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan rasulullah, maka unta itu lalu berkata,
"Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu." Unta masih belum selesai mengadukan apapun, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus itu, Nabi Muhammad SAW berkata,
"Hendak apakan kamu terhadap unta itu?"
Jawab orang kampungan itu,
"Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mahu taat atau tidak mau jinak, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan)."
Rasulullah SAW bertanya, "Mengapa engkau mendurhakai dia?"
Jawab unta itu,
"Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak mendurhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku mendurhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Kerana kabilah dia termasuk golongannya, semua tidur meninggalkan solat Isya'. Kalau sekiranya dia mahu berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isaya' itu, maka aku berjanji tidak akan mendurhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah menurunkan siksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka."

Akhirnya Nabi Muhammad SAW mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya'. Dan baginda Nabi Muhammad SSW menyerahan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya.

4 Golongan Yang Dirindukan Surga



Rasulullah SAW bersabda: “Surga akan merindukan 4 golongan, yakni orang yang gemar membaca Al-Qur’an, kedua, golongan orang yang pandai menjaga ucapannya, ketiga, golongan orang yang mau memberikan kepada mereka yang sedang lapar, dan keempat adalah golongan orang-orang yang mau berpuasa Ramadhan.”

Dari hadits di atas tentunya kita tahu bahwa jika kita menginginkan bagian dari ahli surga maka marilah kita bersegera untuk ambil bagian dari keempat golongan tersebut. Paling tidak jika ada kesempatan melakukan salah satu diantara keempat hal tersebut kita berupaya sekuat tenaga untuk melakukannya.

1. Golongan orang yang gemar membaca al-Qur’an.
Ketahuilah bahwa Syafa’at sebenarnya dibagi ke dalam dua bagian, syafa’at dari Rasulullah SAW dan syafa’at al-Qur’an. Artinya bahwa setiap umat Muhammad SAW yang tergolong orang mukmin akan mendapatkan dua kesempatan untuk diselematkan. Paling tidak dengan membaca al-Qur’an kita dapat syafa’at dari al-Qur’an tersebut dan jika tidak bisa demikian, paling tidak hati kita tidak condong pada yang lain dalam ibadah kecuali hanya menyembah Allah SWT.
Rasulullah Saw bersabda:

من قرأ القرآن فإنّه شفيع يوم القيامة لقارئه

"Barangsiapa yang mau membaca al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan menjadi penolong baginya kelak di hari kiamat."

2. Menjaga Lisan.
Penjagaan lisan menjadi satu diantara hal penting dalam hidup kita, yang dengannya kita akan selamat dan darinya pula kita bisa beruntung dan mendapatkan pahala. Lisan yang baik adalah ketika ia berkata-kata yakni dengan kata yang penuh dengan ‘ibrah, santun dan penuh dengan ajakan kebaikan serta jauh dari ghibah, fitnah, menggunjing dan berbohong. Maka benar kata-kata bijak dari ‘ulama bahwa :

ألسّلامة الإنسان في حفظ اللّسان

“Keselamatan mansusia terletak pada penjagaan lisannya”

Rasulullah SAW juga bersabda:

المسلم من سلم المسلم من لسانه ويده

"Yang dinamakan seorang Muslim adalah jika ia mau menyelamatkan saudara muslimnya dari ucapan buruk dan tangan-tangan angkara."

3.Memberi Makan Orang Yang lapar.
Artinya bahwa barang siapa yang mau menyisakan sebagian hartanya guna membeli sedikit makanan untuk saudaranya atau orang-orang yang sedang kelaparan, maka surga akan merindukan orang yang seperti ini. Pada hal lain di ungkapkan bahwa seorang pemberi makanan kepada mereka yang sedang kelaparan seperti ini dipuji oleh Allah dan rasulNya sebagai perbuatan baik yang berbalas pahala. Sungguh Allah dan RasulNya sangat menyukai perbuatan yang demikian. Kedermawanan seperti itu walau seolah sepele namun berat timbangan kebaikannya kelak di akhirat. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

قال رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم: السّخيّ قريب من اللّه وقريب من النّاس وقريب بالجنّة وبعيد من النّار، والبخيل بعيد من اللّه وبعيد من النّاس وبعيد باالجنّة وقريب من النّار

“Rasulullah Saw bersabda: Seorang yang dermawan akan dekat dengan Allah, dekat dihati manusia, didekatkan dengan surga dan jauh dari api neraka. Sebaliknya, orang yang bakhil akan jauh dari Allah, jauh dari manusia dan jauh dari surga serta dekat dengan siksa api neraka.”

Orang yang berpuasa Ramadhan.
Artinya bahwa setiap hamba Allah SWT yang mau berpuasa Ramadhan, ia akan mendapatkan berbagai macam keistimewaan, tak terkecuali pahala yang berlipat dari satu kebaikan yang ia kerjakan di bulan ini. Hal tersebut mengingat bahwa bulan Ramadhan adalah sebuah bulan yang memiliki ribuan keistimewaan dibanding bulan-bulan lain. Diantaranya;
A. Seseorang yang mau menyambut bulan ini dengan keceriaan dan suka cita saja kelak di hari kiamat Allah akan mengharamkannya dari siksa api neraka,
B. Bahwa seluruh aktifitas positif yang dikerjakan selama berpuasa di dalam bulan Ramadhan ini pahala yang diberikan berlipat ganda dibanding pada bulan lain,
C. Bahwa Allah sangat mencintai orang-orang yang mau berpuasa ramadhan yang di dalamnya terdapat dua kabar gembira yakni saat ia berbuka puasa dan saat nanti di akhirat dipertemukan dengan Allah SWT.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

قال رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم: للصّائم فرحتان، فرحة عند الفطر وفرحة عند لقاء ربّه

“Rasulullan SAW: bersabda bahwa bagi seseorang yang melaksanakan puasa, maka ia akan memperoleh dua kebahagiaan (kegembiraan); yakni pertama saat ia berbuka puasa dan yang kedua saat ia bertemu dengan Allah SWT kelak di akhirat”

Imam Abu Hanifah Dan Si Pemalas


Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan, melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar suara keras orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu.
“Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini...., agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini...... Sejak dari pagi belum sesuap nasi atau makanan pun di kerongkongku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, manakah hati yang belas kasihan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik.”
Mendengar itu, Imam Abu Hanifah merasa iba, beliau lalu pulang dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu.

Ketika sampai di samping rumah si malang, dilemparkannya bungkusan itu dan meneruskan perjalanannya.
Si malang terkejut sekali mendapat bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya. Dengan tergesa-gesa dibukanya bungkusan itu. Ternyata berisi uang dan selembar kertas yang bertulis:
”Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, mengeluh atss nasibmu. ingatlah kepada kemurahan Allah dan bermohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh jangan berputus asa, Hai kawan...! tetapi berusahalah terus.”

Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu masih terdengar,
“Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin..., sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini...... Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku, wahai malangnya nasibku.”

Imam Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan selembar kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya kembali.
Bukan kepalang gembiranya orang itu mendapat bungkusan lagi. Seperti dahulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada uang dan selembar kertas, lalu dibacanya :
“Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar. Perbuatan demikian malas namanya.!! Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan…. jangan berbuat demikian.! Bekerja dan berusahalah karana rizki itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari. Orang hidup tidak disuruh duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan mengabulkan do'a orang yang berputus asa dan orang yang malas bekerja. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal dan berikhtiarlah sedapat mungkin. Nah… carilah segera pekerjaan, saya do'akan Saudara sukses..!"

Setelah selesai membacanya, ia tertegun dan malu. Tersadarlah ia, rupanya selama ini ada seseorang yang memperhatikan, menegur dan mencobanya memberi nasihat.
Siapakah dia.?
Dialah Imam Abu Hanifah kawan..!!

Dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam mengajar kita untuk maju ke hadapan dan bukan mengajar kita meminta-minta di tepi jalan atau mengeluh keras-keras agar orang lain iba dan melempari dengan bungkusan

Cinta Sejati Seorang Ibu Terhadap Anak-Anaknya


Wanita itu sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap menyala seperti wanita yang masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya selalu menjadi pendorong dan bualan orang disekitarnya. Maklumlah, ia memang seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair. Al-Khansa bin Amru, demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang terkenal cantik dan pandai di kalangan orang Arab. Dia pernah bersyair mengenang kematian saudaranya yang bernama Sakhr:
"Setiap mega terbit, dia mengingatkan aku pada Sakhr, malang. Aku pula masih teringatkan dia setiap mega hilang dii ufuk barat Kalaulah tidak kerana terlalu ramai orang menangis di sampingku ke atas mayat-mayat mereka, niscaya aku bunuh diriku."

Setelah Khansa memeluk Islam, keberanian dan kepandaiannya bersyair telah digunakan untuk menyemarakkan semangat para pejuang Islam. Ia mempunyai empat orang putera yang kesemuanya diajari ilmu bersyair dan dididik berjuang dengan berani.
Kemudian puteranya itu telah diserahkan untuk berjuang demi kemenangan dan kepentingan Islam. Khansa telah mengajar anaknya sejak kecil lagi agar jangan takut menghadapi peperangan dan tantangan.

Pada tahun 14 Hijrah, Khalifah Umar Ibnul Khattab menyediakan satu pasukan tempur untuk menentang Farsi. Semua Islam dari berbagai kabilah telah dikerahkan untuk menuju ke medan perang, maka terkumpullah sebanyak 41,000 orang tentera. Khansa telah mengerahkan keempat puteranya agar ikut mengangkat senjata dalam perang suci itu. Khansa sendiri juga ikut ke medan perang dalam kumpulan pasukan wanita yang bertugas merawat dan menaikkan semangat pejuan tentera Islam.

Dengarlah nasihat Khansa kepada putera-puteranya yang sebentar lagi akan ke medan perang,
"Wahai anak-anakku! Kamu telah memilih Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya kamu sekalian adalah putera-putera dari seorang lelaki dan seorang wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu, aku tidak pernah mengfitnah kerabatmu, aku tidak pernah merendahkan keturun kamu, dan aku tidak pernah mengubah perhubungan kamu. Kamu telah tahu pahala yang disediakan oleh Allah kepada kaum muslimin dalam memerangi kaum kafir itu. Ketahuilah bahawasaya kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang hancur"
Kemudian Khansa membacakan satu ayat dari surah Ali Imran yang artinya,
"Wahai orang yang beriman! Sabarlah, dan sempurnakanlah kesabaran itu, dan teguhkanlah kedudukan kamu, dan patuhlah kepada Allah, semoga menjadi orang yang beruntung."
Putera-putera Khansa tertunduk khusyuk mendengar nasihat bunda yang disayanginya.

Kemudian Khansa berkata,
"Jika kalian bangun esok pagi, insya Allah dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang dengan musuh kamu. Gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan dari Allah. Jika kamu melihat api pertempuran semakin hebat dan kamu dikelilingi oleh api peperangan yang sedang bergejolak, masuklah kamu ke dalamnya. Dan cari tahu penyebabnya saat pertempuran tersebut terjadi, semoga berhasil mendapatkan pahala di kampung abadi, dan tempat tinggal yang kekal."

Subuh esoknya semua tentera Islam sudah berada di tikar shalat masing-masing untuk mengerjakan perintah Allah yaitu shaat Subuh, kemudian berdoa semoga Allah memberikan mereka kemenangan atau syurga.

Kemudian Saad bin Abu Waqas panglima besar Islam telah memberikan arahan agar bersiap-siap segera setelah seruan perang berbunyi.

Perang satu lawan satu pun terjadi dua hari. Pada hari ketiga mulailah pertempuran besar-besaran. 41,000 orang tentera Islam melawan tentera Farsi yang berjumlah 200,000 orang. Pasukan Islam mendapat tentangan hebat, namun mereka tetap yakin akan pertolongan Allah.

Putera-putera Khansa maju untuk merebut peluang memasuki syurga. Berkat dorongan dan nasihat dari bundanya, mereka tidak sedikit pun merasa takut.
Sambil mengibas-ngibaskan pedang, salah seorang dari mereka bersyair,
"Wahai saudara-saudaraku! Ibu kita yang banyak pengalaman itu, telah memanggil kita semalam dan membekalkan nasihat. Semua mutiara yang keluar dari mulutnya bijak dan berfaedah. Insya Allah akan kita buktikan sebentar lagi."
Kemudian ia maju menebas setiap musuh yang datang.

Kemudian disusul pula oleh anak kedua maju dan melawan setiap musuh yang menantang. Dengan semangat yang berapi-api ia bersyair,
"Demi Allah! Kami tidak akan melanggar nasihat dari ibu kami Nasihatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan rela hati Segeralah bertempur, segeralah bertarung dan menggempur mush-musuh bersama-sama Sehingga kau lihat keluarga Kaisar musnah."

Anak Khansa yang ketiga juga segera melompat dengan beraninya dan bersyair,
"Sungguh ibu kami teguh pendiriannya, tetap tegas tidak goncang. Beliau telah mendorong kita agar bertindak efisien dan berakal cemerlang Itulah nasihat seorang ibu tua yang merawat anak-anaknya sendiri Mari! Segera memasuki medan tempur dan segeralah untuk mempertahankan diri Dapatkan kemenangan yang bakal membawa kegembiraan di dalam hati Atau tempuhlah kematian yang bakal mewarisi kehidupan yang abadi."

Yang terahir anak keempat menghunus pedang dan melompat menyusul kakak-kakaknya. Untuk menaikkan semangatnya ia pun bersyair,
"Bukanlah aku putera Khansa', bukanlah aku anak lelaki Dan bukanlah pula kerana 'Amru yang pujiannya sudah lama terkenal Kalau aku tidak membuat tentera asing yang berkelompok-kelompok itu terjatuh ke jurang bahaya, dan musnah oleh senjataku."

Bertarunglah keempat-empat putera Khansa dengan tekad bulat untuk mendapatkan syurga diiringi oleh doa munajat bundanya yang berada di garis belakang. Pertempuran terus hebat. Tentera Islam pada awalnya kebingungan dan kacau kerana pada awalnya tentera Farsi menggunakan tentera bergajah di barisan depan, sementara tentera berjalan kaki berlindung di belakang binatang kuat itu. Namun tentera Islam dapat mencederakan gajah-gajah itu dengan memanah mata dan bahagian-bahagian lainnya. Gajah yang cedera itu marah dengan menghempaskan tuan yang menungganginya, memijak-mijak tentera Farsi yang lannya. Kesempatan ini digunakan oleh pihak Islam untuk memusnahkan mereka. Panglima perang bermahkota Farsi dapat dipenggal kepalanya, akhirnya mereka lari tunggang-langgang menyeberangi sungai dan dipanah oleh pasukan Islam hingga air sungai menjadi merah.
Pasukan Farsi kalah telak, dari 200,000 tenteranya hanya sebahagian kecil saja yang dapat menyelamatkan diri.

Umat Islam lega. Kini mereka mengumpul dan mengira tentera Islam yang gugur. Ternyata yang beruntung menemui syahid di medan Kadisia itu berjumlah lebih kurang 7,000 orang. Dan dari 7,000 orang syuhada itu terbujur empat orang kakak-beradik Khansa. Seketika itu juga banyak tentera Islam yang datang menemui Khansa memberitahukan bahawa keempat anaknya telah menemui syahid.
Al-Khansa menerima berita itu dengan tenang, gembira dan hati tidak bergoncang. Al-Khansa terus memuji Allah dengan ucapan,
"Segala puji bagi Allah, yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka, dan aku mengahrapkan dari Tuhanku, agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di tempat tinggal yang kekal dengan rahmat-Nya!"

Al-Khansa kembali lagi ke Madinah bersama para perajurit yang masih hidup dengan meninggalkan mayat-mayat puteranya di medan pertempuran Kadisia. Dari peristiwa peperangan itu pula wanita penyair ini mendapat gelar kehormatan 'Ummu syuhada yang artinya ibu kepada orang-orang yang mati syahid."

Kata-Kata Bijak Dari Jokowi (Presiden RI Ke 7)





1851. Saat ini kita tidak bisa lagi hanya sekedar berteori dan tidak perlu menyampaikan hal yang muluk-muluk.

1852. Apa yang harus kita ketahui harus segera dikerjakan. Segera implementasikan. Yang paling penting adalah melaksanakan.

1853. Saya sangat bangga menjadi rakyat Indonesia yang mengedepankan asas gotong royong. Semangat gotong royonglah yang akan dapat membuat bangsa Indonesia bukan hanya mampu menghadapi tantangan tapi juga mampu berkembang menjadi poros maritim dunia.

1854. Setiap hari, setiap saat itu ada aspirasi dari rakyat, dari bawah. Ada kebutuhan dari bawah, kalau kita hanya duduk di kantor, enggak akan ketangkap yang seperti itu.

1855. Keluarga adalah harta yang paling berharga, luangkanlah waktu untuk berkumpul dengan mereka.

1856. Jika kita bekerja keras, maka kita akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi diri kita sendiri maupun nusa bangsa.

1857. Kehormatan hidup bukanlah ditentukan seberapa tinggi pendidikanmu, seberapa banyak ijasah akademismu, seberapa banyak bintang-bintang jasa bertaburan di dadamu, tapi kehormatan hidup itu ada ketika namamu melekat di hati orang-orang sekitarmu, kerjamu bermanfaat untuk rakyat banyak dan doamu tiap bangun tidur memohon agar hari ini lebih baik dari hari kemarin.

1858. Kehidupan adalah kerja dan cinta. Itu kita jalani dengan sederhana saja.

1859. Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesehjahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.

1860. Ibu itu lambang Surga, Hormati dan sayangi Ibumu karena doa restu ibu adalah kunci utama untuk memperoleh kebahagiaan dunia akhirat.

1861. Kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan, tidak akan selesai.

1862. Pemilu damai itu penting tetapi lebih penting adalah mengupayakan pemilu yang jujur. Maka perolehan suara harus dikawal dengan sungguh- sungguh, karena suara itu amanah rakyat. Hanya dengan memperjuangkan pemilu yang jujur, kegembiraan pesta demokrasi akan tercapai.

1863. Gunakan bahasa yang santun dan baik karena itu adalah budaya kita.

1864. Saya akan terus begini, kebawah mendengarkan akar rumput, cek lapangan, cek proyek, kontrol program, dan mendengar aspirasi masyarakat. Kan itu manajemen kontrol yang kita lakukan.

1865. Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan.

1866. Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi sering ketakutanlah yang membuat jadi sulit. Jadi, jangan mudah menyerah.

1867. Kita kuat karena kita bersatu, kita bersatu karena kita kuat.

1868. Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.

1869. Saya berangkat ke tanah suci untuk menjalankan ibadah umrah. Di depan Ka'bah, saya berdoa, semoga Allah SWT meridhai semua maksud baik bangsa ini.

1870. Inilah saatnya bergerak bersama mulai sekarang. Petani mulai kesawah, Nelayan mulai melaut, Anak-anak kita mulai sekolah.

1871. Sumber daya manusia merupakan kekayaan yang luar biasa. Kekayaan pertanian bisa saja lahannya makin luas, kekayaan industri bisa saja mesin makin canggih, tapi kekayaan sumber daya manusia harus tetap jadi yang utama.

1872. Perubahan tidak akan pernah ada tanpa kemauan dan keberanian, yang juga harus diiringi kebersamaan.

1873. Jangan pernah merasa ragu ataupun malu untuk berbuat kebaikan, jika kita merasa demikian maka kita justru tidak akan maju.

1874. Kalau rakyat sehat dan rakyat berpendidikan, maka daya kompetisi ekonomi menjadi tinggi. Politik itu penuh keriangan, politik itu didalamnya ada kebahagiaan, politik itu adalah kebajikan, dan politik adalah kebebasan.

1875. Saya jokowi, lahir disini, besar disini, di didik disini dan saya seutuhnya adalah indonesia.

1876. Bagi saya ekonomi ditujukan sebesar-besarnya untuk rakyat. Itulah ekonomi yang berdikari. Yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah pembangunan manusia melalui revolusi mental.

1877. Setiap fitnah jangan dibalas dengan fitnah, kejelekan jangan dibalas dengan kejelekan, kekerasan jangan dibalas dengan kekerasan karena itu tidak akan menyelesaikan masalah.

1878. Saya pekerja, bukan politisi. Saya hanya berkerja dan bekerja. Saya tidak peduli penilaian orang, mau jelek, mau gagal, mau berhasil, yang penting saya bekerja.

1879. Teman-temanku, selagi kita masih mampu, jangan lupa untuk berbagi dengan saudara-saudari kita yang kurang mampu.

1880. Saya ini orang miskin, anak tukang kayu. Masa kecil saya, kami tinggal di bantaran kali. Tiga kali orang tua saya berpindah-pindah, mengontrak, karena tidak punya rumah. Waktu di bantaran kali itu juga, rumah kami digusur pemerintah Solo, dan tidak diganti rugi. Itu semua memengaruhi saya.

1881. Pemimpin yang lahir dalam keluarga kaya raya, dengan orang miskin tentu beda.

1882. Omongan boleh dibuat-buat, tetapi gestur tubuh dan mimiknya tidak bisa berbohong.

1883. Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran. Kerjakan dengan bahasa cinta, kerena itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan.

1884. Perjuangan masih panjang, jangan ada ucapan selamat malam, tapi mari kita kumandangkan "Semangat Pagi" untuk selalu berpacu dalam semangat yang selalu berkobar tanpa lelah demi Jakarta baru.

1885. Warga Jakarta akan mengukir sejarah baru, Indonesia Baru dengan suasana Ibukota Negara yang baru pula.

1886. Pasti ada hikmah dibalik setiap musibah, yang terpenting adalah jangan sampai berhenti untuk melangkah. Kita jadikan musibah sebagai pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati dalam menata langkah.

1887. Barengi aktifitas dengan selalu optimis dan melihat segala sesuatu dari sisi yang positif.

1888. Jangan takut untuk mendobrak kebiasaan lama dengan cara dan pemikiran yang keluar dari pakem.

1889. Jadilah pribadi yang berkarakter. Keberanian, ketegasan dan jiwa pantang menyerah harus selalu mengiringi langkah kita untuk terus maju.

1890. Siapa yang mampu memajukan dirinya, maka dia akan mampu memajukan keluarga dan lingkungannya. Siapa yang mampu memajukan lingkungannya, maka dia akan mampu memajukan kotanya, dan siapa yang mampu memajukan kotanya, maka dia akan mampu memajukan propinsinya, negara dan dunia sekalipun.

1891. Jadikanlah Persaingan itu sebagai ajang untuk pembelajaran, bukan ajang untuk saling menjatuhkan. Karena ada banyak sekali nilai-nilai yang bisa kita ambil dalam menentukan langkah kedepan yang lebih baik.

1892. Jangan pernah putus asa dan kobarkan terus semangatmu.

1893. Jangan pernah merasa lemah saat melihat kondisi bangsa yang kian dilanda krisis kepercayaan. Karena kita-kitalah yang harus merubahnya, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan di sekitar kita. Menuju masa depan bangsa yang gemilang.

1894. Jadilah pribadi yang tangguh dan berani melawan arus, jangan hanya opo jare. Suarakanlah kebenaran dengan tanpa rasa takut saat kamu melihat ketidak jujuran di sekelilingmu, karena perubahan tidak akan pernah ada tanpa kemauan dan keberanian, yang juga harus di iringi kebersamaan.

1895. Kuncinya adalah; Tanggap, Cerdas dan Cepat dalam setiap keputusan dan selalu disertai dengan komitmen yang kokoh dengan satu kepentingan, yakni kepentingan bersama.

1896. Resep untuk dapat memimpin rakyat dengan hati adalah: jangan punya kepentingan apapun selain kepentingan rakyat. Yang penting itu Realisasinya. Ide itu akan muncul dari masyarakat. Jadi yang pintar itu ya masyarakatnya, bukan jokowinya.

1897. Bangsa Indonesia tidak ingin menjadi Macan, melainkan menaklukkan macan. Karena bangsa Indonesia tidak ingin ditakuti melainkan disegani.

1898. Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu memecah keheningan, menerobos dengan gebrakan, bukan yang monoton dan rutinitas sehingga membosankan.

1899. Kita perlu pemimpin yang mau berjuang dan bisa dipercaya oleh masyarakat karena jika bisa dipercaya, apapun yang akan dilakukan akan mudah dilaksanakan.

1900 Yang memiliki kekuasaan tertinggi adalah rakyat. Kedaulatan yang dipegang oleh pemimpin atau penguasa itu berasal dari rakyat.