Cari Artikel

Kata-Kata Bijak Dari Jokowi (Presiden RI Ke 7)





1851. Saat ini kita tidak bisa lagi hanya sekedar berteori dan tidak perlu menyampaikan hal yang muluk-muluk.

1852. Apa yang harus kita ketahui harus segera dikerjakan. Segera implementasikan. Yang paling penting adalah melaksanakan.

1853. Saya sangat bangga menjadi rakyat Indonesia yang mengedepankan asas gotong royong. Semangat gotong royonglah yang akan dapat membuat bangsa Indonesia bukan hanya mampu menghadapi tantangan tapi juga mampu berkembang menjadi poros maritim dunia.

1854. Setiap hari, setiap saat itu ada aspirasi dari rakyat, dari bawah. Ada kebutuhan dari bawah, kalau kita hanya duduk di kantor, enggak akan ketangkap yang seperti itu.

1855. Keluarga adalah harta yang paling berharga, luangkanlah waktu untuk berkumpul dengan mereka.

1856. Jika kita bekerja keras, maka kita akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi diri kita sendiri maupun nusa bangsa.

1857. Kehormatan hidup bukanlah ditentukan seberapa tinggi pendidikanmu, seberapa banyak ijasah akademismu, seberapa banyak bintang-bintang jasa bertaburan di dadamu, tapi kehormatan hidup itu ada ketika namamu melekat di hati orang-orang sekitarmu, kerjamu bermanfaat untuk rakyat banyak dan doamu tiap bangun tidur memohon agar hari ini lebih baik dari hari kemarin.

1858. Kehidupan adalah kerja dan cinta. Itu kita jalani dengan sederhana saja.

1859. Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesehjahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.

1860. Ibu itu lambang Surga, Hormati dan sayangi Ibumu karena doa restu ibu adalah kunci utama untuk memperoleh kebahagiaan dunia akhirat.

1861. Kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan, tidak akan selesai.

1862. Pemilu damai itu penting tetapi lebih penting adalah mengupayakan pemilu yang jujur. Maka perolehan suara harus dikawal dengan sungguh- sungguh, karena suara itu amanah rakyat. Hanya dengan memperjuangkan pemilu yang jujur, kegembiraan pesta demokrasi akan tercapai.

1863. Gunakan bahasa yang santun dan baik karena itu adalah budaya kita.

1864. Saya akan terus begini, kebawah mendengarkan akar rumput, cek lapangan, cek proyek, kontrol program, dan mendengar aspirasi masyarakat. Kan itu manajemen kontrol yang kita lakukan.

1865. Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan.

1866. Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi sering ketakutanlah yang membuat jadi sulit. Jadi, jangan mudah menyerah.

1867. Kita kuat karena kita bersatu, kita bersatu karena kita kuat.

1868. Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.

1869. Saya berangkat ke tanah suci untuk menjalankan ibadah umrah. Di depan Ka'bah, saya berdoa, semoga Allah SWT meridhai semua maksud baik bangsa ini.

1870. Inilah saatnya bergerak bersama mulai sekarang. Petani mulai kesawah, Nelayan mulai melaut, Anak-anak kita mulai sekolah.

1871. Sumber daya manusia merupakan kekayaan yang luar biasa. Kekayaan pertanian bisa saja lahannya makin luas, kekayaan industri bisa saja mesin makin canggih, tapi kekayaan sumber daya manusia harus tetap jadi yang utama.

1872. Perubahan tidak akan pernah ada tanpa kemauan dan keberanian, yang juga harus diiringi kebersamaan.

1873. Jangan pernah merasa ragu ataupun malu untuk berbuat kebaikan, jika kita merasa demikian maka kita justru tidak akan maju.

1874. Kalau rakyat sehat dan rakyat berpendidikan, maka daya kompetisi ekonomi menjadi tinggi. Politik itu penuh keriangan, politik itu didalamnya ada kebahagiaan, politik itu adalah kebajikan, dan politik adalah kebebasan.

1875. Saya jokowi, lahir disini, besar disini, di didik disini dan saya seutuhnya adalah indonesia.

1876. Bagi saya ekonomi ditujukan sebesar-besarnya untuk rakyat. Itulah ekonomi yang berdikari. Yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah pembangunan manusia melalui revolusi mental.

1877. Setiap fitnah jangan dibalas dengan fitnah, kejelekan jangan dibalas dengan kejelekan, kekerasan jangan dibalas dengan kekerasan karena itu tidak akan menyelesaikan masalah.

1878. Saya pekerja, bukan politisi. Saya hanya berkerja dan bekerja. Saya tidak peduli penilaian orang, mau jelek, mau gagal, mau berhasil, yang penting saya bekerja.

1879. Teman-temanku, selagi kita masih mampu, jangan lupa untuk berbagi dengan saudara-saudari kita yang kurang mampu.

1880. Saya ini orang miskin, anak tukang kayu. Masa kecil saya, kami tinggal di bantaran kali. Tiga kali orang tua saya berpindah-pindah, mengontrak, karena tidak punya rumah. Waktu di bantaran kali itu juga, rumah kami digusur pemerintah Solo, dan tidak diganti rugi. Itu semua memengaruhi saya.

1881. Pemimpin yang lahir dalam keluarga kaya raya, dengan orang miskin tentu beda.

1882. Omongan boleh dibuat-buat, tetapi gestur tubuh dan mimiknya tidak bisa berbohong.

1883. Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran. Kerjakan dengan bahasa cinta, kerena itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan.

1884. Perjuangan masih panjang, jangan ada ucapan selamat malam, tapi mari kita kumandangkan "Semangat Pagi" untuk selalu berpacu dalam semangat yang selalu berkobar tanpa lelah demi Jakarta baru.

1885. Warga Jakarta akan mengukir sejarah baru, Indonesia Baru dengan suasana Ibukota Negara yang baru pula.

1886. Pasti ada hikmah dibalik setiap musibah, yang terpenting adalah jangan sampai berhenti untuk melangkah. Kita jadikan musibah sebagai pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati dalam menata langkah.

1887. Barengi aktifitas dengan selalu optimis dan melihat segala sesuatu dari sisi yang positif.

1888. Jangan takut untuk mendobrak kebiasaan lama dengan cara dan pemikiran yang keluar dari pakem.

1889. Jadilah pribadi yang berkarakter. Keberanian, ketegasan dan jiwa pantang menyerah harus selalu mengiringi langkah kita untuk terus maju.

1890. Siapa yang mampu memajukan dirinya, maka dia akan mampu memajukan keluarga dan lingkungannya. Siapa yang mampu memajukan lingkungannya, maka dia akan mampu memajukan kotanya, dan siapa yang mampu memajukan kotanya, maka dia akan mampu memajukan propinsinya, negara dan dunia sekalipun.

1891. Jadikanlah Persaingan itu sebagai ajang untuk pembelajaran, bukan ajang untuk saling menjatuhkan. Karena ada banyak sekali nilai-nilai yang bisa kita ambil dalam menentukan langkah kedepan yang lebih baik.

1892. Jangan pernah putus asa dan kobarkan terus semangatmu.

1893. Jangan pernah merasa lemah saat melihat kondisi bangsa yang kian dilanda krisis kepercayaan. Karena kita-kitalah yang harus merubahnya, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan di sekitar kita. Menuju masa depan bangsa yang gemilang.

1894. Jadilah pribadi yang tangguh dan berani melawan arus, jangan hanya opo jare. Suarakanlah kebenaran dengan tanpa rasa takut saat kamu melihat ketidak jujuran di sekelilingmu, karena perubahan tidak akan pernah ada tanpa kemauan dan keberanian, yang juga harus di iringi kebersamaan.

1895. Kuncinya adalah; Tanggap, Cerdas dan Cepat dalam setiap keputusan dan selalu disertai dengan komitmen yang kokoh dengan satu kepentingan, yakni kepentingan bersama.

1896. Resep untuk dapat memimpin rakyat dengan hati adalah: jangan punya kepentingan apapun selain kepentingan rakyat. Yang penting itu Realisasinya. Ide itu akan muncul dari masyarakat. Jadi yang pintar itu ya masyarakatnya, bukan jokowinya.

1897. Bangsa Indonesia tidak ingin menjadi Macan, melainkan menaklukkan macan. Karena bangsa Indonesia tidak ingin ditakuti melainkan disegani.

1898. Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu memecah keheningan, menerobos dengan gebrakan, bukan yang monoton dan rutinitas sehingga membosankan.

1899. Kita perlu pemimpin yang mau berjuang dan bisa dipercaya oleh masyarakat karena jika bisa dipercaya, apapun yang akan dilakukan akan mudah dilaksanakan.

1900 Yang memiliki kekuasaan tertinggi adalah rakyat. Kedaulatan yang dipegang oleh pemimpin atau penguasa itu berasal dari rakyat.

Nabi Khidir Dan Raja Yang Sombong



Dahulu kala sebelum Ibrahim bin Adham menjadi ulama sufi yang terkenal, beliau adalah seorang raja yang sangat luas kekuasaannya dan hingga tiba pertemuannya dengan Nabi Khidir as mendengarkan keluh kesah rakyatnya.
Namun, pada hari itu, lain dari biasanya karena para menteri dan rakyat melihat perubahan yang terjadi secara tiba-tiba pada diri raja mereka.
Perubahan terjadi karena ada seseorang yang misterius masuk ke pertemuan tersebut. Wajahnya begitu menakutkan sehingga tak ada seorang pun yang berani menegur dan menanyakan keperluannya
Kejadiannya begitu cepat dan tak ada yang berani mencegahnya untuk masuk pertemuan negara tersebut.

Lelaki misterius tersebut kemudian langsung menghadap Raja Ibrahim bin Adham.
"Apakah yang engkau inginkan?" tanya Ibrahim.
"Aku baru saja sampai, berilah istirahat sejenak," jawab lelaki misterius itu.
"Wahai orang asing, ini bukanlah tempat persinggahan kafilah. Ini istanaku. Perilakumu itu seperti orang gila saja," cerca Ibrahim dengan nada tinggi.
Akan tetapi lelaki misterius itu tak mau tinggal diam. Ia malah balik bertanya,
"Siapa pemilik istana ini sebelum engkau?"
"Ayahku," jawab Ibrahim.
"Sebelum ayahmu?" tanya lelaki misterius itu lagi.
"Kakekku," jawab Ibrahim kesal.
"Sebelum kakekmu siapa pemiliknya?" tanya lelaki misterius itu.
"Ini warisan dari keluarga kakekku," jawab Ibrahim dengan nada emosi.
"Kemanakah mereka sekarang ini?" tanya lelaki misterius yang tak menunjukkan rasa takut sama sekali.
"Mereka telah meninggal dunia," jawab Ibrahim.
"Jika demikian, tidakkah ini sebuah persinggahan yang diduduki oleh seseorang kemudian ditinggalkannya dan diganti oleh yang lain pula?" jelas lelaki misterius tersebut.

Mendengar penjelasan tersebut, Ibrahim bin Adham tersentak kaget.
Namun sebelum Ibrahim sempat menjawab, lelaki misterius itu mundur ke belakang dan tiba-tiba saja gaib menghilang di tengah kerumunan orang-orang.
Ibrahim tak menyadari bahwa lelaki misterius tersebut adalah Nabi Khidir as karena pada pertemuan selanjutnya Nabi Khidir as mengakuinya.

Sumber; kitab Tazkirat Al Aulia.
karya; Syeikh Farid Ad Din Attar.

Wanita Shalihah



Sebaik-Baik Perhiasan Dunia Adalah Wanita Shalihah
‪Namun, wanita juga bisa menjadi fitnah yang besar, sesuai dengan hadits berikut: Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada fitnah para wanita. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

‪Mengapa wanita bisa menjadi fitnah bagi kaum Adam?
“Wanita adalah aurat, jika ia keluar maka syaitan memandangnya” (HR At-Thirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

‪Maksud dari hadits di atas adalah, berkata Al-Mubarokfuuri,
“Yaitu syaitan menghiasi wanita pada pandangan para lelaki, dan dikatakan (juga) maksudnya adalah syaitan melihat wanita untuk menyesatkannya dan (kemudian) menyesatkan para lelaki dengan memanfaatkan wanita tersebut.” (Tuhfatul Ahwadzi 4/283)

‪Berkata Al-‘Ala’ bin Ziyad,
“Janganlah engkau mengikutkan pandanganmu pada pakaian seorang wanita. Sesungguhnya pandangan menimbulkan syahwat dalam hati”

Ibnul Qoyyim berkata,
“Kebanyakannya maksiat itu masuk kepada seorang hamba melalui empat pintu, yang keempat pintu tersebut adalah kilasan pandangan, betikan di benak hati, ucapan, dan tindakan”

‪Tidak hanya laki-laki, wanita pun diperintahkan oleh Allah untuk menjaga pandangannya, sesuai dengan firman Allah yang artinya:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,” (QS. An Nuur: 30-31)

‪Dari ayat di atas, kita tahu bahwa Allah memerintahkan untuk menjaga pandangan ini kepada manusia baik laki-laki maupun wanita.

‪Wallahu a'lam...

Amalan Yang Melelahkan | Amilatun Nasibah



Ternyata salah satu penyebab orang dimasukan ke neraka adalah sebab amalan yang banyak dan beragam tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat yang tidak sesuai dengan sunnah Rasul saw AstaghfiruLlahal'adzhim…

‪Alkisah juga, suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan,
"Ya, Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya."
‪Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata,
"Atha sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas."
‪Tawaran itu dijawabnya, "Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya."
‪Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis."

‪Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yang kita lakukan apakah sudah sesuai ataukah tidak. Hanya dengan ilmulah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.
‪Maka bukan hanya dengan beramal sebanyak-banyaknya tapi juga beramal dengan .
‪Aku adalah tempat yang paling gelap diantara yang gelap, maka terangilah aku dengan ‪‎tahajud‬‬.
‪Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan ‪‎silaturahim‬‬.
‪Aku adalah tempat yang paling sepi, maka ramaikanlah aku dengan memperbanyak membaca ‪Al-Qur'an‬‬.
‪Aku adalah tempatnya binatang-binatang menjijikan, maka racuni ia dengan ‪‎sedekah‬‬.
‪Aku yang menjepitmu hingga hancur bilamana tidak sholat, bebaskan jepitan itu dengan ‪sholat‬‬.
‪Aku adalah tempat untuk merendammu dengan cairan yang sangat amat sakit, bebaskan rendaman itu dengan ‪puasa‬‬.
‪Aku adalah tempat Munkar dan Nakir bertanya, maka bersiaplah jawabanmu dengan memperbanyak mengucapkan kalimat ‪Laailaahaillallah‬‬.

Kisah Para Penghafal Al-Qur'an



Seorang muslim secara fitrah mengetahui keutamaan menghafal al-Qur'an dan tingginya kedudukan penghafal al-Qur'an. Banyak sekali nash-nash yang mengumpulkan keutamaan-keutamaan ini sehingga menambah kuat pengertian ini. Jika ditambah dengan contoh-contoh yang nyata dalam perkara ini, niscaya hal itu akan semakin menambah keyakinan seseorang dengan kemampuannya untuk mengubah makna-makna ini ke dalam alam nyata. Tidak ada dalil yang lebih jelas dalam hal ini daripada metode yang digunakan al-Qur'an al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyah dalam menyampaikan kisah-kisah dan contoh-contoh untuk dijadikan pelajaran dan nasihat.

Berikut ini beberapa kisah para penghafal al-Qur'an, mudah-mudahan dapat menjadi menara dan contoh untuk diikuti generasi ini.

Amru bin Salmah RA adalah golongan sahabat yang masih kecil (muda). Dia sangat antusias mempelajari al-Qur'an. Dia selalu menemui kafilah yang datang dari bepergian, bertanya kepada mereka dan meminta dibacakan al-Qur'an dari mereka. Sehingga dia menjadi orang yang paling banyak hafalannya diantara seluruh kaumnya, dan menjadikannya orang yang berhak menjadi imam shalat mereka. Marilah kita dengarkan kisahnya, dia bercerita,
“Ketika saya berada di kampung, datanglah kafilah melewati kami. Mereka baru saja kembali dari sisi Rasulullah SAW, lalu aku mendekati mereka dan mendengarkan pelajaran dari mereka sehingga aku hafal al-Qur'an.

Orang-orang menunggu masuk Islam hingga setelah Fathu Mekkah. Ketika Mekkah telah ditaklukan, mereka mengutus seorang laki-laki menghadap Rasulullah SAW. Utusan itu berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah utusan Bani Fulan yang datang kepada engkau untuk memberitahukan keislaman mereka.”
Ayahku juga menghadap Rasulullah dengan keislaman kaumnya lalu kembali kepada mereka, dia berkata,
”Rasulullah SAW bersabda,
“Pilihlah (untuk menjadi imam sholat) orang yang paling banyak hafalan al-Qurannya diantara kalian!”
Amru bin Salmah berkata,
”Lalu mereka melihat-lihat, ketika itu saya memiliki hafalan yang banyak, mereka tidak mendapati seorangpun yang lebih banyak hafalannya daripadaku, maka merekapun memilihku padahal aku masih anak-anak...” (HR. Ahmad)

Para pemuda hari ini saling bertanya, ketika melihat contoh ini. Pemuda sahabat RA ini sangat antusias menghafal al-Qur'an dan mempelajarinya, padahal ketika itu belum ada sarana dan prasarana yang tersedia seperti halnya yang kita dapati pada hari ini. Saat itu dia tidak mempunyai halaqoh untuk menghafal al-Quran, juga tidak mempunyai kaset rekaman atau MP3 player, bahkan al-Qur'an di masanya belumlah terkumpul dalam satu mushaf yang darinya bisa dia baca dan hafalkan. Namun dengan segala keterbatasan tersebut, dia tetap bisa menghafalnya.
Kita bisa merasakan semangat Zaid bin Tsabit RA saat kaumnya mendatangi Nabi SAW dengan bangga terhadap prestasi yang telah ditorehkan Zaid bin Tsabit RA. Disebutkan bahwa kaumnya berkata kepada Nabi SAW,
”Anak ini merupakan salah seorang anak Bani Najjar yang telah menghafal apa-apa yang telah diturunkan Robbmu kepadamu berupa beberapa puluh surat.” Nabipun takjub dan bersabda,
”Wahai Zaid, pelajarilah bahasa Ibrani. Demi Allah, karena mereka tidak memahami surat yang kutulis.”
Maka aku (Zaid bin Tsabit) pun mempelajari bahasa mereka sesuai dengan apa yang diperintahkan kepadaku selama lima belas malam kemudian akupun mengusainya. Maka sejak saat itu akulah yang membacakan surat yang mereka sampaikan kepada Nabi SAW dan membalas surat mereka jika Nabi SAW ingin membalasnya. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)


Anak yang lain yang juga telah menghafal al-Qur'an.

pada saat usianya baru sepuluh tahun lebih sedikit adalah Barro’ bin Azib RA. Beliau berkata,
”Rasulullah tidaklah mendatangi kami sampai aku membaca puluhan surat al-Mufashshal.”

Abdushshamad bin Abdurrahman bin Abi Raja’ al-Balwi (wafat tahun 619 H)
meriwayatkan al-Quran dari ayahnya dengan cara talaqqi. Dari ayahnya beliau juga mendengar beberapa kitab, padahal ayahnya wafat saat beliau baru berumur sekitar sepuluh tahun.

Ali bin Hibbatullah al-Jumaizi (wafat tahun 649 H) hafal al-Qur’an saat berumur sepuluh tahun.

Majduddin Abu al-Barakat Ibnu Taimiyah (wafat tahun 652 H) hafal al-Quran dan menguasai ilmu dari pamannya, al-Khatib Fahruddin dan berkelana maencari ilmu menemani putra pamannya, Saifuddin, saat beliau masih berumur belasan tahun.

Zaid bin Hasan Tajuddin al-Kindi (wafat tahun 613 H) membacakan al-Qur'an di depan Muhammad Sabth al-Khiyath dengan cara talqin (menirukan) saat beliau masih berusia tujuh tahun dan hal ini jarang terjadi  seperti yang disampaikan adz-Dzahabi dan yang lebih langka lagi, beliau membacanya dengan sepuluh macam jenis qira’ah saat beliau berusia sepuluh tahun.

Abu Syammah (wafat tahun 665 H) membaca al-Qur'an sejak kecil dan telah menguasai seluruh jenis qira’ah dari syaikhnya, as-Sakhawi, ketika masih berumur tujuh belas tahun.

Abu Bakar bin Umar bin Musyabba’ bin Miqashshati (wafat tahun 713 H) menjadi ahli qira’ah al-Qur'an sebelum berusia dua puluh tahun.

Hamzah bin Habib al-Imam al-Muqri (wafat tahun 158 H) mengomentari dirinya sendiri dengan berkata,
”Aku dilahirkan pada tahun 80 H, dan menguasai qira’ah saat berusia lima belas tahun.”

Khalf bin Hisyam bin Tsa’lab al-Imam al-Hafidz al-Hujjah Syaikhul Islam (wafat tahun 229 H) keluar dari Baghdad saat berusia sembilan belas tahun yang saat itu disana tidak ada yang lebih ahli qira’ah daripada beliau.

Makki bin Abu Thalib al-Allamah al-Muqri yang lahir pada tahun 355 H, menguasai qira’ah dari Ibnu Ghalbun pada tahun 376 H, atau saat beliau masih berusia dua puluh satu tahun.

Abu Ali al-Ahwazi al-Muqri al-Muhaddits yang lahir pada tahun 362 H, sejak kecil telah sibuk dengan riwayat dan hafal al-Quran 378 H atau ketika usia beliau berkisar enam belas tahun.

Abu Bakar an-Nuqqasy al-Muqri’ al-Mufassir Ahad al-A’lam yang lahir pada tahun 266 H sejak kecil telah sibuk dengan qira’ah dan belajar pada Hasan bin Abbas bin Abu Mahran tahun 285 H atau ketika usianya sembilan belas tahun.

Diantara mereka, ada juga Imam an-Nawawi, yang sampai-sampai syaikh beliau, Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi berkata,
”Aku melihatnya menjadi seorang syaikh saat dia berumur sepuluh tahun di kota Nawa. Teman-temannya tidak suka kepadanya jika dia bermain bersama mereka, kemudian dia berlari menjauhi mereka seraya menangis karena ketidaksukaan mereka tersebut, dan saat itu dia langsung membaca al-Qur’an. Maka saat itulah aku mulai merasa menyayanginya. Saat itu ayahnya membawanya ke tokonya namun tidak membebaninya dengan kesibukan jual beli sehingga melalaikannya dari al-Qur’an. Akupun kemudian mendatangi pengajarnya dan menasehatinya dan kukatakan kepadanya bahwa dia diharapkan bisa menjadi orang yang paling alim dan paling zuhud pada masanya, dan manusiapun bisa mengambil manfaat darinya. Mendengar itu dia berkata,
”Apakah engkau seorang peramal?”
Maka akupun menjawab,
”Tidak, sesungguhnya aku hanyalah orang yang diberitahu oleh Allah akan hal itu.”
Maka sang guru menyampaikan hal itu kepada ayahnya dan kemudian ayahnya menyemangatinya untuk menghatamkan al-Qur’an padahal saat itu dia belum baligh.”
Saat para remaja merenungi beberapa contoh di atas, maka yang harusnya ada di benak mereka adalah naik dan bertambahnya semangat mereka, berusaha untuk bersimbiosis dengan mereka dan berusaha untuk mengikuti rombongan kloter mereka, merasa bahwa ketika mempelajari al-Qur’an Kitabullah ta’ala seperti para pendahulu mereka, mereka seperti sedang melompati beberapa masa ke belakang guna meresapi bahwa sesungguhnya mereka dan para pendahulu mereka tersebut berada dalam satu gerbong. Sesungguhnya barangsiapa yang mencintai suatu kaum, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka.
Maka saat itu merekapun akan saling bertanya,
"Dimanakah teman-teman sebayaku yang belum pernah kulihat, yang mereka telah diuji dengan kesenangan dan kesia-siaan? Namun mereka berusaha menangkal ujian-ujian yang melingkupi mereka. Sesungguhnya aku ingin bersimbiosis dengan mereka.”