Cari Artikel

Ketika Ruh Berpisah Dengan Jasad



Suatu ketika Nabi SAW mendatangi rumah istri kesayangan beliau, al Khumaira, Aisyah RA. Melihat kedatangan beliau, Aisyah yang sedang duduk bersila ingin bangkit menyambut, tetapi Rasulullah SAW bersabda,
“Duduklah saja pada tempatmu, wahai Ummul Mukminin, tidak perlu engkau berdiri!!”

Nabi SAW menghampiri Aisyah dan kemudian berbaring terlentang dengan berbantalkan pangkuannya, tampak sekali kemanjaan dan kasih sayang beliau kepadanya. Sepertinya pada hari itu Rasulullah SAW sangat lelah sehingga tidak lama berselang beliau telah tertidur. Aisyah memandangi wajah beliau dengan kasih sayang dan kekaguman. Tanpa disadari jari jemarinya mengurai jenggot Rasulullah SAW, dan Aisyah menemukan sembilan belas rambut jenggot yang telah memutih (beruban). Tiba-tiba saja tersirat dalam hatinya, “Sesungguhnya beliau akan keluar dari dunia (meninggal) sebelum aku, dan tinggallah umat Islam dalam keadaan tanpa nabi!!”

Merasakan kenyataan seperti itu, Aisyah jadi bersedih dan menangis, air matanya mengalir ke pipi dan menetes jatuh mengenai wajah Rasulullah SAW sehingga beliau terbangun. Dengan heran beliau bersabda,
“Apa yang membuatmu menangis, wahai Ummul Mukminin!!”

Aisyah menceritakan perasaan sedih yang menghantui dirinya, dan Nabi SAW hanya tersenyum mendengarnya. Beliau bersabda,
“Wahai Aisyah, keadaan apakah yang sangat menyusahkan bagi seseorang (yakni bagi ruhnya) ketika ia menjadi mayat?”
Aisyah berkata,
“Katakanlah padaku, ya Rasulullah!!”
Beliau berkata,
“Engkau saja yang mengatakannya dahulu!!”

Aisyah sejenak berfikir, kemudian ia berkata,
“Tidak ada yang menyusahkan atas diri mayit kecuali ketika ia diusung ke luar rumah menuju kuburnya, anak-anak yang ditinggalkannya akan berduka dan berkata: Wahai ayah, wahai ibu!! Begitu juga orang tuanya akan berkata: Wahai anakku, wahai anakku!!”
Nabi SAW bersabda,
“Hal itu memang terasa akan pedih, tetapi ada yang lebih pedih dari pada itu!!”
Aisyah berkata lagi,
“Tidak ada yang lebih berat bagi mayit kecuali ketika ia dimasukkan ke dalam liang lahad dan ia diurug di bawah tanah, anak dan orang tuanya, kerabat dan kekasihnya akan meninggalkannya pulang. Mereka membiarkannya sendirian beserta amal perbuatannya, menyerahkan urusannya kepada Allah. Kemudian setelah itu datanglah malaikat Munkar dan Nakir ke dalam kuburnya!!”

Beliau bersabda lagi,
“Apa lagi yang lebih berat dari apa yang engkau katakan itu?”
Akhirnya Aisyah menjawab,
“Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui!!”
Maka Nabi SAW bersabda,
“Hai Aisyah, sesungguhnya saat yang paling berat (paling menyedihkan) bagi mayat adalah ketika tukang memandikan masuk ke dalam rumahnya untuk memandikan mayatnya….”

Kemudian beliau menjelaskan lebih lanjut, bahwa ketika tukang memandikan itu melepas cincin (atau perhiasan lainnya) dari tubuhnya, melepas pakaian pengantin (atau pakaian lainnya) dari badannya, melepaskan sorban para syaikh dan fuqoha dari kepalanya, ketika itulah sang ruh berseru saat melihat tubuhnya yang telanjang, seruan yang bisa didengarkan oleh seluruh mahluk kecuali jin dan manusia,
“Wahai tukang memandikan, demi Allah aku memohon kepadamu, agar engkau melepaskan pakaianku (dan lain-lainnya) dengan pelan-pelan, karena sesungguhnya saat ini aku tengah beristirahat dari sakitnya dikeluarkannya nyawaku oleh malaikat maut!!”

Ketika tukang memandikan menuangkan air ke mayatnya, sang ruh berteriak keras dengan teriakan yang didengar oleh semua mahluk, kecuali jin dan manusia,
“Hai tukang memandikan, demi Allah, janganlah engkau menuangkan air yang panas, jangan pula engkau tuangkan air yang terlalu dingin, sesungguhnya jasadku telah terbakar saat dicabutnya nyawaku!!”

Ketika tukang memandikan mulai menggosok tubuhnya, lagi-lagi sang ruh berteriak, “Wahai tukang memandikan, demi Allah, janganlah memegang tubuhku terlalu keras, sungguh jasadku telah terluka sebab keluarnya nyawaku!!”

Ketika selesai memandikan dan jasadnya diletakkan pada kain kafan, dan mulai diikat di bawah kakinya, sang ruh berseru lagi,
“Demi Allah wahai tukang memandikan, janganlah engkau ikat terlalu erat pada kepalaku, agar masih terlihat wajah-wajah keluargaku, anak-anakku, dan kerabat-kerabatku lainnya. Karena saat ini terakhir kali aku bisa melihat mereka, aku tidak akan melihatnya lagi hingga hari kiamat tiba!!” 

Ketika dikeluarkan dari rumahnya dan diletakkan di dalam keranda, sang ruh berseru lagi,
“Demi Allah, wahai para pengantarku, janganlah tergesa-gesa membawaku pergi sehingga aku berpamitan kepada rumahku, keluargaku, kerabatku, dan harta-hartaku. Aku tinggalkan istriku menjadi janda, anak-anakku menjadi yatim, karena itu janganlah kalian menyakiti mereka. Biarkanlah aku sesaat untuk mendengarkan suara keluargaku, anak-anakku, dan kerabat-kerabatku, karena aku akan berpisah hingga saat kiamat tiba….!”

Ketika kerandanya dipikul dan keluar tiga langkah dari rumahnya, lagi-lagi sang ruh berseru,
“Hai para kekasihku, saudara-saudaraku dan anak-anakku, janganlah kalian terbujuk oleh dunia sebagaimana dunia telah memperdaya aku!! Janganlah kalian dipermainkan oleh jaman sebagaimana ia telah mempermainkan aku!! Ambillah ibarat (hikmah) dariku!! Sesungguhnya aku meninggalkan untuk ahli warisku apa yang aku kumpulkan, dan aku tidak membawa (manfaat) apapun dari dunia (harta) yang kutinggalkan, bahkan Allah akan menghisabku. Engkau bersenang-senang dengannya (harta peninggalanku itu) dan kalian tidak mendoakan aku!!”

Sungguh nasehat yang sangat berharga. Sayangnya, semua seruan dan teriakan ruh tersebut yang bisa didengar oleh seluruh mahluk, ternyata jin dan manusia tidak bisa mendengarnya. Padahal justru dua jenis mahluk itu yang sebenarnya bisa memperoleh banyak manfaat dan pengajaran jika saja bisa mendengar dan memahami seruan sang ruh. 

Ketika jenazahnya dishalatkan dan sebagian orang lainnya meninggalkan masjid atau musholla, sang ruh berseru lagi,
“Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, aku tahu bahwa orang mati akan dilupakan oleh orang-orang yang masih hidup, akan tetapi janganlah kalian cepat-cepat pulang sebelum kalian melihat tempat tinggalku. Sesungguhnya aku tahu bahwa wajah mayat itu lebih dingin dari pada air yang sangat dingin bagi orang-orang yang masih hidup, tetapi janganlah kalian terlalu cepat pulang meninggalkan aku sendirian!!”

Ketika jenazahnya diletakkan di sisi kuburnya, dan kemudian diturunkan ke liang lahad, sang ruh berseru untuk terakhir kalinya,
“Demi Allah, wahai saudara-saudaraku dan para pengantarku, sesungguhnya aku mendoakan kalian semua tetapi mengapa kalian tidak mau mendoakan aku? Wahai ahli warisku, tidaklah aku kumpulkan harta dunia kecuali aku tinggalkan untuk kalian, maka ingatlah kalian kepadaku dan berbuatlah kebaikan. Setelah aku mengajarkan kalian membaca al Qur’an dan tata krama (adab), hendaklah kalian jangan lupa mendoakan aku!!”

Surga Dan Neraka



Ketika Allah telah selesai menciptakan surga dan neraka, Allah berfirman kepada Malaikat Jibril, “Pergilah ke surga, dan lihatlah apa yang telah Aku persiapkan untuk penghuninya di sana!!”

Malaikat Jibril memenuhi perintah tersebut, dan beberapa waktu kemudian ia datang menghadap kepada Allah dan berkata,
“Ya Allah, demi segala keagungan-Mu, tidak seorangpun yang pernah mendengar tentang surga tersebut, kecuali ia sangat ingin memasukinya!!”

Kemudian Allah memerintahkan seorang malaikat lainnya untuk menghiasi (menutupi) surga tersebut dengan hal-hal yang tidak disukai, dan berbagai macam perintah peribadatan yang harus dilakukan untuk bisa memasukinya. Setelah semua itu selesai, Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk sekali lagi melihat keadaan surga. Ketika kembali ke hadapan Allah, ia berkata,
“Demi segala keagungan-Mu, ya Allah, aku khawatir tidak seorangpun yang akan mampu untuk memasukinya!!”

Setelah itu Allah berfirman lagi kepada Malaikat Jibril, “Pergilah ke neraka, dan lihatlah apa yang telah Aku persiapkan untuk para penghuninya di sana!!”

Malaikat Jibril memenuhi perintah tersebut, dan ia melihat api neraka itu saling menerkam sebagian atas sebagian lainnya. Beberapa waktu kemudian ia datang menghadap kepada Allah dan berkata,
“Ya Allah, demi segala keagungan-Mu, tidak seorangpun yang pernah mendengar tentangnya, kecuali ia sangat ingin lari dari neraka tersebut!!”

Kemudian Allah memerintahkan seorang malaikat lainnya untuk menghiasi (menutupi) neraka tersebut dengan hal-hal yang disukai oleh nafsu syahwat, dan berbagai macam kesenangan lainnya yang terlarang secara syara’. Setelah semua itu selesai, Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk sekali lagi mengunjungi neraka. Ketika kembali ke hadapan Allah, ia berkata,
“Demi segala keagungan-Mu, ya Allah, aku khawatir tidak ada seorangpun yang akan luput dari padanya, dan mereka akan memasukinya!!”

Kata Mutiara Kehidupan Dan Motivasi




1501. Anak muda yang malas belajar, minder tapi suka mencemooh, mudah tersinggung tapi kasar akan akhirnya sukses, jika dia belajar menerima bahwa pasti ada kebaikan di balik dugaan-dugaan buruknya terhadap kehidupan dan maksud Tuhan, lalu bersegera melakukan hal-hal yang selama ini ditundanya, yang diketahuinya sebagai sebab dari kegelisahannya.

1502. Janganlah menikmati penderitaanmu seperti engkau ingin selamanya menderita.

1503. Janganlah hanya rajin memulai, tapi malas menyelesaikan.

1504. Jangan mengikhlaskan diri untuk gaji kecil asal ada pensiun, lalu mengeluh sampai pensiun dan setelahnya.

1505. Jangan katakan bahwa wanita itu matre, jika kita yang memang belum mampu.

1506. Jalan yang tepat tidak akan menyampaikan orang yang tidak bergerak.

1507. Penampilan Anda saat menang bisa mengindikasikan kematangan Anda, tetapi penampilan Anda saat kalah, menentukan penilaian tentang kebesaran pribadi Anda.

1508. Tanpa perbandingan, bagaimana engkau akan mengenal dirimu, dan bagaimana engkau tahu engkau ingin jadi apa?

1509. Semakin kita berpengetahuan, semakin banyak cara yang kita ketahui untuk keluar dari kesulitan dan tumbuh menjadi pribadi yang mampu dan berperan bagi kebaikan sesama.

1510. Janganlah terkungkung dalam pekerjaan yang bahkan untuk membiayai kedamaianmu saja tidak cukup.

1511. Apa pun yang tidak akan menjadikan Anda kuat dan mandiri di masa depan, tinggalkan.

1512. Rasa malas adalah cara Setan mencegahmu mencapai keberhasilanmu.

1513. Orang yang culun tapi rajin, mengalahkan yang keren tapi malas. Yang kasihan: yang culun dan malas.

1514. Dalam bertindak itulah, kita melatih dari untuk mengerti tuntunan Tuhan agar kita menjadi lebih besar dan lebih kuat daripada semua masalah dan resiko. Tegaslah!

1515. Siapa bilang bahwa orang yang tidak tahu tidak akan berhasil? Justru orang yang berpengetahuan tapi tidak menggunakan yang diketahuinya, lebih sering menjadi orang rata-rata, daripada orang yang tidak berpengetahuan tapi cepat memulai dan tabah menyelesaikan yang dimulainya.

1516. Ingin terkenal bukanlah niat yang rendah hati, tapi menjadi dikenal karena kualitas Anda, itu harus.

1517. Hidup ini memang tidak mudah. Dan jadi lebih sulit jika kita hanya mengeluh dan menyalahkan orang lain.

1518. Hati saya selalu luluh penuh doa menyaksikan anak muda yang serba salah tapi ikhlas memperbaiki diri.

1519. Hari ini, marilah kita lebih peka terhadap kesempatan untuk menjadi lebih berharga bagi sesama.

1520. Jangan mendahulukan kesenangan sejenak yang tidak menjadikanmu mampu, dan janganlah menunda yang penting.

1521. Janganlah kau pertahankan sikap hidup yang mendekatkanmu kepada kebodohan dan kemiskinan.

1522. Engkau akan menjadi manusia yang tidak berguna jika engkau suka melakukan yang tidak penting.

1523. Berhati-hatilah, sebagian kesenangan adalah cara happy untuk gagal. Dan tidak ada kebahagiaan dalam kegagalan. Maka, dahulukanlah yang harus kau dahulukan, dan tundalah yang seharusnya terakhir.

1524. Kebesaran orang bukan ditentukan oleh besar atau kecil tubuhnya, tapi oleh besar atau kecil hatinya.

1525. Rasa malas itu meminderkan dan memiskinkan, jika kita gunakan untuk menghindari pelajaran dan pekerjaan. Rasa malas itu baik, jika kita gunakan untuk memudahkan kehidupan.

1526. Alasan utama tertundanya kekayaan adalah kita tidak ikhlas berada di tempat di mana kita bisa dikayakan.

1527. Orang-orang yang sering menaikkan alis kita: One Song Singer atau One Book Expert. Bergeraklah, majulah. Jangan takut lambat. Takutlah jika Anda tidak bergerak.

1528. Jika Anda bekerja untuk menyelamatkan orang lain dari kerugian, Anda akan dikayakan dengan keuntungan mereka. Jika Anda bekerja untuk membantu orang lain mencapai keberhasilan, keberhasilan Anda sudah bukan kemungkinan lagi, tapi keniscayaan.

1529. Aku tak diciptakan untuk kalah. Aku harus berani meninggalkan kebiasaan yang hanya membuatku gelisah dan minder.

1530. Tuhan, teroboskanlah kami melalui kehidupan yang tak mudah ini. Sejahterakan dan bahagiakanlah kami. Aamin.

1531. Tujuan dari semua keberhasilan adalah pulang ke rumah dengan perasaan damai.

1532. Orang yang ahli malas, tidak membutuhkan bantuan Setan untuk gagal.

1533. Hanya orang yang menampilkan kelemahan yang diperlakukan sebagai orang lemah. Kuatkan hatimu dan gagahkanlah sikapmu. Semakin lemah kehidupan seseorang, harus semakin sedikit berteori, dan semakin banyak melakukan.

1534. Ketidaktahuan kita sering menjadi penentu keputus-asaan kita. Jika kita tahu caranya, apa pun bisa!

1535. Dia yang tidak memimpikan yang besar akan sulit untuk merasa berhak mencapai yang besar. Dan engkau tak kan pernah sepenuhnya hidup, jika engkau hanya menunggu kehidupan yang tanpa risiko.

1536. Keberhasilan ada didalam tindakan, bukan di alam rencana.

1537. Seorang pemenang adalah jiwa bersahaja, yang bangkit setiap kali dia jatuh.

1538. Seorang pembenci harus lulus menjadi penyayang, atau menjadi penyesal sepanjang hidup.

1539. Keberuntungan tidak setia kepada kita, kecuali kita setia kepada perilaku yang memberuntungkan.

1540. Jika ingin sama, samalah dengan yang hebat. Jika ingin berbeda, berbedalah dari yang buruk.

1541. Teruskanlah hidupmu sebagai pribadi yang kembali polos dan ikhlas bersikap dan bekerja yang memantaskanmu bagi rezeki yang baik.

1542. Sesungguhnya, kehidupanmu sudah lama dimulai, hanya saja apakah dirimu sudah memulai?

1543. Keberhasilan lebih menarik daripada selembar kulit di wajah yang kebetulan bagus saat muda.

1544. Banyak orang mencari pekerjaan impian mereka, yang akan membawa mereka mencapai sukses dan ketenaran, tapi tidak menyadari bahwa melakukan apa pun pekerjaan mereka sekarang dengan sebaik-baiknya adalah syarat untuk diberikan pekerjaan lain yang lebih baik.

1545. Jadilah pribadi yang lebih menarik bagi mereka yang lebih berkelas daripada yang mengkhianatimu.

1546. Betapa pun kelamnya masa lalumu, masa depanmu masih suci. Maafkanlah dirimu, dan majulah.

1547. Saat muda dulu, jika merasa minder, saya katakan dalam hati: Kemiskinanku sementara. I am on my way up!

1548. Rencana Tuhan selalu berakhir dengan kebaikan. Kita tinggal mematuhinya.

1549. Lebih baik menjelaskan mengapa Anda gagal, daripada menjelaskan mengapa Anda tidak mencoba.

1550. Kita lebih cepat melihat kesulitan, daripada melihat kemudahan. Itu sebabnya kita lebih mudah berkecil hati.

Nabi Idris AS Menyiasati Malaikat Izrail



Menurut sebagian riwayat, Nabi Idris AS belum pernah mengalami kematian ketika hidupnya di dunia seperti halnya Nabi Isa as, hanya saja mempunyai kisah dan keadaan yang berbeda.
Tentang Nabi Isa as dalam versi kita kaum muslimin, ketika pasukan kaum Yahudi berhasil menemukan tempat persembunyian Nabi Isa as dan para sahabat beliau kaum Hawariyyun, Allah SWT mengangkat beliau ke langit, kemudian Allah menyerupakan wajah Yudas Iskariot menyerupai wajah Nabi Isa. Murid beliau yang satu ini berkhianat dan menunjukkan persembunyian beliau kepada kaumYahudi karena iming-iming harta kekayaan. Yudas Iskariot inilah yang ditangkap, disalib, kemudian dibunuh oleh orang-orang Yahudi karena memang memiliki wajah Nabi Isa AS.

Sedang tentang Nabi Idris AS, semuanya berawal dari malaikat maut yang ingin bersahabat dengan beliau. Keinginan dan kerinduan Izrail itu muncul karena setiap hari (pada waktu ashar) dan malamnya (pada waktu subuh) ia melihat begitu indah dan cemerlangnya amal-amal Nabi Idris AS yang diangkat ke langit.

Maka Izrail memohon kepada Allah SWT merealisasikan keinginannya itu, dan Allah mengabulkannya.
Maka Izrail menjelma menjadi manusia dan turun ke bumi.
Nabi Idris AS mempunyai amalan berpuasa setiap harinya sepanjang masa, dan berdiri untuk shalat sepanjang malam setelah waktu berbukanya, hingga matahari terbit.

Izrail dalam bentuk manusia datang bertamu, setelah mengucap salam dan diijinkan untuk masuk, ia langsung duduk di sebelah Nabi Idris. Beliau berkata;
“Apakah engkau mempunyai keperluan dengan aku?”
Tentu saja Nabi Idris AS tidak mengetahui kalau tamunya itu adalah malaikat maut, disangkanya hanya manusia biasa seperti kebanyakan tamu beliau. Izrail berkata;
“Tidak, aku hanya ingin menemani engkau jika diijinkan!”
Nabi Idris mengijinkannya dan beliau meneruskan aktivitas pekerjaan.

Sebagian riwayat menyebutkan, pekerjaan beliau adalah seorang penjahit. Setelah tiba waktu berbuka, datang malaikat dengan membawa hidangan surga.
Nabi Idris menghadapi hidangan itu sambil berkata kepada tamunya;
“Marilah makan bersamaku!”
Tentu saja Izrail tidak memerlukan makanan-makanan itu, maka ia menolak dan mempersilahkan Nabi Idris berbuka dan makan sendirian saja.

Usai berbuka, beliau langsung meneruskan beribadah seperti biasanya, berdiri untuk shalat sepanjang malam itu, sementara Izrail tetap duduk di tempatnya seperti sebelumnya.
Ketika matahari terbit dan Nabi Idris mengakhiri ibadah shalatnya, ia keheranan karena tamunya itu masih saja duduk menemaninya tanpa banyak perubahan seperti sebelumnya. Keheranan yang tidak perlu andai saja beliau tahu kalau tamunya itu seorang malaikat.

Pada pagi hari seperti itu biasanya Nabi Idris mulai bekerja menjahit, tetapi karena hari itu mempunyai tamu yang dalam sehari-semalam ini hanya duduk menemaninya, beliau berkata:
“Wahai Tuan, apakah tuan bersedia berjalan-jalan bersamaku sehingga engkau merasa senang?”
Izrail berkata:
“Baiklah!”

Mereka berdua berjalan, hingga ketika sampai pada suatu ladang, Izrail berkata:
“Apakah engkau mengijinkan aku mengambil beberapa tangkai dari tanaman ini untuk makanan kita berdua?”
“Subkhanallah,” Kata Nabi Idris, “Kemarin aku mengajak makan tetapi engkau menolak makanan yang jelas halalnya, tetapi hari ini engkau ingin makan dari yang haram!”
Malaikat Izrail hanya tersenyum mendengar jawaban itu, kemudian mereka melanjutkan perjalanan.

Mereka terus berjalan hingga empat hari lamanya, dan setiap kali masuk waktu berbuka, datang malaikat membawa hidangan untuk Nabi Idris. Setiap kali beliau mengajak makan hidangan surga itu, tentu saja Malaikat Izrail menolak. Akhirnya Nabi Idris menyadari kalau tamunya ini bukanlah manusia biasa, beliau berkata:
“Sebenarnya siapakah tuan ini?”
Izrail berkata:
“Saya adalah malaikat maut?”
Nabi Idris terkejut mendengarnya, dan berkata:
“Jadi engkau yang mencabut nyawa?”
“Ya,” Jawab Izrail.
Beliau berkata lagi:
“Engkau selalu berada di sisiku sejak empat hari yang lalu, apakah engkau juga mencabut nyawa seseorang (selama itu)?”
Izrail menjawab:
“Ya, bahkan banyak sekali aku mencabut nyawa!”
Beliau berkata:
“Bagaimana engkau melakukannya?”
Izrail berkata:
“Ruh-ruh semua mahluk itu ada di depanku, sebagaimana sebuah hidangan makanan. Mudah sekali aku meraih dan mengambilnya (yang telah tiba waktunya), seperti halnya engkau mengambil makanan di depanmu!”
Nabi Idris manggut-manggut tanda mengerti, walau mungkin beliau tidak melihat langsung bagaimana Malaikat Maut mencabut nyawa seseorang, pada saat yang sama sedang berjalan bersama dirinya selama empat hari terakhir.
Beliau berkata lagi:
“Apakah maksud kedatangamu kepadaku, sekedar berkunjung atau untuk mencabut nyawaku?”
Izrail berkata:
“Aku datang sekedar berziarah kepadamu dengan seizin Allah SWT!”

Sejenak Nabi Idris AS terdiam seperti memikirkan sesuatu, kemudian berkata;
“Wahai Malaikat Maut, kebetulan sekali, sesungguhnya aku mempunyai hajat (keperluan) kepadamu!”
“Apa hajatmu kepadaku?”
“Hajatku kepadamu adalah, hendaklah engkau mencabut nyawaku, dan aku memohon kepada Allah agar Dia menghidupkan aku lagi, sehingga aku bisa makin giat beribadah setelah aku merasakan sakitnya sakaratul maut!”
Izrail berkata;
“Aku tidak bisa mencabut nyawa seseorang kecuali atas seizin Allah, yakni yang telah sampai pada saat ajalnya. Sedangkan saat ini belum tiba saat ajalmu!”

Tetapi sesaat kemudian turun perintah Allah kepada Izrail agar mencabut nyawa Nabi Idris.
Maka Izrail memberitahukan perintah Allah tersebut kepada Nabi Idris, yang dengan senang hati menerimanya.
Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris dan beliau meninggal, tetapi setelah itu Izrail menangis tersedu-sedu karena merasa kehilangan sahabatnya dalam empat hari tersebut. Ia terus menangis dan merendahkan diri kepada Allah, sambil meminta agar Allah menghidupkan kembali Nabi Idris.

Setelah beberapa waktu lamanya Izrail dirundung kesedihan, Allah menghidupkan kembali Nabi Idris. Tentu saja Izrail sangat gembira, dan ia berkata:
“Bagaimana engkau merasakan sakitnya kematian?”
Nabi Idris berkata:
”Sesungguhnya hewan ketika dikelupas kulitnya (dikuliti) dalam keadaan hidup, maka sakitnya kematian itu seribu kali lebih sakit daripada itu!”
Izrail berkata:
“Sesungguhnya aku bersikap sangat lembut dan sangat hati-hati ketika mencabut nyawamu, yang belum pernah aku lakukan sebelumnya kepada siapapun!”
Nabi Idris berkata lagi:
“Aku masih mempunyai hajat kepadamu, sesungguhnya aku ingin melihat neraka jahanam, dan aku berharap bisa makin giat beribadah kepada Allah setelah melihat siksaan, rantai, belenggu dan berbagai macam azab neraka lainnya!”
Izrail berkata:
“Bagaimana aku bisa membawamu ke neraka jahanam tanpa seizin Allah!”

Tetapi sesaat kemudian Allah berfirman kepadanya untuk memenuhi permintaan Nabi Idris tersebut.
Izrail membawa beliau mengunjungi jahanam, memperlihatkan berbagai macam siksaan yang dipersiapkan bagi orang-orang yang mendurhakai Allah, seperti rantai dan belenggu api, ular, kalajengking, aspal, air yang mendidih, zaqqum dan berbagai macam siksaan lainnya. Semua itu membuat Nabi Idris menggigil penuh ketakutan, setelah itu ia membawa beliau kembali ke tempat semula di dunia.

Kemudian Nabi Idris berkata lagi:
“Wahai Malaikat Maut, aku masih mempunyai hajat lainnya kepadamu, yakni bawalah aku ke surga. Jika aku telah melihat dan merasakan kenikmatan surga, aku akan lebih bersemangat dalam beribadah dan melaksanakan ketaatan kepada Allah!”
Lagi-lagi Izrail berkata:
“Bagaimana mungkin aku membawamu ke surga tanpa seizin Allah!”

Dan seperti sebelumnya, Allah menurunkan perintah-Nya agar membawa Nabi Idris ke surga seperti permintaannya.
Segera saja Izrail membawa beliau, dan berhenti di pintu surga, yang dari sana telah terlihat berbagai kenikmatan di dalamnya, tetapi tidak membawa beliau masuk ke dalamnya.
Maka Nabi Idris berkata:
"Wahai saudaraku, aku telah merasakan sakitnya kematian, merasakan (pengaruh) dahsyatnya siksa neraka dan keterkejutan melihatnya. Apakah engkau berkenan meminta kepada Allah agar mengizinkan aku memasuki surga, sekedar minum seteguk airnya, untuk menghilangkan bekas-bekas sakitnya kematian dan dahsyatnya siksaan neraka!”
Izrail memanjatkan doa kepada Allah sesuai permintaan beliau, dan Allah mengabulkan serta mengizinkannya.
Maka Nabi Idris memasuki surga dan hanya minum seteguk air sesuai janjinya.
Tetapi sebelum keluar lagi, beliau meninggalkan terompah beliau di bawah pohon. Setelah berada di pintu surga lagi bersama Izrail, Nabi Idris berkata:
“Wahai Malaikat Maut, terompahku tertinggal di surga, aku akan mengambilnya!”

Nabi Idris segera masuk ke surga, tetapi beberapa waktu lamanya Izrail menunggu beliau tidak keluar juga, maka ia berkata:
“Wahai Idris, segeralah keluar!”
Nabi Idris menyahut dari dalam surga:
“Wahai Malaikat Maut, aku telah mendengar firman Allah bahwa tidak seorang manusia-pun kecuali akan merasakan sakitnya kematian, kemudian akan mendatangi neraka dan merasakan (walau hanya sedikit pengaruhnya) beratnya siksaan di dalamnya. Dan kalau beruntung, dia akan mendatangi surga dan merasakan kenikmatan di dalamnya, dan tidak pernah dikeluarkan lagi. Sesungguhnya aku telah merasakan seperti itu, dan kini telah masuk ke surga, maka aku tidak akan keluar lagi!”
Mendengar hujjah (argumentasi) itu Malaikat Izrail jadi ketakutan. Bagaimanapun semua itu terjadi berawal dari keinginannya untuk bersahabat dengan Nabi Idris. Ia takut Allah akan murka kepada dirinya karena sikap Nabi Idris yang tidak mau keluar dari surga, kembali ke dunia seperti semula.
Tetapi kemudian Allah berfirman kepadanya:
“Wahai Izrail, biarkanlah dia di sana, sesungguhnya telah menjadi ketetapan-Ku sejak zaman azali bahwa ia termasuk ahlul jannah!”

Sandaran Untuk Masa Depan



Alkisah, ada seorang anak yang bertanya pada ibunya, “Ibu, temanku tadi cerita kalau ibunya selalu membiarkan tangannya sendiri digigit nyamuk sampai nyamuk itu kenyang supaya ia tak menggigit temanku. Apa ibu juga akan berbuat yang sama?”
Sang ibu tertawa dan menjawab terus terang, “Tidak. Tapi, Ibu akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam supaya tidak sempat menggigit kamu atau keluarga kita.”

Mendengar jawaban itu, si anak tersenyum dan kembali meneruskan kegiatan bermainnya. Tak berapa lama kemudian, si anak kembali berpaling pada ibunya. Ternyata mendadak ia teringat sesuatu.
“Terus Bu, aku waktu itu pernah dengar cerita ada ibu yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. Kalau ibu bagaimana?” Anak itu mengajukan pertanyaan yang hampir sama.
Kali ini sang Ibu menjawab dengan suara lebih tegas, “Ibu akan bekerja keras agar kita semua bisa makan sampai kenyang. Jadi, kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ibumu menahan lapar.”

Si anak kembali tersenyum, dan lalu memeluk ibunya dengan penuh sayang. “Makasih, Ibu. Aku bisa selalu bersandar pada Ibu.”
Sembari mengusap-usap rambut anaknya, sang Ibu membalas,
“Tidak, Nak! Tapi Ibu akan mendidikmu supaya bisa berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, agar kamu nantinya tidak sampai jatuh tersungkur ketika Ibu sudah tidak ada lagi di sisimu. Karena tidak selamanya ibu bisa mendampingimu.”

Ada berapa banyak orang tua di antara kita yang sering kali merasa rela berkorban diri demi sang buah hati? Tidak sadarkah kita bahwa sikap seperti itu bisa menumpulkan mental pemberani si anak?
Jadi, adalah bijak bila semua orang tua tidak hanya menjadikan dirinya tempat bersandar bagi buah hati mereka, melainkan juga membuat sandaran itu tidak lagi diperlukan di kemudian hari. Adalah bijak jika para orang tua membentuk anak-anaknya sebagai pribadi mandiri kelak di saat orang tua itu sendiri tidak bisa lagi mendampingi anak-anaknya di dunia.