Cari Artikel

Tamak Kepada Harta Dunia



Nabi Isa AS terkenal sebagai seorang Nabi yang sangat zuhud.
Suatu ketika ada seorang lelaki Bani Israil mendatangi beliau yang sedang sendirian dan berkata,
“Wahai Isa, saya ingin bersahabat dan selalu bersamamu!”
Nabi Isa berkata,
“Baiklah, marilah berjalan mengikutiku!”

Beberapa waktu lamanya berjalan menyusuri sungai, lelaki yang mengikuti beliau itu tampaknya merasa lapar. Nabi Isa mengajaknya beristirahat, dan beliau mengeluarkan tiga potong roti dari balik baju beliau yang kumuh. Entah, kapan beliau membelinya atau sejak kapan beliau menyimpannya di balik baju tersebut? Padahal dengan kezuhudannya, beliau tidak pernah membawa atau menyimpan makanan atau harta apapun ke manapun beliau pergi.

Nabi Isa menaruh tiga potong roti itu di depan mereka berdua, beliau makan satu potong dan lelaki itu ikut makan satu potong juga. Tersisa satu potong yang dibiarkan begitu saja.
Nabi Isa turun ke sungai untuk minum air, dan ketika kembali kepada lelaki teman seperjalanannya itu, sepotong roti yang tersisa itu telah hilang atau habis.
Nabi Isa bertanya,
“Siapakah yang mengambil sepotong roti itu?”
“Saya tidak tahu!!” Katanya.

Nabi Isa memandangnya sesaat dengan tajam, kemudian mengajaknya pergi melanjutkan perjalanan. Beberapa waktu lamanya perjalanan, mereka tiba di pinggiran suatu hutan. Beliau melihat seekor rusa dengan dua ekor anaknya, dan beliau memanggil salah satu anaknya. Setelah mendekat, beliau menyembelih dan membakarnya, dan memakan dagingnya berdua dengan temannya itu hingga habis. Setelah itu itu Nabi Isa memanggil anak rusa tersebut, dan dengan ijin Allah, tulang-belulangnya dengan tiba-tiba telah kembali menjadi anak rusa yang utuh dan berlari kembali ke induknya. Lelaki itu hanya bisa memandang dengan perasaan takjub.

Nabi Isa berkata kepada temannya itu,
“Demi Allah yang telah menunjukkan padamu bukti kekuasaan-Nya ini, siapakah yang mengambil sepotong roti yang ke tiga itu?”
“Saya tidak tahu!!” Kata lelaki itu, masih bertahan dengan jawabannya semula.

Lagi-lagi Nabi Isa hanya memandangnya sesaat dengan tajam, kemudian mengajaknya melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, mereka terhalang oleh sungai yang cukup lebar, tidak ada tukang perahu atau rakit yang bisa dimintai tolong. Maka Nabi Isa memegang tangan lelaki itu, dan menuntunnya berjalan di atas permukaan air dengan tenangnya. Ketika telah sampai di seberang, beliau berkata lagi,
“Demi Allah yang telah menunjukkan padamu bukti kekuasaan-Nya ini, siapakah yang mengambil sepotong roti yang ke tiga itu?”
“Saya tidak tahu!!” Kata lelaki itu, masih saja bertahan dengan jawabannya.

Seperti sebelumnya, Nabi Isa hanya memandangnya sesaat dan mengajaknya meneruskan perjalanan. Tiba di tengah hutan, mereka beristirahat, Nabi Isa mengambil segenggam tanah dicampur dengan kerikil, dan mengepalnya menjadi tiga bagian sama besar. Setelah itu beliau bersabda,
“Dengan ijin Allah, jadilah kalian emas!!”

Tiga gumpalan tanah itu menjadi emas, lelaki itu tampak berbinar-binar matanya. Nabi Isa berkata sambil lalu,
“Satu emas untukku, satu emas untukmu, dan satunya lagi untuk orang yang mengambil sepotong roti yang ke tiga itu!”
Segera saja lelaki itu berkata,
“Wahai Nabi Isa, akulah orang yang memakan roti yang ketiga itu!”
Nabi Isa bangkit berdiri, dan berkata,
“Ini, ambillah semua emas ini, aku tidak memerlukannya, tetapi jangan pernah mengikuti aku lagi!”

Nabi Isa pergi meninggalkannya, tetapi tampaknya ia tidak perduli lagi. Bahkan sampai beliau hilang dari pandangan, dengan tamaknya, ia masih asyik membolak-balik emas yang penuh ajaib tersebut.

Tetapi tiba-tiba datang dua orang yang bermaksud merampas hartanya, untungnya ia mempunyai kemampuan bernegosiasi. Dengan bujuk rayu, ia berhasil menggagalkan maksud ke duanya dan menjanjikan untuk membagi tiga harta yang dimilikinya sama rata, mereka berdua menyetujuinya.

Kini mereka bertiga berjalan bersama layaknya seorang sahabat akrab.
Ketika merasa lapar, ia memberi uang kepada salah satu dari orang tersebut untuk membeli makanan di warung yang tempatnya agak jauh.

Setelah temannya berlalu pergi, keduanya berbincang-bincang. Ia berkata,
“Untuk apa kita mesti membagi tiga harta ini. Sebaiknya kita bagi untuk kita berdua saja. Jika temanmu itu datang, kita bunuh saja, gimana?”
“Ide yang brillian! Biar aku yang melakukannya jika nanti ia muncul” Kata lelaki satunya, yang tampaknya tidak kalah tamaknya dengan teman barunya itu.

Tetapi sepertinya ketamakan itu juga tengah meliputi lelaki yang sedang disuruh membeli makanan itu. Terbersit dalam pikirannya,
“Untuk apa susah-susah membagi hartanya itu, semua itu adalah milikku. Biarlah makanannya nanti kucampuri dengan racun!”

Setelah ia makan sepuas-puasnya di warung, dan meminta dua porsi makanan lainnya dibungkus, ia pergi membeli racun dan mencampurkannya dengan makanan dua temannya itu. 

Begitulah, ketika ia kembali, temannya langsung memukulinya dengan kayu yang cukup besar sehingga ia tewas seketika. Mereka berdua sangat gembira, mudah sekali memujudkan rencananya itu. Karena perut keroncongan, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum membagi hartanya. Tetapi belum sampai setengah porsi mereka habiskan, leher mereka itu serasa tercekik dan mereka jatuh terguling, mati dengan mulut berbusa dan wajah membiru karena racun yang sangat kuat. 

Tidak berlalu lama, Nabi Isa bersama beberapa orang sahabat beliau melewati tempat tersebut dan mendapati tiga mayat dengan harta berserakan di sekitarnya. Beliau mengenali satunya sebagai orang yang pernah mengikuti beliau itu. Beliau berpesan kepada sahabat-sahabatnya,
“Inilah contohnya (tamak kepada) dunia, hendaklah kalian berhati-hati dengan harta dunia ini!”

Keislamannya Istri Pembesar Quraisy



Hindun binti Uqbah adalah istri Abu Sufyan, pembesar Mekah. Tadinya ia sangat membenci Islam. Dalam perang Badar ia kehilangan ayah, paman dan kakaknya yang berhasil di bunuh pasukan Muslim. Dalam peperangan lain, ia pun kehilangan anak-anaknya.

Pada perang Uhud, Hindun berusaha membalaskan dendamnya dengan menyuruh budaknya, Wahsyi. Untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah saw)
Setelah Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, Hindun mencincang jenazah paman Rasul yang mulia itu.

Rasulullah dan para sahabatnya sangat murka melihat perbuatan keji ini sampai Allah SWT menurunkan ayat yang menentramkan mereka.
Kini Rasulullah saw dan pasukannya berhasil menaklukkan Mekah hampir tanpa kekerasan sama sekali.

Disaat itu Hindun binti Uqbah terbuka hatinya. Bersama perempuan Quraisy lainnya, Hindun mendatangi Rasulullah saw di Abtah untuk memberikan sumpah setia kepada Islam. Namun ia ragu apakah Rasulullah saw mau mema'afkan perbuatannya dimasa lalu. Maka ia mengenakan kerudung untuk menutupi wajahnya.

Setelah bertemu Rasulullah saw, Hindun berkata;
"Rasulullah, puji syukur kepada Allah yang telah memberi kemenangan kepada Dien (agama) yang di pilihNya sendiri sehingga aku mendapat manfaat dengan berkahmu"
Hindun menghela nafas sejenak, kemudian berkata lagi;
"Muhammad, aku seorang wanita yang mengimani Allah dan mengakui RasulNya"
Setelah itu ia membuka kerudungnya seraya berkata;
"Aku Hindun binti Uqbah"
Waktu itu Hindun tidak tahu apakah Rasulullah saw mau memaafkannya.
Alangkah leganya ketika ia mendengar Rasulullah saw bersabda;
"Ahlan wa sahlan, selamat datang (dalam agama Islam)"
Hindun berkata lagi;
"Demi Allah, dulu tidak seorang pun di muka bumi ini dari orang-orang di negri manapun yang lebih ingin aku lecehkan selain tanah tempatmu berdiri. Kini tak seorang pun di muka bumi ini yang tanahnya lebih aku ingin agungkan selain tanah tempatmu berpijak"
Rasulullah saw menerima pernyataan itu, lalu membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Setelah itu Hindun pulang dan menghancurkan berhala-berhala di rumahnya dengan kapak sambil berkata;
"Kami tertipu olehmu"

Hindun menjadi muslimah yang baik berkat pemberian maaf yang begitu indah dari Rasulullah saw.

Bagi Allah, Engkau Sungguh Tak Ternilai Harganya



ZAHIR, Seorang Badui miskin, cacat dan tua, tengah menjual barang di pasar.
Nabi SAW bermaksud mengejutkan dia.

Nabi datang dari arah belakang Zahir dan mengunci tubuh Zahir dari arah belakangnya.
Zahir terkejut, dan ia segera saja berusaha untuk mencari tahu siapa yang sudah mengunci tubuhnya dari belakang itu.
Begitu ia melihat bahwa itu adalah Nabi SAW ia sangat kaget. Spontan ia berdiri diam dan memeluknya.

Kemudian Nabi SAW bercanda seraya menyapa orang-orang yang lewat,
“Siapa yang mau membeli orang ini?”
Zahir, yang masih dipeluk oleh Nabi, tertawa. Ia kemudian berkata,
“Saya tidak punya apa-apa, tidak seorang pun akan membeli saya.”
Zahir berkata begitu karena usianya sudah tua dan tubuhnya cacat.
Nabi SAW mengatakan kepadanya,
“Tapi bagi Allah, Engkau sungguh mahal dan tak ternilai harganya."

Salah Satu Hikmah Dari Menikah



Seorang pemuda menghabiskan banyak waktunya untuk ibadah, dan sedikit waktu untuk bekerja mencari penghasilan, sekedar memenuhi kebutuhannya yang memang tidak banyak. Ketika orang tua dan kerabatnya bermaksud menikahkannya, ia selalu saja menolak. Ia beranggapan bahwa kesibukannya mengurus istri dan anak-anak hanya akan mengganggu ibadahnya kepada Allah.

Pemuda itu makin disukai banyak orang karena kesalehannya, dan banyak di antaranya yang ingin mengambilnya sebagai menantu. Di jaman itu, ukuran keutamaan seseorang di masyarakat adalah akhlak dan kesalehannya, tidak seperti sekarang ini yang lebih mengacu pada harta dan profesinya. Karena itu, walau pekerjaannya hanya sekedarnya yang mungkin tidak bisa mencukupi kebutuhan suatu keluarga, banyak sekali orang yang ingin melamar pemuda itu untuk dinikahkan dengan putrinya. Tetapi pemuda tersebut menolak dan tetap teguh dengan pendiriannya, dan makin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya kepada Allah.

Suatu hari ketika bangun dari tidurnya, tiba-tiba saja pemuda itu berkata, “Nikahkanlah aku, nikahkanlah aku!!”

Orang tua dan para kerabatnya yang ada di situ, saling berpandangan penuh keheranan. Salah seorang dari mereka berkata,
“Mengapa tiba-tiba engkau minta menikah, padahal selama ini engkau selalu menolaknya walau banyak yang menginginkan dirimu?”
Pemuda itu berkata,
“Saya ingin mempunyai anak yang banyak, dan ada di antara mereka yang meninggal ketika masih kecil (belum baligh), dan saya akan bersabar karenanya!”

Sekali lagi orang tua dan kerabatnya berpandangan tidak mengerti, sepertinya tidak ada hubungannya dengan keinginannya yang tiba-tiba itu. Pemuda itu mengerti kebingungan mereka, dan ia menceritakan kalau baru saja bermimpi, seolah-olah kiamat telah tiba. Ia berdiri di padang Makhsyar dalam keadaan panas dan haus yang tidak terperikan, seolah-olah akan mematahkan lehernya. Tidak ada sesuatu yang bisa diminum untuk menghilangkan rasa haus dan panas itu, dan sepertinya penderitaan itu akan berlangsung sangat lama.
Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ia melihat anak-anak yang berjalan dan bergerak di antara begitu banyak orang dengan membawa gelas-gelas perak yang ditutup dengan saputangan dari cahaya. Mereka itu mencari-cari dan ketika menemukan seseorang, mereka memberikan minuman dalam gelas tersebut. Ketika beberapa anak melewatinya, ia mencoba mengulurkan tangan mengambil gelas itu sambil berkata,
“Berikanlah kepadaku karena aku juga sangat haus!”
Anak-anak itu menghalangi maksudnya, mereka memandanginya beberapa saat, kemudian berkata,
“Anda tidak mempunyai anak di antara kami, dan kami hanya memberikan minuman kepada ayah dan ibu kami!”
Pemuda itu berkata,
“Siapakah kalian ini!!”
Mereka menjawab,
“Kami adalah anak-anak dari kaum muslimin, dan kami meninggal sewaktu kami masih kecil, dan orang tua kami bersabar dengan musibah dari Allah tersebut!!”

Pemuda itu berkata kepada orang tua dan kerabat yang mengitarinya,
“Saat itu aku sangat menyesal dan menangisi nasibku karena tidak mau menikah. Mungkin itu hukumanku karena tidak mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Tetapi tiba-tiba aku terbangun dan semua peristiwa itu ternyata hanya dalam mimpi, walau sepertinya sangat jelas dan terasa nyata. Karena itulah aku tiba-tiba berteriak minta segera dinikahkan!”

Abu Hurairah RA



Abu Hurairah, atau nama aslinya Abdu Syamsi bin Sakher hanyalah seorang buruh upahan penggembala kambing dari keluarga Busrah bin Ghazwan, salah satu pemuka dari kabilah Bani Daus di Yaman. Tetapi sepertinya Allah menghendaki akan meningkatkan derajadnya setinggi mungkin, dengan jalan membawanya kepada hidayah Islam.

Ketika salah satu pemuka Bani Daus, yakni Thufail bin Amr ad Dausi melaksanakan ibadah haji ke Makkah (tentunya sebagai ritual ibadah jahiliah) pada tahun ke 11 dari kenabian, ia bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebenarnya kaum kafir Quraisy telah menasehati dirinya agar tidak bertemu Nabi SAW, tidak hanya sekali tetapi berkali-kali ia diingatkan. Tetapi justru karena intensitas peringatan itu yang membuatnya penasaran dan tergelitik untuk menemui Nabi SAW, dan akhirnya memeluk Islam.
Sepulangnya ke Yaman, ia mendakwahkan Islam kepada kaumnya. Pada mulanya hanya sedikit saja orang yang menanggapi seruannya, yang salah satunya adalah Abu Hurairah tersebut.

Pada awal tahun 7 hijriah, Nabi SAW berencana menggerakkan pasukan untuk menyerang kaum Yahudi di Khaibar. Kabar ini sampai juga ke Yaman, maka Thufail bin Amr mengajak kaum muslimin dari kabilahnya, Bani Daus untuk berhijrah ke Madinah dan menyertai Nabi SAW dalam medan jihad tersebut. Walau dalam keadaan miskin dan tidak memiliki harta yang mencukupi, Abu Hurairah turut juga menyambut seruannya, dan bergabung dalam rombongan hijrah ini.

Setibanya di Madinah, ternyata Nabi SAW dan sebagian besar sahabat baru saja berangkat ke Khaibar. Rombongan Bani Daus tersebut langsung menyusul ke Khaibar untuk bergabung dengan pasukan Nabi SAW, tetapi Abu Hurairah tertinggal di Madinah karena tidak memiliki kendaraan dan perbekalan.
Usai shalat subuh keesokan harinya, Abu Hurairah bertemu shahabat yang ditunjuk menjadi wakil Nabi SAW di Madinah, yakni Siba' bin Urfuthah al Ghifary (atau sebagian riwayat menyebutkan Numailah bin Abdullah al Laitsy), ia memberi Abu Hurairah kendaraan dan perbekalan untuk bisa menyusul ke Khaibar. Ia berhasil menjumpai Nabi SAW, dan beliau menyuruhnya langsung bergabung dengan pasukan yang telah siap bertempur.

Dalam pertemuan pertama itu, Nabi SAW bersabda kepadanya,
“Siapakah namamu?”
Abu Hurairah berkata,
“Abdu Syamsi!!”

Abdu Syamsi artinya adalah hamba atau budaknya matahari. Tampaknya Rasulullah SAW kurang berkenan dengan namanya itu, maka beliau bersabda, “Bukankah engkau Abdur Rahman!!”

Maksud Nabi SAW adalah ia dan manusia semua itu adalah hamba Allah Ar-Rahman, maka dengan gembira Abu Hurairah berkata,
“Benar, ya Rasulullah, saya adalah Abdurrahman!!”

Sejak itu namanya berganti dari Abdu Syamsi bin Sakher menjadi Abdurrahman bin Sakher, sesuai dengan pemberian Nabi SAW. Sedangkan nama gelaran Abu Hurairah yang berarti ‘bapaknya kucing (betina)’, berawal ketika ia menemukan seekor anak kucing yang terlantar, maka ia mengambil dan merawatnya. Setelah itu ia selalu membawa anak kucing itu dalam lengan jubahnya kemanapun ia pergi, sehingga orang-orang memanggilnya dengan Abu Hurairah. Ketika Nabi SAW mendengar kisah tentang nama gelarannya itu, beliau terkadang memanggilnya dengan nama ‘Abul Hirr”, yang artinya adalah : bapaknya kucing (jantan).

Sepulangnya dari Khaibar, sebagaimana sahabat pendatang (Muhajirin) miskin lainnya, Nabi SAW menempatkan Abu Hurairah di serambi masjid yang dikenal sebagai Ahlus Shuffah, yang berarti menjadi tetangga Nabi SAW. Mereka tidak makan kecuali apa yang diberikan Nabi SAW, sehingga mereka sering mengalami hal-hal yang bersifat mu'jizat dalam hal ini. Misalnya Nabi SAW mendapat hadiah segantang susu, beliau akan menyuruh Abu Hurairah memanggil seluruh penghuni Ahlus Shuffah yang berjumlah sekitar 70 orang (sebagian riwayat, 40 orang) untuk menikmati susu tersebut, dan mencukupi. Kadang hanya sepanci masakan daging, atau setangkup kurma, atau sedikit makanan lainnya, tetapi mencukupi untuk mengenyangkan keluarga Nabi SAW dan para penghuni Ahlus Shuffah.

Sebagai buruh gembala kambing, Abu Hurairah juga seorang yang buta huruf (ummi). Tetapi kalau Allah SWT memang telah berkehendak akan memberikan kemuliaan kepada seseorang, mudah sekali ‘jalannya’ walau mungkin ia memiliki banyak kekurangan, bahkan derajad yang rendah dalam pandangan manusia. Seperti halnya terjadi pada Bilal bin Rabah, ternyata Allah SWT mengaruniakan kelebihan lain pada Abu Hurairah, yakni otak yang sangat jenius sehingga mempunyai kemampuan menghafal yang tidak ada bandingannya. Dengan karunia Allah ini, akhirnya ia menjadi seseorang yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW.

Kemampuan Abu Hurairah tersebut ternyata didukung dengan berkah yang diperolehnya dari Nabi SAW. Suatu ketika Nabi SAW pernah bersabda pada beberapa sahabat,
"Siapa yang membentangkan surbannya di depanku hingga selesai pembicaraanku, kemudian meraihnya atau menangkupkan ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan sesuatu apapun yang didengarnya dari diriku…"

Abu Hurairah bereaksi cepat mendahului para sahabat lainnya membentangkan surbannya di depan Nabi SAW.Setelah beliau selesai berbicara, ia segera menangkupkan surbannya tersebut ke dirinya.

Dalam peristiwa lainnya, Abu Hurairah bersama dua orang sahabat lainnya tengah berdzikir dan berdoa. Tiba-tiba Nabi SAW datang sehingga mereka menghentikan aktivitasnya untuk menghormati, tetapi beliau bersabda, “Lanjutkanlah doa kalian!!”

Maka salah seorang sahabat melanjutkan berdoa, dan setelah ia selesai berdoa, Nabi SAW mengaminkannya. Sahabat satunya ganti berdoa, dan setelah selesai Nabi SAW mengaminkan doanya. Giliran Abu Hurairah, ia berdoa,
“Wahai Allah, aku memohon kepadamu, apa yang dimohonkan oleh dua sahabatku ini, dan aku juga bermohon kepada-Mu karuniakanlah kepadaku ilmu yang tidak akan dapat aku lupakan!!”

Nabi SAW tersenyum mendengar doa Abu Hurairah itu dan mengaminkannya pula.

Setelah kejadian itu, ia tidak pernah terlupa apapun yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW. Ia pernah berkata tentang kemampuannya itu, walau bukan bermaksud menyombongkan dirinya,
"Tidak ada sahabat Nabi SAW yang lebih hafal daripada aku akan hadits-hadits beliau, kecuali Abdullah bin Amr bin Ash, karena ia mendengar dan menuliskannya, sedangkan aku mendengar dan menghafalkannya."

Sebenarnyalah cukup banyak sahabat yang mempertanyakan bagaimana mungkin ia tahu begitu banyak hadits-hadits Nabi SAW padahal ia tidak termasuk sahabat yang memeluk Islam dan bergaul langsung dengan beliau sejak awal. Tetapi sebenarnya mudah dipahami dengan melihat kondisi yang ada. Walaupun hanya sekitar empat tahun hidup bersama Nabi SAW, tetapi ia hampir selalu bersama-sama beliau, kecuali ketika beliau sedang bersama istri-istri beliau. Ia tidak memiliki perniagaan untuk dijalankannya sebagaimana kebanyakan kaum Muhajirin. Ia juga tidak memiliki tanah pertanian dan perkebunan yang menyibukkannya seperti kebanyakan kaum Anshar.
Di waktu-waktu senggangnya, kadang Nabi SAW menceritakan berbagai hal dan peristiwa sebelum keislamannya, atau terkadang Abu Hurairah yang menanyakannya kepada beliau. Jadi, pantaslah ia lebih banyak mengetahuinya daripada kebanyakan sahabat lainnya.

Pada masa khalifah Muawiyah, sang khalifah pernah mengetes kemampuan hafalannya, walau tanpa sepengetahuannya. Abu Hurairah dipanggil menghadap Muawiyah, kemudian diperintahkan menyebutkan semua hadits yang ia dengar dari Nabi SAW. Diam-diam Muawiyah menyiapkan beberapa penulis di tempat tersembunyi untuk mencatat semua hadits yang disampaikan Abu Hurairah itu secara berurutan. Setahun kemudian, Abu Hurairah dihadapkan kembali kepada Muawiyah dan disuruh menyebutkan hadits-hadits tersebut, dan diam-diam juga, Muawiyah memerintahkan para pencatat itu untuk mengecek kebenarannya.

Setelah Abu Hurairah berlalu, para penulis hadits tersebut mengatakan pada Muawiyah bahwa yang disampaikannya tersebut seratus persen persis sama dengan setahun sebelumnya, termasuk urut-urutannya, bahkan tidak ada satu huruf pun yang terlewat atau berbeda. Muawiyah hanya geleng-geleng kepala seolah tidak percaya, tetapi ini memang nyata.

Sepeninggal Nabi SAW, Abu Hurairah selalu mengisi sisa waktu hidupnya dengan ibadah dan berjihad di jalan Allah. Ia mempunyai kantung yang berisi biji-biji kurma untuk menghitung dzikirnya, ia mengeluarkannya satu persatu dari kantung, setelah habis ia memasukkannya lagi satu persatu. Secara istiqamah, ia mengisi malam hari di rumahnya dengan beribadah secara bergantian dengan istri dan anaknya (atau pelayannya pada riwayat lainnya), masing-masing sepertiga malam. Kadang ia pada sepertiga malam pertama, atau sepertiga pertengahan dan terkadang pada sepertiga malam akhirnya yang merupakan saat mustajabah. Sehingga malam hari di keluarganya selalu terisi penuh dengan ibadah.

Pada masa khalifah Umar, ia sempat diangkat menjadi amir di Bahrain. Seperti kebanyakan sahabat pilihan Nabi SAW lainnya, ia menggunakan gaji atau tunjangan yang diterima dari jabatannya untuk menyantuni dan membantu orang yang membutuhkan. Untuk menunjang kehidupannya, ia mempunyai kuda yang diternakkannya, dan ternyata berkembang sangat cepat sehingga ia menjadi lumayan kaya dibanding umumnya sahabat lainnya.Apalagi banyak juga orang-orang yang belajar hadits dari dirinya, dan seringkali mereka memberikan hadiah sebagai bentuk terima kasih dan penghargaan kepadanya.

Ketika Umar mengetahui Abu Hurairah memiliki kekayaan yang melebihi penghasilannya, ia memanggilnya menghadap ke Madinah untuk mempertanggung-jawabkan hartanya tersebut. Begitu tiba di Madinah dan menghadap, Umar langsung menyemprotnya dengan pedas,
"Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?"

Abu Hurairah yang sangat mengenal watak dan karakter Umar, dan juga mengetahui sabda Nabi SAW bahwa Umar adalah kunci/gemboknya fitna, dengan tenang berkata,
"Aku bukan musuh Allah SWT, dan juga bukan musuh kitab-Nya, tetapi aku hanyalah orang yang memusuhi orang yang menjadi musuh keduanya, dan aku bukan orang yang mencuri harta Allah…!"
"Darimana kauperoleh harta kekayaanmu tersebut?"

Abu Hurairah menjelaskan asal muasal hartanya, yang tentu saja dari jalan halal. Tetapi Umar berkata lagi,
"Kembalikan harta itu ke baitul mal..!!"

Abu Hurairah adalah didikan Nabi SAW yang bersikap zuhud dan tidak cinta duniawiah. Walau bisa saja ia berargumentasi untuk mempertahankan harta miliknya, tetapi ia tidak melakukannya. Karena itu tanpa banyak pertanyaan dan protes, ia menyerahkan hartanya tersebut kepada Umar, setelah itu ia mengangkat tangannya dan berdoa,
"Ya Allah, ampunilah Amirul Mukminin Umar…!!"

Beberapa waktu kemudian, Umar ingin mengangkatnya menjadi amir di suatu daerah lain. Dengan meminta maaf, Abu Hurairah menolak penawaran tersebut. Ketika Umar menanyakan alasannya, Abu Hurairah menjawab,
"Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, dan punggungku tidak dipukul…"

Beberapa saat berhenti, ia meneruskan lagi seakan ingin memberi nasehat kepada Umar,
"Dan aku takut menghukum tanpa ilmu, dan bicara tanpa belas kasih…"

Umar pun tak berkutik dan tidak bisa memaksa lagi seperti biasanya.

Pada masa kekhalifahan selanjutnya, Abu Hurairah selalu mendapat penghargaan yang tinggi berkat kedekatannya bersama Nabi SAW dan periwayatan hadits-hadits beliau, sehingga secara materi sebenarnya ia tidak pernah kekurangan, sebagaimana masa kecilnya atau masa-masa bersama Rasulullah SAW. Tetapi dalam kelimpahan harta dan ketenaran ini, Abu Hurairah tetap bersikap zuhud dan sederhana dalam kehidupannya, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW.

Pernah suatu kali di masa khalifah Muawiyah, ia mendapat kiriman uang seribu dinar dari Marwan bin Hakam, tetapi keesokan harinya utusan Marwan datang menyatakan kalau kiriman itu salah alamat. Dengan tercengang ia berkata,
“Uang itu telah habis kubelanjakan di jalan Allah, satu dinar-pun tidak ada yang bermalam di rumahku. Bila hakku dari baitul mal keluar, ambillah sebagai gantinya!!”

Abu Hurairah wafat pada tahun 59 hijriah dalam usia 78 tahun, pada masa khalifah Muawiyah. Ia memang pernah berdoa,
“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari tahun enam puluhan, dan dari masa kepemimpinan anak-anak!!”

Pada tahun enam puluhan hijriah itu memang masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah, yang bersikap seperti anak-anak, yakni semaunya sendiri. Dan terjadi berbagai peristiwa yang bisa dikatakan sebagai masa kelam dalam sejarah Islam, seperti Peristiwa Karbala, Peristiwa al Harrah, dan Penyerbuan Masjidil Haram.

Ketika ia sakit menjelang kewafatannya, tampak ia amat sedih dan menangis, sehingga orang-orang menanyakan sebab kesedihannya tersebut. Abu Hurairah berkata,
“Aku menangis bukan karena sedih akan berpisah dengan dunia ini. Aku menangis karena perjalananku masih jauh, perbekalanku sedikit, dan aku berada di persimpangan jalan menuju ke neraka atau surga, dan aku tidak tahu di jalan mana aku berada??”

Ketika banyak sahabat yang menjenguknya dan mendoakan kesembuhan baginya, segera saja Abu Hurairah berkata,
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah rindu bertemu dengan-Mu, semoga demikian juga dengan Engkau….!!”

Tidak lama kemudian nyawanya terbang kembali ke hadirat Ilahi, dan jasadnya dimakamkan di Baqi, di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW lain yang telah mendahuluinya.