Cari Artikel

Nabi Khidr AS Muncul Karena Ketulusan



Sosok Nabi Khidr AS yang terkenal karena kisah pertemuannya dengan Nabi Musa AS diabadikan dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi ayat 60-82 memang fenomenal. Nabi SAW juga mengulang kisah tersebut dalam beberapa hadist beliau dengan beberapa penjabaran. Dalam surat Al Kahfi tersebut tidak disebutkan nama Khidr dan juga statusnya sebagai salah satu nabi, hal ini saja sudah menimbulkan perbedaan pendapat, apakah beliau seorang nabi atau hanya seorang ulama atau salah satu auliyah Allah. Begitu juga terjadi perbedaan pendapat, apakah beliau masih hidup sampai sekarang atau sudah meninggal?

Bukan di sini tempatnya untuk membahas perbedaan pendapat tersebut karena masing-masing ulama mempunyai hujjah (argumentasi) yang kuat untuk mendukung pendapatnya. Bagi kita yang awam, cukuplah mengikuti pendapat yang kita mantap dengannya tanpa menghujat pendapat lain yang berbeda. Hanya saja, bagi yang percaya Nabi Khidr AS masih hidup sampai sekarang, terkadang ada yang terlalu mendewa-dewakan beliau, bahkan membuat cara-cara yang menyeleweng dari syariat hanya untuk bisa bertemu dengan beliau.

Sesungguhnya Nabi Khidr AS tidak bisa dipaksa hadir dengan cara apapun, kecuali jika Allah SWT mengijinkan beliau hadir seperti yang terjadi kepada Nabi Musa AS, atau beliau ditugaskan Allah SWT hadir sebagai jalan untuk menolong hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Kalau ritual-ritual yang diadakan untuk bertemu Nabi Khidr didasari hawa nafsu dan tujuan duniawiah semata-mata, bisa jadi yang hadir malahan syaitan terkutuk yang akan makin menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan. Naudzubillahi min dzaalik!! Semoga kisah berikut ini memberikan hikmah dan menambah pemahaman bagi kita.

Al kisah, di negeri Turkestan tinggal seorang lelaki tua bernama Bakhtiar. Ia sangat miskin, dan dengan usianya yang telah renta, ia kesulitan untuk bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia sendiri cukup malu untuk meminta-minta walau warga di sekitarnya cukup banyak yang hidup berkelimpahan, karena itu ia tetap berusaha sebatas kemampuannya.

Suatu ketika raja yang berkuasa di Turkestan tersebut sedang didatangi seorang ulama sufi. Setelah menyampaikan beberapa nasehat, tiba-tiba Sang Raja menanyakan tentang Nabi Khidr yang misterius tersebut. Sang Sufi menceritakan tentang Nabi Khidr secara sekilas, kemudian berkata,
“Khidr hanya datang jika diperlukan, tangkaplah jubahnya kalau ia muncul, maka segala pengetahuan akan menjadi milik Baginda!!”

Tentu saja apa yang dikatakan Sang Sufi tersebut tidak bisa diterjemahkan secara harfiah begitu saja. Sang Raja bertanya,
“Apakah itu bisa terjadi pada siapapun?”
“Ya, siapapun bisa!!”

Setelah Sang Sufi pergi, keinginan Sang Raja untuk bertemu Nabi Khidr sangat kuat. Ia ingin melengkapi kekuasaannya dengan pengetahuan, dan itu akan bisa diwujudkan dengan mudah kalau ia bertemu Nabi Khidr dan meangkap jubahnya.
Ia berfikir, “Kalau hal itu bisa terjadi pada siapapun, apalagi aku, bukankah aku seorang raja??”

Untuk memujudkan keinginannya tersebut, Sang Raja membuat sayembara yang disebarkan ke seluruh pelosok negeri,
“Barangsiapa yang bisa menghadirkan Khidr yang misterius di hadapanku, maka ia akan kujadikan orang yang kaya!!”

Ternyata tidak banyak yang merespon sayembara tersebut karena hal itu suatu hal yang tidak mudah, walau mungkin saja terjadi. Ketika Bakhtiar mendengarnya, muncul suatu rencana di benaknya. Ia berkata kepada istrinya,
“Wahai istriku, aku punya rencana dan kita akan segera kaya. Tetapi tak lama setelah itu aku akan mati, dan itu tidak mengapa, karena engkau telah mempunyai simpanan untuk bisa membiayai kehidupanmu seterusnya…!!”

Bakhtiar menceritakan rencananya. Istrinya hanya bisa setuju dan mendoakan saja. Bagi orang-orang seperti mereka, memang tidak banyak pilihan untuk bertahan hidup. Setelah itu ia pergi menghadap kepada Sang Raja.
Setelah memberi penghormatan seperlunya, Bakhtiar berkata kepada Sang Raja,
“Hamba dapat menghadirkan Khidr, tetapi ada syaratnya!!”
“Apa syarat yang kamu minta itu?” Tanya Sang Raja.
“Baginda harus memberi hamba seribu keping uang emas!!”

Sang Raja setuju dengan persyaratan tersebut, dan memerintahkan salah satu abdinya untuk memberikan seribu keping uang emas kepada Bakhtiar. Lalu ia berkata,
“Berapa lama waktu yang engkau perlukan untuk menemukan Khidr? 
“Hamba akan mencarinya dalam waktu empat puluh hari!!” Kata Bakhtiar lagi.
“Baiklah,” Kata Sang Raja,
“Kalau engkau berhasil menemukan Khidr dan membawanya kemari, engkau akan mendapat tambahan sepuluh ribu keping uang emas. Tetapi jika engkau gagal, engkau akan mati dipancung di sini, sebagai peringatan bagi orang-orang yang mencoba mempermainkan rajanya!!”

Bakhtiar sudah tidak perduli lagi dengan ancaman tersebut, yang sebenarnya ia sudah menduga sebelumnya. Ia segera pulang dan menyerahkan seribu keping uang emas tersebut kepada istrinya. Ia sudah hampir yakin bahwa ajalnya akan tiba di tangan Sang Raja, empat puluh hari kemudian. Karena itu sisa waktunya digunakannya untuk merenung, beribadah dan bertobat, mempersiapkan diri dengan amal-amal kebaikan sebagai bekal memasuki alam barzah. Ia telah banyak mendengar tentang Nabi Khidr yang memang tidak bisa dipaksakan kehadirannya, jadi untuk apa sibuk menghabiskan waktu mencarinya. Lebih baik ia terus beribadah dan bertobat, termasuk karena telah menipu Sang Raja. 

Pada hari yang ditentukan Bakhtiar menghadap Sang Raja. Hatinya telah sangat mantap, empat puluh hari hanya berkhidmat untuk beribadah kepada Allah, membuatnya tidak ada ketakutan kepada siapapun dan kepada apapun, kecuali kepada Allah saja. Maka kepada Sang Raja ia berkata tegas,
“Wahai Raja, kerakusanmu telah menyebabkan engkau berfikir bahwa uang akan bisa mendatangkan Khidr. Tetapi Khidr tidak akan datang karena panggilan yang berdasarkan kerakusanmu itu!!”
Tentu saja Sang Raja amat marah dengan perkataannya tersebut. Bukannya datang untuk memenuhi janjinya, tetapi malah menasehatinya. Ia berkata,
“Celaka kau ini, kau telah menyia-nyiakan nyawamu. Siapa pula kau ini beraninya mencampuri urusan s.eorang raja?”
Sekali lagi Bakhtiar berkata,
“Menurut cerita, semua orang mungkin saja bertemu dengan Khidr. Tetapi pertemuan itu hanya ada manfaatnya jika ia mempunyai niat yang tulus dan benar. Seringkali sebenarnya Khidr telah datang di antara kita, tetapi kita tidak bisa memanfaatkan kunjungannya tersebut, dan itulah yang kita tidak bisa menguasainya!!”

Sang Raja makin marah dengan nasehatnya tersebut, ia memerintahkan para pengawal menangkapnya dan menghardik,
“Cukup ucapanmu itu. Bualanmu itu tidak akan memperpanjang hidupmu. Engkau hanya tinggal menunggu bagaimana caranya engkau mati saat ini!!”

Sang Raja meminta pendapat para menterinya tentang cara mengeksekusi mati Bakhtiar. Menteri pertama berkata,
“Wahai Raja, bakarlah dia hidup-hidup sebagai peringatan bagi yang lainnya!!” 

Menteri kedua berkata,
“Wahai Raja, potong-potong saja tubuhnya, dan pisah-pisahkan anggota tubuhnya (dimutilasi)…!!”

Menteri ketiga berkata,
“Wahai Raja, sediakan saja kebutuhan hidupnya sehingga ia tidak akan pernah menipu lagi demi kelangsungan hidup keluarganya.”

Tengah Sang Raja mendiskusikan masalah tersebut, masuklah seorang tua yang tampak bijaksana. Setelah orang tua itu memberi salam, Sang Raja berkata,
“Wahai orang tua, apa maksud kedatanganmu ke sini?”
“Saya hanya ingin mengulas pendapat para menteri anda itu!!”
“Apa maksudmu?” Tanya Sang Raja.
“Menterimu yang pertama itu dahulunya adalah tukang roti, karena itu ia berbicara tentang membakar (memanggang).
Menterimu yang kedua dahulunya adalah tukang daging, karena itu ia berbicara tentang memotong.
Dan menterimu yang ketiga inilah yang benar-benar mengerti masalah kenegaraan, karena itu ia melihat kepada sumber masalahnya…!!”

Selagi raja dan para hadirin terkejut dengan hakikat para menteri tersebut, orang tua itu berkata lagi,
“Hendaklah kalian mencatat dua hal, pertama: Khidr akan datang untuk melayani setiap orang sesuai dengan kemampuan orang itu memanfaatkan kedatangannya. Dan kedua: Bakhtiar ini, ia kuberi (tambahan) nama Baba karena pengorbanan yang dilakukannya atas dasar terdesak dan putus asa (dari manusia). Keadaannya yang makin terdesak (yakni, akan dihukum mati) sehingga aku muncul di hadapan kalian semua!!”

Sekali lagi raja dan para hadirin terkejut dengan perkataan orang tua tersebut, yang tak lain adalah Nabi Khidr itu sendiri. Dan sebelum sempat mereka berbuat apa-apa, termasuk keinginan Sang Raja untuk menangkap jubahnya, Khidr telah lenyap dari pandangan. Sang Raja sangat menyesal, sebaliknya Bakhtiar merasa sangat gembira karena mendapat nama baru “Baba” langsung dari Khidr sendiri, tanpa ia mengharapkannya. Semacam sebuah pengesahan dari apa yang telah dilakukannya sebelumnya.

Malaikat Izrail Terhalang Mencabut Nyawa



Suatu ketika Malaikat Izrail, malaikat yang bertugas mencabut nyawa mendatangi seorang hamba mukmin karena telah tiba saat ajalnya. Hamba mukmin tersebut sangat baik keimanannya, dan memiliki amalan istiqomah hampir di setiap anggota tubuhnya. Malaikat Izrail bermaksud mencabut ruhnya tersebut dari mulut seperti biasanya, tiba-tiba dari mulut itu keluar perkataan, “Wahai Izrail, tidak ada jalan bagimu untuk mencabut ruhnya dari sini, aku selalu dipergunakan oleh hamba ini untuk berdzikir kepada Allah!!”

Walaupun Malaikat Izrail biasanya bersifat pemaksa dan tidak bisa dihalangi ketika menjalankan tugasnya, tetapi dalam kasus hamba mukmin yang satu ini, sepertinya ia tidak berkutik dan tidak berdaya. Karena itu ia kembali menghadap Allah melaporkan kegagalannya menjalankan tugas mencabut nyawa, sambil menjelaskan penyebabnya, yang tentunya Allah lebih tahu sebelumnya. Allah SWT hanya berfirman, “Cabutlah nyawanya dari arah yang lain!!”

Malaikat Izrail mendatangi lagi hamba mukmin tersebut, dan mencoba mencabut nyawanya lewat tangannya. Tetapi seperti sebelumnya, dari tangannya tersebut keluar ucapan,
“Wahai Izrail, tidak ada jalan bagimu untuk mencabut ruhnya dari sini, aku selalu dipergunakan oleh hamba ini untuk bersedekah, menyantuni anak yatim, berdakwah dan berjihad di jalan Allah!!”

Seperti sebelumnya, Izrail tidak berdaya menghadapi hujjah tersebut dan melaporkannya ke hadirat Allah, dan lagi-lagi Allah hanya berfirman,
“Cabutlah nyawanya dari arah yang lain!!”

Beberapa kali Malaikat Izrail mendatangi anggota badan lainnya dari hamba mukmin tersebut, untuk menjadi jalan mencabut nyawanya tetapi ia mengalami kegagalan. Dan ia pulang-balik beberapa kali ke hadirat Allah untuk melaporkannya dan hanya mendapat perintah yang sama.

Ketika mencoba mencabut nyawanya lewat kakinya, sang kaki berkata,
“Wahai Izrail, tidak ada jalan bagimu untuk mencabut ruhnya dari sini, aku selalu dipergunakan oleh hamba ini untuk berjalan ke masjid untuk shalat jamaah, mendatangi majelis-majelis ilmu dan pengajaran, berdebu di jalan Allah (berjihad), dan berbagai macam kebaikan lainnya!!”

Ketika mencoba mencabut nyawanya lewat telinganya, sang telinga berkata,
“Wahai Izrail, tidak ada jalan bagimu untuk mencabut ruhnya dari sini, aku selalu dipergunakan oleh hamba ini untuk mendengarkan Al Qur’an dan pengajaran-pengajaran agama (ta’lim), begitu juga ia banyak berdzikir dengan aku!!’

Ketika mencoba mencabut nyawanya lewat matanya, sang mata berkata,
“Wahai Izrail, tidak ada jalan bagimu untuk mencabut ruhnya dari sini, aku selalu dipergunakan oleh hamba ini untuk membaca Al Qur’an dan berbagai macam kitab-kitab tentang keislaman. Begitu juga ia telah banyak melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan diriku sehingga makin memantapkan keimanannya!!”

Begitulah, setelah berbagai macam jalan dicoba dan Malaikat Izrail mengalami kegagalan karena hujjah anggota tubuhnya tersebut dengan amalan istiqomah yang dilakukan sang hamba, ia melapor kepada Allah, “Wahai Tuhanku, aku telah dikalahkan (dilumpuhkan) dengan hujjah (alasan-alasan) dari anggota tubuh hamba-Mu yang beriman itu, lalu bagaimana aku harus mencabut nyawanya?”

Kali ini Allah berfirman, “Tulislah nama-Ku di atas telapak tanganmu dan tunjukkan tulisan itu kepada hamba-Ku itu!!”

Malaikat Izrail melaksanakan perintah Allah itu dan turun menemui hamba mukmin tersebut. Ia menunjukkan telapak tangannya yang di sana telah tertulis Asma Allah, di depan matanya. Segera saja tampak senyum mengembang dan mata berbinar penuh kerinduan, kemudian ruh hamba mukmin tersebut keluar dengan sendirinya lewat mulutnya, menuju rengkuhan Malaikat Izrail, yang memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Seolah-olah ruh itu mendengar panggilan Allah : Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii jannatii…

3 pesan (Nasehat) Rasulullah SAW



“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.” (HR. Tirmidzi)


1. BERTAQWA DIMANA SAJA

Definisi dari kata taqwa dapat dilihat dari percakapan antara sahabat Umar dan Ubay bin Ka’ab ra.
Suatu ketika Umar bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, apakah taqwa itu? Dia menjawab; “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?”
Umar menjawab;
“Pernah!”
Ubay menyambung,
“Lalu apa yang kamu lakukan?”
Umar menjawab;
“Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.”
Maka Ubay berkata;
“Maka demikian pulalah taqwa!”


2. KEBAIKAN YANG MENGHAPUSKAN DOSA [KESALAHAN]

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam bersabda
“Sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api”.


3. AKHLAQ YANG TERPUJI

Akhlaq terpuji harus dimiliki oleh seorang muslim. Salah satunya adalah akhlaq terhadap orang lain, misalnya akhlaq terhadap tetangga. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Dari Abu Syuraih ra, bahwa Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman.”
Ada yang bertanya:
“Siapa itu Ya Rasulullah?”
Jawab Nabi:
“Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)

Wallahu'alam...

Sekuntum mawar Untuk Ibu



Seorang pria berhenti ditoko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dikirimkan kepada sang ibu yang tinggal 250 KM darinya. Begitu keluar dari mobilmya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu bertanya mengapa gadis kecil itu menangis dan gadis kecil itu menjawab, Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tetapi saya hanya mempunyai uang lima ratus rupiah, sedangkan harga mawar itu seribu rupiah.
Pria itu tersenyum dan berkata, Ayo ikut aku, aku akan membelikan bunga yang kau mau.

Kemudian, ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesan karangan bunga untuk dikirimkan kepada ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri utuk mengantarkan gadis itu pulang kerumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, Ya, tentu saja. Maukah Anda mengantar saya ketempat ibuku?

Kemudian mereka berdua menuju tempat yang ditunjuk gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum.
Setibanya disana gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat itu, hati pria itu menjadi terenyuh dan teringat akan sesuatu. Bergegas ia kembali menuju toko bunga tadi dan membatalkan kirimanya.
Ia mengambil karangan bunga yang telah dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 KM menuju kerumah ibunya.

Abbas Bin Abdul Muthalib RA



Abbas bin Abdul Muthalib adalah paman Nabi SAW, tetapi sebagaimana halnya Hamzah, usianya hampir sebaya dengan Nabi SAW. Ia memang tidak memeluk Islam pada masa awal seperti halnya Hamzah, namun sebagian riwayat menyebutkan ia telah memeluk Islam sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah, hanya saja ia menyembunyikan keislamannya. Pada Fathul Makkah-lah Abbas telah diketahui pasti sebagai pemeluk Islam.

Abbas adalah seorang yang cerdas dan diplomatis. Walau tidak secara terang-terangan seperti Abu Thalib, ia juga melakukan pembelaan terhadap Nabi SAW dan Islam. Di awal kelahiran Islam, ketika Abu Dzar al Ghifari untuk pertama kalinya meneriakkan kalimat tauhid, yakni syahadat di Masjid al Haram, dan kaum kafir Quraisy menghajarnya habis-habisan, tak ada seorangpun yang berani membelanya. Tampillah Abbas dan ia berkata diplomatis,
"Wahai orang Quraisy, dia adalah orang dari Suku Ghifar. Dan kalian semua adalah kaum pedagang yang selalu melewati daerah mereka. Apa jadinya jika mereka tahu kalian telah menyiksa anggota keluarganya??"

Karena perkataan Abbas ini, kaum kafir Quraisy ini melepaskan Abu Dzar. Abbas terkadang menyertai Nabi SAW ketika beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi kepada kaum pendatang yang sedang melaksanakan haji Makkah. Puncaknya adalah pada saat terjadinya Bai'atul Aqabah yang kedua dengan penduduk Yatsrib (Madinah), yang akhirnya menjadi tonggak awal kemenangan Islam di jazirah Arab.

Pada salah satu malam hari tasyriq setelah sepertiga malam yang terakhir, tujuh puluh tiga lelaki dan dua wanita dari penduduk Madinah bertemu dengan Nabi SAW di bukit aqabah. Dalam kesepakatan yang akan diambil oleh Nabi SAW dan mereka ini, Abbas menunjukkan sikap pembelaan dan perlindungannya kepada Nabi SAW walau saat itu ia belum memeluk Islam, ataupun sudah Islam tetapi menyembunyikan keislamannya. Antara lain ia berkata,
"Wahai kaum Khazraj, sesungguhnya kalian tahu kedudukan Muhammad di antara kami, dia adalah orang yang terhormat di tengah kaumnya dan dilindungi di negerinya. Jika kalian memang ingin menunaikan apa yang kalian janjikan kepadanya, dan membelanya dari orang yang memusuhinya, silakan kalian ambil tanggung jawab tersebut, Tetapi jika kalian berfikir untuk menyia-nyiakannya dan menelantarkan dirinya setelah keluar dari kami untuk bergabung bersama kalian, lebih baik biarkan saja ia bersama kami. Apalagi tetangga kalian itu adalah orang-orang Yahudi yang memang memusuhinya, aku khawatir akan makar mereka terhadap dirinya…!!"

Kondisi yang terjadi saat itu memang mengharuskan sikap ekstra hati-hati. Abbas telah melihat sendiri bagaimana sikap permusuhan dan perlawanan yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy atas Risalah Islamiah yang didakwahkan Nabi SAW. Begitu juga sikap beberapa kabilah Arab lainnya yang didakwahi beliau ketika berhaji, termasuk juga kabilah Bani Tsaqif di Thaif. Sepertinya pilihan Allah memang jatuh pada kaum Khazraj dan Aus dari Yatsrib untuk menjadi pilar dan markas utama perkembangan risalah baru ini ke seluruh penjuru dunia, sehingga sikap mereka memang jauh berbeda dengan sikap orang-orang Arab lainnya itu.

Sesungguhnyalah perkataan Abbas tersebut cukup menyinggung perasaan orang-orang Yatsrib itu. Sejak diperkenalkan oleh enam pemuda, disusul kemudian dengan Bai’atul Aqabah pertama sikap mereka telah bulat untuk menerima Nabi SAW dan kaum muslimin lainnya di negeri mereka. As'ad bin Zurarah yang merupakan salah satu tokohnya sempat naik emosinya, tetapi Nabi SAW berkata kepadanya,
"Jawablah tanpa menimbulkan pertengkaran."
As'ad menjelaskan sikap kaum Aus dan Khazraj dalam masalah tersebut, kemampuan mereka dalam berperang dan kesediaan mereka untuk berkorban demi membela Nabi SAW.
Abdullah bin Amr bin Haram pun ikut menimpali tentang tradisi mereka dalam menjaga kehormatan, menghadapi musuh, dan lain-lainnya. Akhirnya As'ad menutup pidato panjang mereka itu sambil menghadapkan diri pada Nabi SAW,
"Wahai Rasulullah, ambillah dari kami untuk dirimu apapun yang engkau inginkan, dan buatlah persyaratan untuk Tuhanmu, apapun yang engkau mau. Sesungguhnya kami akan selalu ada di belakangmu…..!"

Abbas merasa puas dengan penjelasan tersebut, dan membiarkan Nabi SAW dan penduduk Yatsrib menyusun kesepakatan-kesepakatan yang dalam sejarah dikenal dengan nama Bai'atul Aqabah kedua.

Ketika pecah perang Badar, Abbas masih tinggal di Makkah, dan sesungguhnya ia menolak untuk ikut terlibat dalam pasukan kafir Quraisy, tetapi Abu Jahal memaksanya sehingga ia tidak bisa menghindar. Di Madinah, NabiSAW berpesan kepada para sahabat untuk tidak membunuh Abbas dan Abul Bakhtari bin Hisyam, karena dua orang itu mengikuti pasukan tersebut dalam tekanan dan keterpaksaan. Selama Nabi SAW di Makkah dahulu, mereka berdua tidak pernah ikut menyakiti dan menyiksa beliau dan umat Islam lainnya, sebagaimana tokoh-tokoh Quraisy lainnya. Bahkan mereka ini banyak sekali melakukan pembelaan kepada Nabi SAW dan Islam, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Mengenai Abbas, bisa jadi Nabi SAW melarang membunuhnya karena beliau mengetahui bahwa sebenarnya ia telah memeluk Islam tetapi menyembunyikan keislamannya. Tetapi tentang keislamannya ini, sebagian riwayat lagi menyebutkan, ketika Nabi SAW dalam perjalanan ke perang Khaibar, Abbas menyusul rombongan pasukan dengan membawa harta kekayaannya untuk memeluk Islam dan terlibat dalam pertempuran tersebut. Tetapi riwayat yang pasti, Abbas terlibat langsung dalam perang Hunain, yakni setelah Fathul Makkah. Saat posisi pasukan muslim terdesak dan kocar-kacir, ia ikut memegang kendali keledai (baghal) Nabi SAW bersama Abu Sufyan bin Harits.

Pada Perang Hunain inilah pertama kalinya kaum Quraisy bersatu, baik yang sudah muslim atau masih musyrik, bersama kaum muslimin lainnya dari berbagai kabilah, bertempur menghadapi persekutuan beberapa suku Arab yang tidak sudi mengakui eksistensi Islam. Sebenarnya pasukan sekutu yang dimotori suku Hawazin dan suku Thaif itu jumlahnya lebih kecil, tetapi mereka sempat memporak-porandakan pasukan muslimin yang jumlahnya lebih besar. Memang, dengan jumlah yang lebih besar dan persenjataan cukup lengkap, mereka merasa angkuh dan membanggakan diri akan menggilas habis musuhnya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Dalam keadaan terdesak dan kritis tersebut, Nabi SAW memerintahkan Abbas, yang memang mempunyai suara keras dan lantang membahana, memanggil para sahabat. Abbas mengulang ucapan Nabi SAW,
“Manakah orang-orang yang berikrar di bawah pohon?”
Yang dimaksud Nabi SAW adalah para sahabat yang termasuk dalam Bai’atul Ridwan, yakni ikrar kesetiaan kepada Nabi SAW di bawah pohon di Hudaibiyah, ketika beliau mendengar kabar kalau Utsman bin Affan yang menjadi utusan beliau kepada kaum Quraisy telah dibunuh. Kebanyakan para sahabat itu memang dari kalangan Muhajirin dan Anshar awal (as sabiqunal awwalun), yang keimanan dan semangat jihad mereka tidak diragukan lagi.

Mendengar seruan Abbas itu, mereka yang dimaksud menerobos kepungan, dan sedikit demi sedikit berkumpul di sekitar Nabi SAW. Sekali lagi Nabi SAW memerintahkan Abbas menyeru,
“Wahai sekalian orang Anshar!!”

Suara lantang Abbas itu didengar para sahabat Anshar yang terpecah-pecah pada berbagai titik pertempuran, dan makin banyak saja kaum muslimin yang berkumpul di sekitar beliau, khususnya dari kalangan Anshar. Setelah itu Nabi SAW turun dari baghal beliau dan mengambil segenggam pasir, kemudian melontarkan ke arah musuh sambil bersabda,
“Dari sinilah peperangan akan berkobar kembali!"

Seketika itu pasukan muslimin bergerak maju menghadang serangan musuh dengan semangat menggapai syahid fi sabilillah, yang pada akhirnya mampu mengalahkan pasukan sekutu tersebut. Suku Hawazin banyak yang terbunuh dan tertawan, sedangkan Suku Tsaqif banyak yang melarikan diri dan bersembunyi di benteng mereka di Thaif.

Ketika utusan Nabi SAW untuk berdakwah ke Thaif, yakni Hanzhalah bin Rabi ditangkap dan dikurung oleh orang-orang Bani Tsaqif, Nabi SAW menawarkan siapa di antara para sahabat yang bersedia menyelamatkannya, dan pahalanya adalah seperti keluar ghuzwah (mengikuti suatu pasukan untuk berjihad di jalan Allah). Tetapi beberapa waktu lamanya tidak ada sahabat yang bangkit, akhirnya Abbas menyanggupi permintaan beliau. Dengan suatu muslihat, Abbas berhasil menyelamatkan Hanzhalah dari cengkeraman penduduk Thaif, walaupun mereka mengejar dan melemparinya dengan batu.

Pada masa khalifah Umar pernah terjadi kemarau panjang sehingga Madinah dan negeri sekitarnya mengalami kekeringan. Umar mengajak penduduk Madinah melakukan shalat istisqo’ (shalat minta hujan) di lapangan sebagaimana pernah dilaksanakan Nabi SAW. Setelah selesai shalat, Umar menarik Abbas ke sebelahnya dan mengangkat tangannya dan tangan Abbas sambil berdoa,
"Ya Allah, sesungguhnya kami pernah memohonkan hujan dengan perantaraan Nabi-Mu pada saat beliau ada di antara kami. Ya Allah, sekarang ini kami memohon dengan perantaraan paman Nabi-Mu, hendaklah Engkau turunkan hujan untuk kami !!"

Belum lagi para jamaah meninggalkan tempat shalatnya, datanglah awan tebal dan turun menjadi hujan di Madinah dan sekitarnya sehingga memberikan kegembiraan pada penduduknya. Para sahabat mendatangi Abbas, memeluk dan menciumnya tangannya sambil berkata,
"Selamat kami sampaikan kepada Anda, wahai penyedia air Haramain !!"

Haramain adalah dua tanah haram, yakni Makkah dan Madinah. Dan sejak masa jahiliah Abbas memang bertugas memberi minuman para jamaah haji yang berkunjung ke Makkah pada musim haji. Dan sebagai penghargaan atas apa yang baru saja terjadi, yakni turunnya hujan di bumi Madinah dengan perantaraannya sebagaimana doa yang dipanjatkan Umar, para sahabat mengucapkan salam tersebut.

Suatu ketika di tahun 9 atau 10 dari kenabian, Istri Abbas, yakni Ummu Fadhl yang saat itu telah memeluk Islam tetapi menyembunyikan keislamannya, datang menemui Nabi SAW. Tiba-tiba beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau sedang mengandung, jika engkau telah melahirkan, datanglah kepadaku dengan membawa anak itu!!”

Beberapa bulan kemudian Ummu Fadhl melahirkan seorang anak lelaki, dan ia membawa putranya tersebut kepada Nabi SAW. Maka beliau melantunkan adzan di telinga kanan bayi tersebut, dan iqamah di telinga kirinya. Kemudian Rasulullah SAW meneteskan keringat beliau ke mulut sang bayi dan bersabda kepada Ummu Fadhl,
“Namakanlah anak ini Abdullah, sekarang pulanglah engkau bersama bapaknya para khalifah!!”

Tanpa banyak pertanyaan Ummu Fadhl pulang, dan ia menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama Rasulullah SAW kepada suaminya. Maka Abbas segera berpakaian dan berangkat ke tempat kediaman Rasulullah SAW, ia berkata,
“Wahai Muhammad, apa yang engkau katakan (kepada istriku) itu??”

Nabi SAW bersabda,
“Seperti yang diceritakan istrimu itu, dia adalah bapak dari para khalifah. Di antara mereka ada yang disebut As Saffah, Al Mahdi, dan ada pula yang akan menjadi imam shalat dari Isa bin Maryam!!”
Memang, putra Abbas tersebut adalah Abdullah bin Abbas, yang walau sangat muda dan hanya sekitar lima tahun bergaul dengan Nabi SAW, tetapi beliau menggelarinya sebagai ‘Ulamanya Ummat (Muhammad) ini’ karena keluasan dan kedalaman ilmunya. Di kemudian hari anak-anak keturunannya memang memegang jabatan kekhalifahan dalam kurun waktu cukup, yang kemudian dinisbahkan kepada nama ayahnya, Abbas, yakni Daulah Abbasiah.