Cari Artikel

Ketika Malaikat Membantu Manusia



Suatu ketika Ali bin Abi Thalib baru saja pulang dan berkata kepada istrinya, Fathimah az Zahra,
“Wahai wanita yang mulia, apakah kamu mempunyai makanan untuk suamimu ini??”
Fathimah berkata,
“Demi Allah aku tidak mmpunyai sesuatu (makanan apapun), tetapi ini ada enam dirham (uang perak), hasil kerjaku dan Salman (al Farisi) memintal bulu-bulu domba milik orang Yahudi. Rencananya akan kubelikan makanan untuk Hasan dan Husain!!”

Begitulah memang keadaan Fathimah az Zahra, putri kesayangan Rasulullah SAW itu dan keluarganya. Sebenarnya kalau saja mereka mau, mudah saja bagi mereka untuk mengumpulkan harta dan hidup bergelimang kemewahan dunia. Tetapi seperti halnya Rasulullah SAW, mereka memilih untuk zuhud dalam kehidupan dunia ini. Tidak jarang Fathimah dan Ali bekerja menimba air untuk menyiram kebun kurma milik orang-orang Yahudi, memintal bulu-bulu domba, memilah-milah kurma dan lain-lainnya. Inilah gambaran kehidupan seorang wanita, yang Nabi SAW pernah bersabda,
“Penghulu kaum wanita di surga adalah Fathimah az Zahra!!”

Mendengar jawaban istrinya itu, Ali berkata,
“Biar aku saja yang membeli makanan itu!!”
Maka Fathimah menyerahkan uang enam dirham itu kepada suaminya, yang segera saja pergi meninggalkan rumah.

Tetapi dalam perjalanan untuk membeli makanan itu, Ali bertemu seorang lelaki yang berkata,
“Siapakah orang yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih, Dzat yang selalu menepati janji??”
Tanpa berfikir panjang, Ali menyerahkan uang enam dirham hasil kerja istrinya itu kepada lelaki itu. Ia bukannya tidak ingat kalau keluarganya sedang kelaparan, terutama kedua anaknya yang masih kecil, tetapi demikianlah memang didikan dan contoh yang diberikan Rasulullah SAW. Bagi umumnya orang mungkin tidak mengapa jika mengurangi kadar atau kualitas dari yang dicontohkan Nabi SAW, sebatas kemampuan masing-masing, tetapi tidak bagi Ali. Sejak balita ia diasuh Nabi SAW, bahkan kemudian dinikahkan dengan putri kesayangan beliau, kalau ia bergeser terlalu jauh dari didikan Nabi SAW, tentulah telah menjadi kesalahan besar baginya.

Setelah itu Ali segera kembali ke rumah, dan Fathimah menyambutnya dengan menangis ketika melihatnya tidak membawa apa-apa. Ali berkata,
“Wahai wanita mulia, mengapa engkau menangis??”
Fathimah berkata,
“Wahai Ali, engkau pulang tanpa membawa sesuatu??”
Ali berkata,
“Wahai wanita mulia, aku meminjamkan uang itu kepada Allah!!”

Tanpa penjelasan lebih banyak, maklumlah Fathimah apa yang terjadi, maka ia berkata,
“Sungguh, aku mendukung sikapmu itu!!”

Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, Ali segera keluar rumah dengan maksud menemui Nabi SAW. Tetapi di tengah perjalanan ia bertemu seorang badui yang sedang menuntun seekor unta. Si Badui yang tidak dikenalnya itu berkata,
“Wahai Abul Hasan, belilah unta ini!!”
Ali berkata,
“Aku tidak mempunyai uang!!”
Si Badui itu berkata lagi,
“Belilah dengan tempo (pembayaran di belakang)!!”
Ali berkata,
"Berapa??”
“Seratus dirham!!” Kata si Badui itu.
“Baiklah,“ Kata Ali, “Kubeli seharga seratus dirham dengan tempo!!”

Si Badui menyerahkan unta tersebut kepadanya dan berlalu pergi. Ali tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan unta itu, tetapi ia menuntunnya begitu saja. Tetapi belum jauh berjalan tiba-tiba muncul seorang badui lain menghampirinya, dan berkata,
“Wahai Abul Hasan, apakah engkau ingin menjual unta ini?”
Tanpa berfikir panjang, Ali berkata, “Ya!!”
“Berapa??”
“Tiga ratus dirham!!” Kata Ali.
“Baiklah, kubeli seharga tiga ratus dirham!!”

Kemudian si Badui yang juga tidak dikenalinya itu membayar kontan tiga ratus dirham, dan membawa pergi unta tersebut. Ali sangat gembira, segera ia membeli beberapa bahan makanan untuk keluarganya kemudian pulang. Kali ini Fathimah menyambutnya dengan tersenyun, dan berkata,
“Wahai Abul Hasan, apa yang terjadi kali ini??”
Dengan gembira Ali berkata,
“Wahai putri Rasulullah, kubeli unta seharga seratus dirham dengan tempo, dan kujual lagi dengan kontan seharga tiga ratus dirham!!”
Fathimah berkata,
“Aku mendukung sikapmu itu!!”

Beberapa lama kemudian, Ali pergi menemui Nabi SAW sesuai dengan niat sebelumnya. Begitu ia masuk masjid, Nabi SAW tersenyum kepadanya dan bersabda,
“Wahai Abul Hasan, engkau yang bercerita, atau aku saja yang bercerita?”
Tanpa tahu maksudnya, Ali berkata,
“Wahai Rasulullah, engkau saja yang bercerita!!”
Nabi SAW bersabda, “Berbahagialah engkau, Abul Hasan, engkau telah meminjamkan enam dirham kepada Allah, maka Allah memberimu tiga ratus dirham. Setiap dirhamnya dibalas dengan lima puluh kali lipatnya. Orang Badui yang pertama menjumpaimu adalah Malaikat Jibril, sedang yang kedua adalah Malaikat Mikail!!”

Malaikat-malaikat yang membantu manusia, tentunya atas seijin dan perintah Allah SWT, mungkin tidak hanya terjadi pada Rasulullah SAW dan para sahabat beliau seperti kisah di atas, atau juga pada Perang Badar, Hunain dan beberapa peristiwa lainnya. Bisa saja itu terjadi di antara kehidupan kita sehari-hari, bisa dalam bentuk seseorang yang tidak dikenali, yang memberikan bantuan seperti peristiwa yang dialami oleh Ali bin Abi Thalib. Atau mungkin seseorang yang dikenali memberikan bantuan, tetapi sebenarnya ybs. tidak melakukannya. Hanya saja Allah memerintahkan malaikat untuk menyerupakan diri dengan orang tersebut untuk memuliakannya, seperti yang terjadi pada seorang tabi’in bernama Abdullah bin Mubarak. Wallahu A’lam.

Tawakalnya Seekor Semut



Allah SWT menganugerahi Nabi Sulaiman AS sebuah mu’jizat bisa berbicara dengan binatang, suatu ketika beliau bertemu seekor semut dan bertanya,
“Berapakah rezeki yang engkau perlukan untuk hidupmu setahun?”
Sang semut berkata,
“Sebutir gandum!”
“Hanya sebutir gandum?” Kata Nabi Sulaiman, hampir tidak percaya.
“Ya, hanya sebutir gandum!!” Kata sang semut menegaskan.

Nabi Sulaiman menempatkan semut tersebut dalam suatu wadah tertutup, dan memberikan sebutir gandum untuk keperluan hidupnya.

Setahun kemudian Nabi Sulaiman membuka wadah tertutup itu, dan beliau melihat gandum tersebut masih ada separuh, dan semut tersebut dalam keadaan sehat-sehat saja. Beliau berkata kepada sang semut,
“Engkau bilang jatahmu satu butir gandum setahun, mengapa masih ada separuhnya setelah setahun ini?”
Sang semut berkata,
“Kalau aku di luar sana, Allah yang menjamin rezekiku, dan aku bertawakkal kepada-Nya. Allah tidak akan pernah lupa dan lalai dengan rezeki yang menjadi bagianku. Karena engkau menempatkanku di tempat tertutup, dan engkau memaksa aku ‘tawakal’ kepada engkau, maka aku hanya memakan separuh jatahku. Aku tidak yakin apa engkau akan ingat kepadaku setelah setahun ini, karena itu aku mencadangkan separuhnya, kalau-kalau engkau lupa dengan jatahku!!”

Nabi Sulaiman bersujud dan mengucapkan kalimat-kalimat pujian akan Kebesaran dan Keadilan Allah.

Ujian Ciri Manusia Disayang Allah



Allah SWT memberikan ujian kepada manusia untuk mengetahui setiap kemampuan hamba-hambaNya dalam memecahkan permasalahan hidup, baik masalah harta, anak, keluarga, tempat kerja, ataupun masalah-masalah lainnya.

Allah SWT berfirman,
”Dan sungguh, Kami benar-benar menguji kalian dengan sedikit dari rasa takut, lapar, krisis moneter, krisis jiwa dan krisis buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innalilahi wa ina ilaihi rajiun (Kami milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kami akan kembali)’
Merekalah orang-orang yang mendapatkan keberkahan dan kasih sayang dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk,”
(QS. Al Baqarah:155-157).

Bahkan Nabi SAW bersabda:
“Sungguh, besarnya pahala bersamaan dengan besarnya cobaan. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang rela, maka baginya ridhaNya, dan barang siapa yang benci, maka ia akan mendapatkan kebencianNya,” (HR. At Tirmidzi).

Ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil pelajaran apabila kita ditimpa musibah atau ujian hidup:
  1. Berdasarkan hadits Nabi SAW diatas yang berbunyi, “…Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. ..” -Maka hal ini menandakan bahwa setiap ujian manusia terima adalah sebagai wujud kasih sayang Allah SWT kepada hambaNya.
  2. Dengan adanya ujian hidup membuat diri kita semakin bersabar. Sebagaimana dalam firman Allah SWT:
    “Adakah kalian mau bersabar?”, (QS. Al Furqon : 20).
    Artinya bahwa Allah memberikan ujian itu ingin melatih kebiasaan kita agar belajar bersabar.
  3. Melatih kita untuk belajar bersyukur. Hal ini seperti dijelaskan dalam firman Allah SWT (QS. Ibrahim: 7).

Wallahu’alam

Kata-Kata Mutiara Dari Bung Karno Dan RA. Kartini


1401. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

1402. Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak- banyak keringat.

1403. Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakasnya Tuhan, dan membuat kita menjadi hidup di dalam rokh.

1404. Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali.

1405. Merdeka hanyalah sebuah jembatan. Walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua; satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!.

1406. Kita adalah bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tak akan mengemis, kita tak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka dari pada makan bestik tetapi budak. 

1407. Barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.
1408. Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya, Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.

1409. Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.

1410. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.

1411. Saya katakan bahwa cita-cita kita dengan keadilan sosial ialah satu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat industri, alat-alat tehnologi yang sangat modern. Asal tidak dikuasai oleh sistem kapitalisme.

1412. Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.

1413. Tuhan tidak merubah nasib suatu bangsa, sebelum bangsa itu merubah nasibnya.

1414. Tidak seorang pun yang menghitung-hitung; berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya.

1415. Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

1416. Gantungkan cita'citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.

1417. Nasionalisme eropa adalah satu nasionalisme yang bersifat serang menyerang. Satu nasionalisme yang mengejar keperluan Beograd. Satu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi. Nasionalisme semacam itu pastilah salah, pastilah binasa.

1418. Sosialisme berarti adanya pabrik yang kolektif, adanya industrialisme yang kolektif, adanya produksi yang kolektif, adanya distribusi yang kolektif, adanya pendidikan yang kolektif.

1419. Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.

1420. Apakah kelemahan kita? Kelemahan kita ialah kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong.

1421. Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.

1422. Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu; "Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim" Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya.

1423. Dari sudut positif, kita tidak bisa membangunkan kultur kepribadian kita dengan sebaik-baiknya kalau tidak ada rasa kebangsaan yang sehat.

1424. Tetaplah bersemangat, Elang Rajawali!

1425. Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?

1426. Seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat yang sedikit. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek.

1427. Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.

1428. Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaran.

1429. Aku lebih suka lukisan samudra yang gelombangnya memukul, menggebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentram.


RA. Kartini

1430. Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu- satunya hal yang benar- benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.

1431. Habis gelap terbitlah terang.

1432. Saat membicarakan orang lain Anda boleh saja menambahkan bumbu, tapi pastikan bumbu yang baik.

1433. Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai.

1434. Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tidak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang.

1435. Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.

1436. Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen, Buddha, Brahma, Yahudi, Islam? bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.

1437. Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.

1438. Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! 2 patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata "Aku tidak dapat!" melenyapkan rasa berani. Kalimat "Aku mau!" membuat kita mudah mendaki puncak gunung.

1439. Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia.

1440. Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain.

1441. Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.

1442. Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbullah angan-angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah.

1443. Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.

1444. Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.

1445. Tak peduli seberapa keras kamu mencoba, kamu tidak akan pernah bisa menyangkal apa yang kamu rasa. Jika kamu memang berharga di mata seseorang, tidak ada alasan baginya untuk mencari seorang yang lebih baik darimu.

1446. Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti dua orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.

1447. Tetapi sekarang ini, kami tiada mencari penglipur hati pada manusia. Kami berpegangan teguh pada tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.

1448. Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya, baik tidak terpaksa baik pun karena terpaksa. Haruslah juga segan menyakiti mahkluk lain, sedikitpun jangan sampai menyakitinya. Segenap cita-citanya kita hendaklah menjaga sedapat-dapat yang kita usahakan. Supaya semasa mahkluk itu terhindar dari penderitaan, dan dengan jalan demikian menolong memperbagus hidupnya: Dan lagi ada pula suatu kewajiban yang tinggi murni, yaitu "terima kasih" namanya.

1449. Adakah yang lebih hina, daripada bergantung kepada orang lain?

1450. Adakah yang kebih hina dari pada tergantung pada orang lain?

Hanzhalah Bin Rabi RA



Abu Rib'i Hanzhalah bin Rabi RA adalah salah satu dari beberapa juru tulis Nabi SAW. Suatu ketika ia bertemu dengan Abu Bakar yang menanyakan keadaannya, ia berkata,
"Hanzhalah telah munafik!!"
"Subkhanallah," Kata Abu Bakar, "Apa yang kau katakan, wahai Hanzhalah…!!"
Hanzhalah berkata lagi, "Kalau aku sedang di hadapan Rasulullah SAW, dan beliau menceritakan tentang surga dan neraka maka seakan-akan aku melihat dengan mata kepalaku. Tetapi jika aku keluar dari hadapan beliau dan bergaul dengan istri dan anak-anak serta menghadapi berbagai urusan lainnya, aku jadi lupa…."
"Demi Allah, aku juga seperti itu…" Kata Abu Bakar.

Mereka berdua sepakat pergi kepada Nabi SAW untuk menanyakan masalah tersebut. Tiba di hadapan beliau Hanzhalah berkata, "Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah munafik!!"
"Kenapa demikian?" Tanya Nabi SAW.

Hanzhalah menjelaskan apa yang dirasakan dan dialaminya, dan juga dikuatkan dengan Abu Bakar. Dengan tersenyum Nabi SAW bersabda,
"Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, seandainya kamu sekalian bisa tetap keadaannya seperti ketika di hadapanku, dan selalu mengingat-ingatnya, pastilah para malaikat akan menjabat tanganmu di tempat-tempat tidur kalian dan juga di jalan-jalan. Wahai Hanzhalah, sesaat dan sesaat, sesaat dan sesaat, sesaat dan sesaat…!"

Nabi SAW pernah mengirim Hanzhalah ke Thaif untuk mendakwahi mereka, tetapi mereka menangkap dan mengurungnya. Beliau berkata,
"Siapa di antara kalian yang bisa menyelamatkan Hanzhalah, ia akan memperoleh ganjaran sebagaimana yang diperoleh sewaktu keluar ghuzwah (mengikuti pasukan)…"

Ketika tidak ada sahabat yang bangkit, paman beliau, Abbas bin Abdul Muthalib menyanggupinya. Dan ia berhasil membawa kembali Hanzhalah kepada Nabi SAW, walaupun penduduk Thaif berusaha menghalanginya, bahkan melemparinya dengan batu.